Wregas Bhanuteja, Sutradara yang Berjaya di Cannes
LOGO COSMOPOLITAN INDONESIA
Fri, January 20, 2017

Wregas Bhanuteja, Sutradara yang Berjaya di Cannes

Wregas Bhanuteja, Sutradara yang Berjaya di Cannes

Ada kelegaan ketika nama Indonesia akhirnya menggaung di Cannes Film Festival. Adalah Wregas Bhanuteja, sutradara muda yang berhasil mengangkat nama Indonesia di festival film bergengsi ini. Simak wawancara seru Editor Cosmo, Salli Sabarrang dengan sutradara film Prenjak berikut.

Apa sih inti cerita dari Prenjak?
Secara garis besar, film ini bercerita tentang seorang wanita yang sangat membutuhkan uang lalu dia mengajak seorang pria – teman kerjanya – untuk ngobrol di dalam gudang di gang belakang kantor mereka. Lalu dia bilang “Saya punya korek api, satu batang harganya Rp10.000,-, apakah kamu mau membelinya?”

Sang pria bertanya untuk apa korek api semahal itu? Lalu sang wanita menjawab “Dengan korek api ini, kamu bisa melihat salah satu anggota tubuhku.” Setelah berpikir sejenak akhirnya si pria membeli korek api tersebut dan melihat bagian intim teman wanitanya itu.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan melalui Prenjak?
Saya selalu kagum ketika melihat seorang wanita yang berjuang sendiri dengan hidupnya. Dia selalu bekerja ekstra keras dan harus menghidupi anaknya tanpa kehadiran pasangan. Jadi pesan dari film ini sendiri adalah bagaimana besarnya kekuatan seorang wanita untuk berjuang dalam menghidupi keluarganya.

Di film Prenjak, ada scene yang memperlihatkan bagian genital wanita. Sedangkan di Indonesia sendiri ada batasan-batasan yang melarang hal tersebut untuk dipertontonkan kepada khalayak umum. So far, adakah masalah atau tanggapan negatif yang Anda dapatkan?
Premiere Prenjak memang diadakan bukan di Indonesia, melainkan di Cannes, dan pada saat itu memang tidak masalah. Bahkan film-film yang diputar di Cannes jauh lebih vulgar. Tetapi saat pulang ke Indonesia, saya sempat khawatir apakah film ini boleh diputar di festival atau ruang-ruang komunitas. Ternyata Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Perfilman Indonesia mendukung saya untuk memutarkan versi original.

Sampai saat ini, saya selalu memutar versi uncensored karena saya juga tidak pernah berniat memasukkan film ini di bioskop ataupun di televisi, yang mana pasti film ini harus di-cut. Prenjak memang dibuat untuk diputar di ruang-ruang kebudayaan dengan penonton yang terbatas.

Bagimana batasan pornografi untuk Anda sebagai sutradara?
Saya memandang pornografi atau kevulgaran sebagai sesuatu yang tidak memiliki batas, sedangkan kita sebagai sutradara ingin menyampaikan cerita ini kepada siapa. Jadi kita memang harus sudah paham ada orang-orang dalam kategori tertentu yang belum bisa menerima pornografi seperti ini.

Saya sendiri sebagai sutradara melihat pornografi sebagai dunia tanpa batas ketika saya menyampaikan hal tersebut pada orang yang tepat. Makanya setiap kali memutarkan film ini, saya selalu mencantumkan batasan umur 17 tahun ke atas. Kembali lagi kepada film adalah potret dari sebuah realita, sehingga jika pornografi digunakan sebagai pengantar untuk mengungkapkan sebuah pesan atau ide dari sebuah gagasan maka menjadi hal yang harus disampaikan.

Mulai dari Lemantun hingga Prenjak, semua film Anda sepertinya menggunakan Bahasa Jawa. Apa yang membuat Bahasa Jawa menarik bagi Anda?
Setiap film yang saya buat memang begitu kental dengan Bahasa Jawa. Karena saya tumbuh besar di Yogyakarta, jadi dialog Jawa menjadi sangat melekat. Di kehidupan sehari-hari pun saya sangat jarang memakai Bahasa Indonesia, pasti selalu memakai Bahasa Jawa kecuali di acara formal ya.

Hal ini menjadi sangat melekat dalam diri saya, seperti ada hal yang tertahankan ketika menggunakan Bahasa Indonesia. Sehingga ketika saya mencoba menggunakan Bahasa Indonesia di dalam film terkesan sangat kaku, mulai dialog hingga penyutradaraan pemainnya. Mungkin beberapa tahun ke depan saya akan memakai Bahasa Indonesia dalam film.

Apakah Bahasa Jawa ini mendapat perhatian khusus di Cannes Film Festival?
Awalnya saya khawatir ketika jokes dalam dialog Jawa nantinya tidak bisa klik atau ditangkap oleh orang-orang luar, khusunya saat mengikuti Cannes, karena jokes lokal pastinya berbeda jika yang melihat adalah orang di luar lingkup tersebut. Tapi ternyata mereka tertawa – walau ada beberapa Bahasa Jawa yang terasa aneh ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Ya mungkin mereka bisa menangkap itu semua dari bahasa gambar. Di sini bahasa visual berperanan penting.

Menurut Anda apa keunggulan Prenjak dari film lainnya sehingga bisa berjaya di Cannes?
Saya mengutip apa yang dikatakan juri pada saat malam awarding. Mereka berkata seperti ini, “Film Prenjak adalah film yang sangat poetic.” Di awal, Prenjak berhasil membuat mereka tertawa. Para juri tidak menyangka bahwa ternyata ada wanita yang ingin dilihat bagian vitalnya hanya dengan sebatang korek api. Sampai akhirnya ketika film ini memperlihatkan bagaimana wanita yang menjadi tokoh utama hidup dan merawat anaknya sendiri dan ini berhasil membuat juri menangis.

Prenjak menggambarkan kebiasaan masyarakat Yogyakarta yang melihat sebuah peristiwa kepedihan dan penderitaan sebagai sesuatu yang tidak harus dilalui dengan depresi. Itulah alasan mengapa kelima juri tersebut memutuskan Prenjak sebagai pemenang di Cannes Film Festival.

Apakah Anda sudah menduga jika akan menang?
Terus terang saya sempat merasa kecil hati ketika melihat 10 film yang juga masuk nominasi Cannes. Mereka menggunakan kamera yang lebih canggih dan memang sering digunakan untuk shooting layar lebar, budget yang mereka gunakan juga jauh lebih besar, artistiknya pun lebih terkonsep.

Jadi pada saat malam awarding, yang ada dipikiran saya adalah kata-kata apa yang harus saya posting di Facebook ketika saya kalah. Dan para juri dan MC di sana berbicara menggunakan Bahasa Prancis sehingga saya tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Sampai akhirnya mereka menyebutkan Prenjak sebanyak dua kali, dari situ saya sadar bahwa film ini memenangkan Cannes.

Menurut Anda apakah kualitas film Indonesia bisa bersaing dengan film dari negara lain?
Film Indonesia bisa kok bersaing dengan film luar negeri, tapi kuantitasnya masih sedikit. Dalam artian, jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Thailand, Filipina, Korea, dan Jepang yang secara konsisten bisa menghasilkan sutradara atau film baru yang ikut berkompetisi di festival film dunia. Setidaknya negara tersebut menyumbangkan tiga atau lima film setiap tahunnya.

Negara lain memang sudah memikirkan bahwa festival film internasional menjadi tempat untuk pengenalan budaya, tempat memasarkan film yang mereka produksi ke tempat yang lebih luas. Mereka sudah memiliki kesadaran itu, sehingga mereka sudah mengagendakan dan memiliki target agar filmnya diputar dan berjaya di festival internasional. Nah, sayangnya Indonesia belum memiliki agenda semacam itu.

Selama ini Anda berada di track film pendek. Tidak ada niat untuk mencoba film panjang?
Sebenarnya saat ini saya sedang dalam proses penulisan film panjang pertama dengan proses pengembangan skenario. Bulan Desember lalu, saya berangkat ke Paris untuk melakukan development. Walapun Paris bukan setting dari film ini, tapi Paris menfasilitasi saya untuk bimbingan dan mendapatkan masukan dari beberapa penulis skenario juga sutradara.

Setiap sutradara pasti mempunyai karakter masing-masing. Kalau Anda membangun karakter seperti apa dalam penyutradaraan?
Saya pribadi tidak begitu suka mengangkat isu-isu politik atau ekonomi dari sebuah negara. Saya lebih suka mengangkat bagaimana seseorang mengalami proses psikologisnya. Bagaimana kehidupan personal, perasaan, hingga batin yang ia rasakan. Dan ketika ditanya topik apa yang paling concern untuk saya gali adalah pembunuhan karakter.

Ketika seserang kehilangan jati diri karena masyarakat di sekitarnya itu memberikan bullying kepada dia. Ya tidak harus bersifat fisik, tapi lebih ke cemohan atau hinaan sehingga dia merasa minder atau depresi. Film-film saya cenderung berkutat di daerah ini, di mana pembunuhan karakter menjadi suatu hal yang sangat sadis dan membuat harapan serta cita-cita seseorang itu hilang.

(Salli Sabarrang/VP/Image: dok.Cosmo & instagram @Wregasbhanuteja)

 

BACA JUGA: 

15 Film Legendaris Yang HARUS Anda Tonton

7 Film Horor Klasik yang Harus Ditonton Halloween Ini

Daftar Film Disney yang Rilis Tahun 2017

8 Film Romantis Sepanjang Masa Versi Cosmo

Tags : Prenjak, Wregas Bhanuteja, Cannes Film Festival, Sutradara Indonesia
RELATED ARTICLE
Mariah Carey Konfirmasi Pacaran Dengan Penari Latarnya
Mariah Carey Konfirmasi Pacaran Dengan Penari Latarnya
It Ain't No Lie, NSYNC Akan Reuni Tahun Ini!
It Ain't No Lie, NSYNC Akan Reuni Tahun Ini!
Meski Sudah Menikah, Seleb Ini Tidak Pakai Cincin Kawin
Meski Sudah Menikah, Seleb Ini Tidak Pakai Cincin Kawin