Perempuan Perempuan Chairil: Empat Cinta Sang Penyair
LOGO COSMOPOLITAN INDONESIA
Mon, November 13, 2017

Perempuan Perempuan Chairil: Empat Cinta Sang Penyair

Perempuan Perempuan Chairil: Empat Cinta Sang Penyair

Cinta dan perempuan begitu lekat dalam karya-karya Chairil Anwar. Dan, pada pementasan Perempuan Perempuan Chairil, empat cinta yang begitu bermakna dalam hidup sang penyair dihadirkan lewat lakon teater yang apik.

 

Bahkan sejak tirai panggung dibuka, Chairil sudah mengelu-elukan sosok perempuan. Meski, perempuan pertama yang muncul dalam pementasan pada 11 dan 12 November 2017 di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki tersebut adalah perempuan malam –seorang prostitusi. Chairil, yang diperankan oleh Reza Rahadian, memang terkenal sebagai seseorang yang pandai merebut hati perempuan. Womanizer pada masanya di era 1940an. Namun, pementasan yang disutradarai oleh Agus Noor dan dipersembahkan oleh Titimangsa Foundation dan didukung Bakti Budaya Djarum Foundation ini bukan cuma soal perempuan yang pernah “mampir” di hati Chairil. Perempuan Perempuan Chairil justru menceritakan sosok sang penyair legendaris itu sendiri.

 

[ BACA JUGA: Reza Rahadian Akan Berperan Jadi Penyair Chairil Anwar! ]

 

Empat Perempuan dalam Empat Babak

Selama kurang lebih dua jam, penonton dipertemukan dengan empat perempuan: Ida, Sri, Mirat, dan Hapsah. Empat perempuan yang tak sama, lewat empat cerita yang berbeda. Meski begitu, keempatnya bisa menggambarkan sosok perempuan pada zaman itu. Juga, bagaimana mereka dapat menceritakan karakter Chairil. Pementasan yang terinspirasi dari buku Chairil karya Hasan Aspahani ini mengambil pendekatan biografi puitik. Dalam dialog, penonton bisa menemukan potongan-potongan sajak Chairil dari puisi-puisi populernya.

 

 

Ida jadi “cinta pertama” Chairil dalam pementasan ini. Mahasiswi berdarah Batak yang juga seorang penulis hebat dan pemikir kritis itu diperankan oleh Marsha Timothy. Dalam lakon, digambarkan kalau Ida adalah perempuan yang bisa menyaingi intelektualitas Chairil. Perdebatan mereka bukan soal perasaan, justru soal ide. Di tangan Marsha dan Reza, perdebatan Ida dan Chairil begitu seru dan mengalir. Namun, Ida yang cerdas tidak mudah terbawa oleh buaian puitis Chairil. Malah, Ida terkesan acuh. “Kamu mengejar banyak perempuan, tetapi tidak pernah menangkap hatinya,” begitu kata Ida pada Chairil. Berapa kali pun Chairil menggodanya, Ida tak kunjung luluh. Lalu, cinta mereka pupus.

 

 

Di tengah kesedihan yang dalam, Chairil bertemu dengan Sri. Inilah cinta Chairil yang berikutnya. Sri, yang kecantikannya dapat membuat lelaki manapun bertekuk lutut, adalah keturunan ningrat. Tapi Sri, yang dimainkan oleh Chelsea Islan, tak pernah membeda-bedakan kawan. Meski begitu, cinta mereka berakhir platonic. Memang, pada babak ini, mereka berdua saling menggoda tetapi selalu ada jarak di antara mereka. Chelsea dan Reza memperlihatkan kalau kedekatan mereka hanya kawan, tidak pernah sebagai sepasang kekasih. Sri sendiri tidak pernah tahu perasaan Chairil, hingga akhir hayat Chairil. Senja di Pelabuhan Kecil lalu menjadi karya Chairil yang menceritakan kisah mereka.

 

 

Kemudian, hadir Mirat. Cinta Chairil yang paling menggebu-gebu dan bergairah. Tidak seperti perempuan lainnya, Mirat menerima dan membalas cinta Chairil dengan sama besarnya. Hanya saja, Mirat meminta Chairil menikahinya. Sesuatu yang pada waktu itu enggan dia lakukan karena takut kemerdekaannya terenggut. Lagi-lagi Chairil harus patah hati. Adalah Tara Basro yang memerankan wanita terdidik nan lincah itu. Walaupun sosok Mirat yang upfront mampu dimainkan Tara dengan baik, Tara terlihat belum dapat menyampaikan dialognya dengan intonasi yang tepat. Sehingga, potongan puisi Chairil dalam dialog Mirat jadi terlewat begitu saja.

 

 

Cinta terakhir Chairil adalah Hapsah, yang kemudian menjadi istri dan ibu dari anak penyair tersebut. Hapsah hanyalah perempuan biasa. “Malah terlampau biasa”, kata Hapsah ketika menggambarkan dirinya bagi Chairil. Mereka selalu bertengkar. Chairil merasa Hapsah tidak bisa memahaminya, begitu pula sebaliknya. Dalam pertengkaran mereka Hapsah berkata, “Aku tahu kau kesepian Chairil. Tapi hati perempuan yang tak dimengerti, lebih sepi dari kesepian apapun...” Berkat penggambaran tanpa cela oleh Sita Nursanti, Hapsah yang lugu dan biasa-biasa saja tersebut jadi punya makna tersendiri. Memang Hapsah hanya seorang 'gajah' bagi Chairil–begitu Chairil memanggil istrinya yang bertubuh tambun tersebut—tetapi dialah rumah bagi sang penyair. Perempuan yang mengingatkannya pada sang ibu, sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.

 

 

Chairil dan Pergolakkannya

Chairil memang bukan laki-laki biasa. Buatnya uang itu tidak penting, hidup itu harus merdeka, dan –sesuai dengan sajak yang dia tulis–cinta adalah bahaya yang lekas pudar. Sosok Chairil yang kompleks bahkan terkesan sulit dimengerti tersebut dibawakan dengan baik oleh Reza Rahadian. Oleh penggambaran Reza, lakon ini bukan cuma memperlihatkan sisi jalang Chairil saat bersama kekasih-kekasihnya. Perempuan Perempuan Chairil adalah kegelisahan hidup dan pemikiran Chairil, serta pertaruhan semasa hidupnya yang hanya mencapai usia 27 tahun. (Hana Devarianti/SW/Image: DOK. Titimangsa Foundation)

Tags : Perempuan Perempuan Chairil Empat Cinta Sang Penyair
RELATED ARTICLE
COCO, Film Terbaru Disney dan Pixar Dengan Tema Meksiko
COCO, Film Terbaru Disney dan Pixar Dengan Tema Meksiko
Penutup Manis Kisah Sie Jin Kwie dari Teater Koma
Penutup Manis Kisah Sie Jin Kwie dari Teater Koma
Review Justice League, Menghibur dan Tidak Mengecewakan
Review Justice League, Menghibur dan Tidak Mengecewakan