Rendy Pandugo Bicara Soal Musik dan Wanita
LOGO COSMOPOLITAN INDONESIA
Wed, September 6, 2017

Rendy Pandugo Bicara Soal Musik dan Wanita

Rendy Pandugo Bicara Soal Musik dan Wanita

Sosoknya yang cool dengan suara super merdu berhasil “menghipnotis” Cosmo. Tidak percaya? Coba saja dengarkan lagu I don't Care milik Rendy Pandugo di Youtube. You're gonna love it!

Cosmo: Sejak kapan sih tertarik dengan musik?
Rendy: Sejak kelas 4 SD, saya sudah interest dengan dunia musik tapi baru tertuangkan saat umur 12 tahun.

Cosmo: Apakah keluarga Anda memiliki background musik?
Rendy: Tidak, saya adalah satu-satunya orang yang tertarik dan memiliki bakat di dunia musik.

Cosmo: Banyak orang mengatakan bahwa Anda adalah John Mayer-nya Indonesia. Pendapat Anda?
Rendy:
Awalnya sih tersanjung tapi makin lama rasanya bosan juga dipanggil seperti itu. Tapi saya menanggapinya positif saya, setidaknya saya masih dibandingkan dengan sesuatu yang baik.

Cosmo: Album Anda akan segera rilis, beri bocoran dong buat para pembaca Cosmo.
Rendy:
Intinya album ini menggambarkan perjalanan musikalitas saya.

 

[BACA JUGA: Marshall Sastra: Saya Sebenarnya Bukan Pria Seksi

 

Cosmo: Apakah lagu-lagu di album tersebut Anda tulis sendiri?
Rendy:
Ada yang saya tulis sendiri dan ada juga yang co-writing dengan musisi lain. Ada beberapa musisi dari Indonesia ada Leody Akbar juga Gabriele Mayo. Kemarin saya juga sempat berkolaborasi dengan komposer asal Swedia.

Cosmo: Apakah semua lagu di album ini berbahasa Inggris?
Rendy:
Ya, semuanya menggunakan bahasa Inggris.

Cosmo: Apa Anda lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris?
Rendy:
Nggak juga sih, saya menggunakan bahasa Inggris karena janji pada pada diri saya sendiri bahwa jika punya kesempatan buat album solo, maka saya akan membuat sesuatu yang belum pernah saya buat sebelumnya yaitu album berbahasa Inggris. Jadi bukan karena saya tidak mau menulis lagu berbahasa Indonesia.

Cosmo: Sekarang sudah banyak platform digital untuk para pemusik seperti Soundcloud ataupun Youtube. Anda sendiri apakah pengguna aktif platform digital ini?
Rendy:
Saya melihatnya sebagai sesuatu hal yang menjembatani para musisi dunia, baik dari DJ, pemusik blues, jazz, juga pop. Mereka yang tidak pernah kelihatan ataupun kedengaran muncul di Youtube dan Soundcloud akhirnya jadi banyak masyarakat yang tahu. Dan saya adalah salah satu yang berangkat dari situ, yaitu Soundcloud.

 

[BACA JUGA: Wregas Bhanuteja, Sutradara yang Berjaya di Cannes]

 

Cosmo: Saat terjun ke dunia musik apakah Anda sempat mengalami kesulitan?
Rendy:
Naik turun, seperti waktu saya masih bergabung dengan Band Dida dulu. Semuanya berjalan mulus tapi saat ingin meluncurkan album malah terhambat karena saat itu Indonesia sedang latah boyband makanya project-nya tidak berjalan akhirnya di tahun 2015 saya memutuskan keluar. Dulu saya sempat ngamen di kafe-kafe. Tapi ya semuanya proses pembelajaran, saya tidak bilang ini adalah kesulitan. Terus terang ini adalah suatu hal yang saya banggakan karena tanpa pengalaman dan fase ini saya tidak belajar.

Cosmo: Seberapa penting passion dalam hidup Anda?
Rendy:
Sangat penting. Satu hal yang paling saya syukuri saat ini adalah bisa bekerja di bidang yang saya inginkan tanpa mengeluh sama sekali. Kalau bilang capai sih standar ya tapi saya tidak pernah menggerutu juga merasa berat untuk menjalaninya. Seperti orang yang harus ke kantor, sorry to say saya tidak. Tanpa mendiskreditkan orang yang ngantor, tapi saya merasa bekerja di dunia musik adalah passion saya.

Cosmo: Punya tip untuk fun fearless female agar bisa bekerja sesuai dengan passion mereka?
Rendy:
Anda harus konsisten. Kalau memang merasa belum maksimal ya jangan berhenti. Tapi ingat, ketika Anda merasa sudah maksimal dan sudah waktunya untuk putar balik atau lari ke tempat lain ya itu alarm kita masing-masing.

Cosmo: Pernah mengalami crazy fan moment?
Rendy: So far sih masih normal. Selama ini saya belum pernah merasa terganggu dan untungnya mereka juga mengerti kalau saya tidak membalas message atau comment di media sosial mungkin karena saya sedang sibuk.

 

[BACA JUGA: Chelsea Islan Bicara Tentang Women Empowerment]

 

Cosmo: Oh ya, punya lagu rekomendasi untuk pembaca Cosmo yang sedang sering Anda dengarkan?
Rendy:
Akhir-akhir ini sering sekali mendengarkan Bruno Major. Semua albumnya perfect! Coba deh dengar Easily dan Like Someone in Love.

Cosmo: Pernah menangis karena wanita?
Rendy:
Pernah, hahaha.

Cosmo: Pilih diputusin atau mutusin?
Rendy:
Susah ya, diputusin ajah deh karena mungkin dengan begitu saya bisa bikin lagu. Ya jadinya hal positif.

Cosmo: Pernah bikin lagu untuk seorang wanita?
Rendy:
So far belum pernah.

Cosmo: First move ketika sedang naksir wanita?
Rendy:
Sejujurnya saya sudah lama tidak melakukan hal seperti ini. Tapi satu hal yang saya setuju adalah ketika Anda mulai suka dengan wanita jangan sampai Anda terkesan sedang flirting. Tapi coba untuk seolah-olah menjadi teman saja.

Cosmo: Apakah Anda pria yang sangat peduli dengan fashion?
Rendy:
Saya cukup mementingkan fashion tapi bukan pria yang terlalu fashionable.

 

[BACA JUGA: 9 Hal Yang Anda Tidak Tahu Tentang Asmara Abigail]

 

Cosmo: Fashion item andalan Anda?
Rendy:
Saya pemakai T-shirt. Hampir di setiap kesempatan saya selalu memakai T-shirt. Saya jarang memakai sesuatu hal yang berkerah, mungkin karena leher saya pendek. Buat saya T-shirt adalah salah satu item yang tergolong fashionable sejak dulu hingga sekarang. Oh ya, saya juga suka memakai jam tangan.

Cosmo: Wanita fashionable menurut Anda seperti apa?
Rendy:
Tahu mana yang cocok untuk dia. Tak perlu berlebihan seperti memakai premium brand. Kalau saya sih tidak peduli dengan hal seperti itu karena bagi saya kalau sudah proporsional di tubuh dia pasti akan terlihat sempurna di mata saya.

(Salli Sabarrang / FT / Image: dok.Cosmo)

Tags : rendy pandugo, musisi, musik,
RELATED ARTICLE
Justin Bieber dan Selena Gomez Tertangkap Ciuman
Justin Bieber dan Selena Gomez Tertangkap Ciuman
6 Fakta Pemeran The Flash di Justice League
6 Fakta Pemeran The Flash di Justice League
Arifin Putra Anggap Piala Penghargaan Sebagai Pecutan
Arifin Putra Anggap Piala Penghargaan Sebagai Pecutan