Hip Hop X Dangdut: Cara Gen Z Melestarikan Budaya dengan Modern
Bagi generasi Z di Indonesia, cara melestarikan budaya tak melulu soal mengikuti tradisi dengan cara yang kaku, namun dengan mengekspresikan jati diri dengan modern. Gen Z sadar bahwa budaya yang diekspresikan ulang dengan sentuhan playfulness dan personal akan lebih relevan di masa kini. Cosmo Babes tentu masih ingat pada tren ‘Berkain’ yang naik daun sekitar 5 tahun yang lalu yang melestarikan pemakaian kain indonesia dalam outfit sehari hari. Nah, dengan spirit yang sama kini hadir di dunia musik lewat satu genre yang lagi ramai diperbincangkan: Hipdut.
Hipdut atau Hip Hop Dangdut menjadi simbol bagaimana generasi muda memaknai dan memanfaatkan akar musik lokal tanpa meninggalkannya di masa lalu. Sesuai dengan namanya Hipdut merupakan perpaduan antara elemen hip-hop dan dan dangdut yang dikemas dengan rasa yang kekinian. Selain memodernisasikan aliran musik dangdut, kehadiran genre Hipdut juga menciptakan lahan baru bagi ekspresi musik Gen Z.
Sebenarnya Babes, eksplorasi genre ini serupa bukan hal yang baru. Musisi seperti NDX AKA sudah lama memadukan rap berbahasa Jawa dengan kendang, suling, dan irama dangdut. Namun, Hipdut baru mulai mencuri perhatian publik setelah istilahnya diperkenalkan lewat lagu berjudul “Garam dan Madu” yang dirilis pada akhir tahun 2024 oleh Tenxi, Naykilla, dan Jemsii.
Perpaduan rap yang ritmis, beat elektronik yang punchy, dengan kendang koplo dan melodi Melayu terasa effortless di telinga anak muda. Liriknya pun menggunakan bahasa sehari-hari yang super relatable seperti tentang cinta, realita hidup, sampai keresahan kecil yang sering muncul di timeline. Ditambah dengan unsur visual juga stage act yang apik juga mengikuti tren dari gen Z yang sangat dekat dengan budaya digital dan media sosial. Tak heran lagi jika lagu “Garam dan Madu” memenangkan kategori Karya Produksi Terbaik di AMI Awards 2025. Good job team!
Yang membuat hipdut terasa spesial bukan cuma soal bunyinya, tapi juga konteks sosial di balik kemunculannya. Gen Z adalah generasi yang tumbuh di era global, di mana referensi budaya datang dari mana saja. Mulai dari pengalaman sehari hari hingga algoritma media sosial. Dalam kondisi ini, hipdut hadir sebagai middle ground: global di rasa, lokal di identitas. Dangdut yang dulu kerap dilabeli “musik orang tua” kini kembali relevan, bukan lewat nostalgia, tapi lewat transformasi.
Hipdut membuktikan bahwa budaya bisa hidup berdampingan dengan tren, tanpa kehilangan jati diri. Bahkan, genre ini membuka ruang kolaborasi lintas komunitas antara pendengar hip-hop, dangdut, hingga penikmat pop urban. Lebih dari sekadar genre, hipdut menjelma jadi statement kultural: bahwa melestarikan budaya bukan berarti membekukannya, melainkan memberinya ruang untuk tumbuh, berubah, dan bersuara dengan cara baru. Dan untuk Gen Z, cara ini terasa paling jujur dan relevan. Budaya yang bisa dinikmati sambil scrolling, joget kecil di kamar, atau dinyanyikan bareng teman tanpa merasa “terlalu serius.”