Berkenalan Dengan Inovasi Kulit Terbaru di Dior’s Skincare Summit Tokyo, Dior Capture

Astriana Gemiati 07 Jan 2026

Saat teknologi mutakhir mulai menyatu dengan ritual kecantikan sehari-hari, dunia beauty memasuki fase evolusi baru. Inilah yang menjadikan Dior’s Skincare Summit sebagai salah satu agenda paling dinanti tahun ini yang bukan sekadar peluncuran produk, melainkan ruang dialog eksklusif antara sains dan masa depan kecantikan.

Melalui generasi terbaru dari lini Dior Capture, konferensi ini menegaskan posisi Dior sebagai pionir skincare berorientasi longevity—sebuah pendekatan yang tidak hanya memperlambat, tetapi juga menantang batas penuaan kulit.

Dior’s Skincare Summit: Dialog Global tentang Regenerasi

Digelar selama satu hari di National Art Center, Tokyo, dan diikuti oleh Cosmo secara online, konferensi ini menghadirkan para ilmuwan internasional dengan perspektif baru tentang keterkaitan kesehatan, regenerasi, dan kecantikan. Setiap sesi membuka kemungkinan baru, bukan hanya untuk kulit, tetapi juga masa depan perawatan diri yang lebih holistik.

Dengan dukungan lebih dari 650 peneliti, lima pusat keahlian global, dan 300 paten, Dior Science terus mendorong batas ilmu pengetahuan demi satu misi: memperpanjang usia biologis kulit secara presisi.

Pada 2023, Dior mencatat sejarah sebagai rumah mode dan kecantikan pertama yang secara konkret memasuki ranah Reverse Aging pada kulit. Langkah ini diwujudkan melalui pembentukan Reverse Aging Scientific Advisory Board—sebuah kolektif ilmiah yang menyatukan 18 pakar internasional lintas disiplin melalui dermatologi, biologi sel, ilmu floral, hingga psikologi penuaan.

Dua belas di antaranya merepresentasikan 12 hallmarks of aging yang dipetakan oleh Carlos López-Otín, termasuk tokoh-tokoh terdepan seperti Professor Vittorio Sebastiano (Stanford), Professor Knut Woltjen (Kyoto), dan Professor David Furman (Stanford/Buck Institute).

Misinya? Memahami lebih dalam mekanisme penuaan kulit dan menciptakan kosmetik masa depan yang bukan hanya menunda tanda-tanda penuaan, tetapi juga secara nyata membalikkan efek waktu. Publikasi perdana mereka di Nature Aging menegaskan bahwa reverse aging pada kulit adalah bagian integral dari upaya melawan penuaan sistemik tubuh manusia.

Oksigen: Bahasa Baru Regenerasi Kulit

Selama 25 tahun, Dior meneliti skin stem cells dan menemukan satu poros utama regenerasi: respirasi seluler. Empat studi komplementer menunjukkan bahwa penuaan melemahkan proses ini: energi sel menurun, regenerasi melambat.

“Respirasi seluler, yang telah kami teliti selama bertahun-tahun, kini menjadi penggerak utama Reverse Aging pada kulit. Hasil luar biasa yang kami capai—baik pada tingkat seluler (stem cells, keratinocytes, fibroblasts, dan NK cells), jaringan (epidermis dan dermis), maupun molekuler (peningkatan kolagen) yang menegaskan peran krusial transport oksigen dalam membalikkan tanda penuaan. Inilah refleksi dari misi utama kami: menghadirkan terobosan Reverse Aging terkini demi longevity kulit, melalui formula yang semakin inovatif dan berperforma tinggi.” ujar Virginie Couturaud selaku Director of Scientific Communication, Dior.

Melalui OX-C Treatment, Dior membuktikan bahwa optimalisasi transport oksigen mampu bantu mengaktifkan kembali respirasi sel, meningkatkan performa mitokondria, merangsang produksi kolagen, serta merevitalisasi NK cells (Natural Killer cells) dalam membersihkan senescent skin cells. Regenerasi kini bukan lagi klaim, melainkan proses biologis yang terukur.

Dior Capture: Protokol Pro-Kolagen 24 Jam

Kolaborasi Dior dengan Profesor Knut Woltjen (CiRA Kyoto) mengungkap fakta krusial: sejak usia 25 tahun, respirasi sel induk kulit menurun hingga 40%. Dari sinilah lahir OX-C Treatment™, inti dari generasi terbaru Dior Capture Sérum, Crème Jour, dan Crème Nuit.

Memasuki 2026, Dior Capture memperkenalkan protokol pro-kolagen 24 jam dengan meningkatkan produksi kolagen di siang hari dan melindunginya di malam hari. Untuk melengkapi ritual siang hari, Dior menghadirkan dua versi baru Crème Jour: Crème Fine, bertekstur ringan untuk hidrasi segar dan elastisitas kulit. Dan, Crème Riche, lebih kaya lipid dan diperkaya oleo-ceramides yang bantu memperkuat skin barrier serta memberi efek kulit lebih bernutrisi dan bervolume.

Sedangkan Crème Nuit, diperkaya Prolatonine™, bekerja bantu menekan enzim perusak kolagen saat kulit memasuki fase degradasi alami di malam hari.

Hasilnya signifikan: kulit tampak lebih kencang hingga 70% saat Crème Jour dan Crème Nuit digunakan sebagai duo.

Charlize Theron, Wajah Ikonis Dior Capture

Dalam merayakan peluncuran rangkaian terbarunya, Dior Capture menghadirkan Charlize Theron sebagai representasi sosok perempuan modern yang kuat, berani, sekaligus elegan. Dipotret oleh fotografer ikonis Brigitte Lacombe, Charlize mampu memancarkan feminitas yang matang—sebuah refleksi dari filosofi Dior Capture yang percaya pada kekuatan kulit untuk terus beregenerasi di setiap fase kehidupan.

Wawancara Eksklusif Cosmo bersama Vittorio Sebastiano

Selain mengikuti Dior’s Skincare Summit, Cosmo juga berkesempatan berbincang langsung dengan Professor Vittorio Sebastiano—Associate Professor Stanford University, anggota Dior Reverse Aging Board, serta co-founder Turn Biotechnologies. Dikenal sebagai pionir cellular reprogramming, ia mengembangkan teknologi ERA (Epigenetic Reprogramming of Aging) untuk meremajakan sel tanpa mengubah identitas alaminya.

Simak obrolan lengkap Cosmo berikut ini.

Cosmo ( C ): Hi, Dr. Sebastiano! Bagaimana temuan terbaru dalam riset skin stem cells dan regenerative medicine menjadi dasar ilmiah bagi reformulasi Dior Capture, khususnya untuk mendukung peremajaan kulit jangka panjang?

Vittorio Sebastino (VS): “Ini pertanyaan yang sangat baik—dan juga sangat penting. Semakin dalam kita memahami bagaimana kulit menua, serta bagaimana berbagai teknologi mampu memengaruhi atau bahkan membalikkan proses penuaan tersebut, semakin besar pula potensi pengetahuan ini untuk dimanfaatkan dalam merancang molekul-molekul baru.

Pengetahuan tersebut memungkinkan kita tidak hanya menciptakan molekul baru, tetapi juga meninjau kembali ribuan molekul yang sudah ada, memilih mana yang memiliki karakteristik mampu meniru atau memperkuat efek regeneratif yang kita lihat dari teknologi lain. Memahami biologi kulit adalah hal yang fundamental. Namun yang tak kalah penting adalah memahami mengapa sebuah proses biologis terjadi. Ketika kita memahami alasannya, kita dapat merancang atau mencari molecular mimics yang mampu memberikan hasil serupa, bahkan mungkin lebih optimal. Itulah esensi dari fondasi ilmiah reformulasi ini.”

C: Jika kita melihat 10 tahun ke depan, terobosan apa yang Anda yakini akan menjadi game-changer dalam dunia skincare? Apakah riset yang dilakukan saat ini sudah mengarah ke sana?

V: “Menurut saya, sepuluh tahun ke depan akan menjadi era yang benar-benar revolusioner. Ada dua alasan utama. Pertama, teknologi untuk memahami proses penuaan berkembang dengan sangat cepat. Kita kini mampu bekerja hingga ke tingkat sel tunggal, bagaimana memahami keragaman proses penuaan secara jauh lebih detail, bahkan ‘memperbesar’ pengamatan hingga ke level yang sangat presisi.

Kedua, peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence. AI memungkinkan kita memproses volume data yang sangat besar dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa. Hasilnya, inovasi dapat terjadi secara jauh lebih cepat dan terakselerasi. Karena itu, saya yakin dekade mendatang akan menjadi periode yang transformatif, ya, bagi skincare, tentu saja, dan juga bagi riset regeneratif secara umum.”