31 Kutipan tentang Patah Hati untuk Temani Kamu Saat Move On
Salah satu hal paling menyakitkan dari patah hati adalah betapa sendirinya perasaan itu. Saat Anda berada di tengah-tengahnya, rasanya seperti Andalah satu-satunya manusia di dunia yang pernah merasakan hancur seperti ini—dan tak ada seorang pun yang benar-benar bisa memahami kedalamannya. Kabar baiknya? Itu sama sekali tidak benar. Saya memang tidak punya statistik pastinya, tapi rasanya aman untuk mengatakan bahwa hampir semua orang pernah mengalami patah hati setidaknya sekali seumur hidup.
Kabar yang lebih baik lagi? Sebagian dari mereka kebetulan adalah seniman, penulis, penyair, filsuf—para kreatif yang juga pernah remuk hatinya, lalu meninggalkan jejak renungan dan kebijaksanaan penuh luka. Dari sanalah lahir daftar kutipan patah hati terbaik sepanjang masa ini. Kalau Anda sedang merawat hati yang retak, kata-kata yang begitu relate ini mungkin bisa menjadi balsem kecil untuk jiwa Anda.
Entah Anda sedang berduka atas berakhirnya hubungan panjang, move on dari gebetan yang tak pernah membalas rasa, atau mencoba menata ulang hidup setelah sebuah situationship tiga bulan yang lebih dramatis dari kelihatannya—31 kutipan patah hati ini hadir untuk mengingatkan Anda bahwa Anda tidak sendirian. Mari bersulang untuk proses ini—karena ya, Anda pasti bisa melewatinya.
31 Kutipan Patah Hati
1. “Sepanjang sejarah, laki-laki mematahkan hati perempuan dengan pola yang sama. Mereka mencintai—atau setengah mencintai—lalu bosan dan perlahan menarik diri tanpa suara. Mereka mengeringkan diri, menghilang begitu saja, dan tak pernah menelepon lagi. Sementara itu, perempuan menunggu. Semakin besar cinta dan semakin sedikit pilihan yang dimiliki, semakin lama mereka menunggu, berharap dia kembali dengan ponsel hancur, wajah memar, dan berkata, Maaf, aku terkubur hidup-hidup dan satu-satunya yang kupikirkan adalah kamu. Aku takut kamu mengira aku meninggalkanmu, padahal yang terjadi hanyalah aku kehilangan nomormu—dicuri oleh orang-orang yang menguburku. Aku sudah mencarimu selama tiga tahun di buku telepon, dan akhirnya kutemukan kamu. Aku tidak menghilang. Semua perasaanku tidak pernah pergi. Kamu benar bahwa itu akan kejam, tak berperasaan, tak mungkin terjadi. Menikahlah denganku.”
—Lisa Taddeo, Three Women
2. “Dia begitu memesona dan, ya, aku mencintainya—dengan salah satu dari ribuan cara seseorang bisa mencinta. Aku tahu aku akan seribu kali berharap semuanya berakhir berbeda. Tapi aku juga tahu, jauh di dalam diriku, tidak akan ada akhir yang lembut.”
—Melissa Broder, The Pisces
3. “Dan kamu menghubungiku lagi hanya untuk menghancurkanku seperti janji yang kamu patahkan—begitu saja, sekejam itu, atas nama kejujuran. Aku seperti selembar kertas kusut di lantai, karena aku ingat semuanya, semuanya, semuanya dengan terlalu jelas.”
—Taylor Swift, “All Too Well”
4. “Hal paling mengerikan bukanlah patah hatinya—karena hati memang dibuat untuk patah—melainkan bagaimana patah hati itu mengubah hati menjadi batu.”
—Oscar Wilde, De Profundis
5. “Aku tidak mematahkan hatimu—kamulah yang melakukannya; dan dengan mematahkannya, kamu juga mematahkan hatiku.”
—Emily Brontë, Wuthering Heights
6. “Hati bisa patah. Ya, hati bisa patah. Kadang aku berpikir mungkin lebih baik jika kita mati saja saat hati itu patah—tapi kita tidak.”
—Stephen King, Hearts in Atlantis
7. “Mencintaimu seperti pergi berperang; aku tidak pernah kembali sebagai diri yang sama.”
—Warsan Shire
8. “Aku punya perasaan aneh tentangmu. Seolah ada seutas tali di bawah tulang rusuk kiriku, terikat erat pada tali milikmu. Dan jika kau pergi, aku takut tali itu akan putus. Aku bisa membayangkan aku akan berdarah dari dalam. Sementara kamu… kamu akan melupakanku.”
—Charlotte Brontë, Jane Eyre
9. “Cinta memang tak bisa dibeli—tapi Anda bisa membayar mahal karenanya.”
—Henny Youngman
10. “Ada sesuatu yang begitu suram dan kosong dari dunia yang kehilangan seseorang yang paling mengenal diri Anda.”
—Jodi Picoult, The Book of Two Ways
11. “Dan apakah luka twin flame itu juga membuatmu biru? Di antara kita saja, apakah kisah cinta ini juga melukaimu?”
—Taylor Swift, “All Too Well”
12. “Hatiku tak lagi terasa milikku. Rasanya seperti telah dicuri—diambil paksa oleh seseorang yang bahkan tidak menginginkannya.”
—Meredith Taylor, Churning Water
13. “Memikirkanmu adalah racun yang sering kupilih untuk kuminum.”
—Atticus
14. “Retaknya hati adalah suara paling sunyi—namun paling nyaring.”
—Carroll Bryant
15. “Cinta takkan tahu kedalamannya sampai tiba saat perpisahan.”
—Kahlil Gibran

16. “Sekarang aku akan duduk di lantai sambil memakai bajumu. Yang kutahu hanyalah aku tidak tahu bagaimana menjadi seseorang yang kamu rindukan.”
—Taylor Swift, “Last Kiss”
17. “Pada akhirnya, kesedihan adalah harga yang kita bayar untuk mencinta.”
—E.A. Bucchianeri, Brushstrokes of a Gadfly
18. “Luka di tubuh bisa sembuh, tapi luka di hati bertahan seumur hidup.”
—Mineko Iwasaki
19. “Patah hati itu bukan untuk dilupakan—melainkan untuk dijalani.”
—Kate Winslet
20. “Aneh bagaimana hati harus berkali-kali patah sebelum akhirnya menjadi bijak.”
—Sara Teasdale, The Collected Poems
21. “Kadang aku berharap bisa kembali jadi anak kecil, karena lutut lecet jauh lebih mudah diobati daripada hati yang patah.”
—Julia Roberts
22. “Lidahku akan mengungkapkan amarah hatiku; jika tidak, hatiku yang berusaha menyembunyikannya akan pecah.”
—William Shakespeare, Taming of the Shrew
23. “Dulu, di hari-hari pertama itu, aku begitu sendiri sampai rasanya setiap hari seperti memakan hatiku sendiri.”
—Junot Díaz, This Is How You Lose Her
24. “Kadang ketika satu orang hilang, seluruh dunia terasa kosong.”
—Alphonse de Lamartine
25. “Patah hati. Kamu pikir kamu akan mati—tapi kamu tetap hidup, hari demi hari, setelah hari yang menyiksa.”
—Charles Dickens, Great Expectations
26. “Kakiku akan selalu ingin berjalan ke tempat kamu berbaring, tapi aku akan terus hidup.”
—Pablo Neruda
27. “Saat hatimu patah, kamu menanam benih di retakannya dan berdoa agar hujan turun.”
—Andrea Gibson
28. “Tragedi terbesar dalam hidup bukanlah manusia yang mati, tapi ketika mereka berhenti mencinta.”
—W. Somerset Maugham
29. “Pernah jatuh cinta? Menyebalkan, bukan? Itu membuatmu begitu rapuh. Membuka dadamu, membuka hatimu, dan memberi orang lain kesempatan untuk masuk dan mengacaukanmu.”
—Neil Gaiman
30. “Ada lautan kesunyian di antara kita… dan aku tenggelam di dalamnya.”
—Ranata Suzuki
31. “Lihatlah kekacauan tak termaafkan yang kamu buat dariku. Kamu menunjukkan warna-warna yang tak bisa kulihat bersama siapa pun selain kamu.”
—Taylor Swift, “Illicit Affairs”
Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Cosmopolitan US. Alih bahasa dan isi telah disesuaikan oleh editor.