Hubungan Percintaan Era Modern: Benarkah Lebih Rapuh Dibanding Zaman Dulu?

Redaksi 2 13 Jan 2026

Di tengah cerita tentang ghosting, hubungan singkat, dan komitmen yang terasa mudah goyah, banyak yang berspekulasi bahwa hubungan percintaan di era modern lebih rapuh dibanding zaman dulu. Cerita orang tua tentang pernikahan puluhan tahun sering terdengar kontras dengan realitas sekarang, di mana hubungan bisa berakhir hanya karena pesan tak dibalas.

Namun, sebelum menyimpulkan bahwa cinta zaman sekarang lebih lemah, penting melihat konteksnya terlebih dahulu.

Karena hubungan romantis selalu dipengaruhi oleh kondisi sosial, teknologi, dan nilai yang berlaku. Jadi benarkah hubungan percintaan era modern lebih rapuh? Berikut fakta-fakta yang menarik untuk diulas.

1. Pola Komunikasi yang Berubah Drastis

Hubungan Percintaan Era Modern: Benarkah Lebih Rapuh Dibanding Zaman Dulu?

Di era modern, komunikasi berlangsung cepat dan instan. Pesan bisa terkirim kapan saja, tapi ekspektasi respons juga ikut meningkat.

Menurut Journal of Social and Personal Relationships (2018), komunikasi digital yang intens dapat memicu kecemasan relasional karena pasangan saling menafsirkan jeda balasan sebagai tanda penolakan. Ini membuat hubungan tampak rapuh, padahal sering kali yang terjadi adalah miskomunikasi, bukan hilangnya rasa.

2. Pilihan yang Terlihat Tak Terbatas

Hubungan Percintaan Era Modern: Benarkah Lebih Rapuh Dibanding Zaman Dulu?

Aplikasi kencan memberi kesan bahwa selalu ada “opsi lain” di luar sana. Studi dalam Computers in Human Behavior (2019) menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan justru menurunkan kepuasan terhadap hubungan yang sedang dijalani.

Ketika kamu merasa selalu bisa mencari yang baru, komitmen bisa terasa lebih mudah dilepas, bukan karena cinta yang dangkal, tapi karena ilusi kelimpahan pilihan.

3. Cara Menghadapi Konflik Hubungan yang Berbeda

Hubungan Percintaan Era Modern: Benarkah Lebih Rapuh Dibanding Zaman Dulu?

Zaman dulu, banyak pasangan bertahan karena tekanan sosial dan keterbatasan pilihan. Kini, individu lebih bebas menentukan nasib relasinya.

Menurut Journal of Marriage and Family (2020), generasi modern cenderung mengakhiri hubungan yang dirasa tidak sehat demi kesejahteraan mental. Dari luar, ini tampak seperti hubungan yang rapuh, padahal bisa juga dibaca sebagai batas yang lebih sehat.

4. Fokus Lebih Besar pada Kesejahteraan Diri

Hubungan Percintaan Era Modern: Benarkah Lebih Rapuh Dibanding Zaman Dulu?

Hubungan modern menempatkan kebahagiaan individu sebagai prioritas. Penelitian dalam Journal of Adult Development (2019) menunjukkan bahwa generasi sekarang lebih sadar akan kebutuhan emosional dan kesehatan mental.

Jika hubungan tidak lagi memberi ruang aman, orang memilih pergi. Ini menandai pergeseran nilai dari “bertahan apa pun risikonya” menjadi “bertahan jika sama-sama bertumbuh.”

5. Data Perceraian Tidak Selalu Mendukung Anggapan “Lebih Rapuh”

Hubungan Percintaan Era Modern: Benarkah Lebih Rapuh Dibanding Zaman Dulu?

Menariknya, data tidak selalu menunjukkan hubungan modern lebih gagal. Studi lintas negara dalam Population Studies (2018) menemukan bahwa tingkat perceraian di beberapa negara justru stabil atau menurun, meski usia menikah lebih matang.

Artinya, relasi modern bisa jadi lebih selektif di awal, sehingga yang dijalani benar-benar dipilih dengan sadar.

Jadi, jika kamu bertanya apakah hubungan percintaan era modern lebih rapuh dibanding zaman dulu, jawabannya tidak hitam-putih.

Yang berubah bukan kemampuan mencintai, melainkan cara manusia membangun, mempertahankan, dan mengakhiri hubungan. Di era modern, cinta mungkin tidak selalu bertahan lama tapi sering kali dijalani dengan kesadaran yang lebih jujur.