Hubunganmu Toxic atau Sebenarnya Hanya Rekayasa Dunia Maya?
Girls, simak pertanyaan ini dengan seksama, ya: Apakah hubunganmu benar-benar bermasalah, atau justru dunia maya yang sedang membesar-besarkan hal kecil? Di era TikTok dan Instagram therapy talk, mengucapkan “love you” alih-alih “I love you” pun bisa dianggap sebagai tanda bahaya—memangnya sudah ada bukti secara konkrit?
Internet rasanya sedang overwork. Bukan dalam arti teknis, tapi dalam cara ia membedah setiap tarikan napas, jeda balasan chat, hingga pilihan kata dalam hubungan romantis. Tiba-tiba, semua pesan teks harus dianalisis. Diam sebentar jadi masalah. Salah pilih kata sedikit langsung dicap sebagai red flag.
Belakangan ini, saya menonton sebuah video dari podcaster Raj Shamani yang membahas soal “hilangnya” kata I dalam kalimat “I love you”. Menurut teori yang ia angkat—berdasarkan riset Dr. James W. Pennebaker tentang kekuatan kata ganti—menghilangkan kata I disebut-sebut sebagai tanda kurangnya kehadiran emosional atau investasi perasaan. Satu teori itu saja langsung membuat internet panik berjamaah. Dan dari situ, muncul pertanyaan penting: apakah kita sekarang terlalu jauh membaca sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana?
Generasi sekarang memang cukup ahli menciptakan bahasa baru dan cara-cara segar untuk mengekspresikan emosi. Tapi di saat yang sama, internet juga mulai “memproduksi” standar hubungan yang palsu, tidak realistis, dan—jujur saja—cukup berbahaya. TikTok dan Instagram terus memunculkan tren yang mengubah perilaku normal menjadi krisis, turn-off, atau aturan aneh yang katanya bisa “membongkar kebenaran” tentang pasanganmu.
Sekarang bahkan ada ekosistem konten yang hidup hanya untuk mendiagnosis hubungan yang sebenarnya baik-baik saja. Therapy talkers di TikTok mengubah psikologi amatir menjadi hiburan, dan tanpa sadar, banyak pasangan membayar mahal—secara emosional—untuk itu.
Yang lebih absurd lagi, internet kini menyamakan ucapan “love you” dengan balasan satu huruf legendaris: “K.” Padahal keduanya jelas tidak setara. “K” memang sering diasosiasikan dengan minim usaha dan sikap dingin—dan iya, itu wajar kalau dipertanyakan. Tapi “love you” atau “love you too” tetap membawa kehangatan, afeksi, dan kehadiran emosional. Itu tetap ekspresi cinta yang valid.
Satu-satunya momen di mana tiga kata lengkap “I love you” memang terasa sakral adalah saat pertama kali diucapkan. Momen itu besar, emosional, dan pantas mendapat bobot penuh. Tapi setelahnya? Tidak ada hubungan yang seharusnya “dihukum” hanya karena shorthand alami yang muncul seiring rasa nyaman.
Sayangnya, di dunia maya, muncul kepercayaan baru bahwa hubungan harus mengikuti skrip tertentu. Jika “I love you” tidak diucapkan lengkap setiap saat, hubungan itu dianggap kurang usaha atau komitmen. Padahal, ekspektasi kaku soal kata ganti ini sama sekali tidak mencerminkan kualitas atau kekuatan sebuah hubungan.
Kadang rasanya internet hanya… jenuh saja. Demi konten viral, detail mikroskopis dibedah habis-habisan. Definisi yang sebenarnya tidak perlu diubah, dipelintir ulang. Budaya hyperanalysis ini pelan-pelan merusak hubungan yang normal. Tidak semuanya adalah red flag. Ya, tanda bahaya nyata memang ada. Tapi tidak mungkin setiap hubungan punya segudang masalah setiap saat.
Toleransi kita menurun drastis. Semua diawasi, dipolisi, dan dinilai. Ruang untuk ketidaksempurnaan alami pun makin sempit.
Coba tengok cara orang tua atau kakek-nenek kita membangun hubungan. Mereka tidak menghitung jumlah emoji ciuman di chat atau menganalisis tiap suku kata. Mereka bertahan dengan kehadiran, konsistensi, dan empati—bukan evaluasi tanpa henti.
Hari ini, sering kali terasa seperti orang kehabisan ide, lalu mulai mengorek kebiasaan sepele dan menjadikannya bukti masalah yang sebenarnya tidak ada. Kalau sebuah hubungan memang terasa tidak bahagia, atau usaha mulai memudar, itu layak dibicarakan secara jujur. Masalahnya adalah ketika konten yang sifatnya umum dipaksakan sebagai kebenaran universal—membuat orang panik atas krisis yang sebenarnya tidak pernah ada.
Pembedahan tanpa henti ini menciptakan tekanan di tempat yang seharusnya diisi rasa nyaman dan koneksi. Internet telah menormalisasi kecurigaan dan emotional micromanagement, sampai-sampai hubungan yang sehat pun bisa runtuh karenanya.
Tidak semua pesan singkat berarti jarak emosional. Tidak setiap kata yang hilang berarti pengabaian. Kadang, ya memang sesederhana itu.
Cinta tidak dibangun lewat kecurigaan, tapi lewat kepercayaan. Lewat kelembutan. Lewat pemahaman bahwa setiap orang punya cara berbeda untuk menunjukkan rasa sayang.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti mendiagnosis hubungan karena bosan—dan mulai fokus pada hal yang lebih penting: mengekspresikan rasa sayang ke pasangan dengan caramu sendiri, di mana kalian berdua memahami betapa besar rasa cinta serta koneksi yang dirasakan.
(Artikel ini disadur dari cosmopolitan.in oleh Santya Ahuja / Perubahan bahasa telah dilakukan oleh penulis, Nadhifa Arundati / Image: Dok. IMDb)