Louis Vuitton Rayakan 130 Tahun Monogram Lewat Koleksi Monogram Origine
Monogram Louis Vuitton mungkin menjadi salah satu corak paling terkenal di dunia. Corak yang terdiri dari empat emblem ini: bunga, bintang, berlian, dan inisial LV, bukan hanya menjadi penanda identitas tapi juga salah satu simbol kemewahan.
Tahun 2026 sendiri menandai 130 tahun eksistensi monogram. Merayakan momen spesial tersebut, Louis Vuitton merilis koleksi khusus.
Mengapa Louis Vuitton Menciptakan Monogram?

Adalah Georges Vuitton, putra dari Louise selaku pendiri rumah mode ini, yang mencetuskan ide untuk membuat sebuah penanda yang mencirikan rumah mode bentukan Ayahnya. Ada dua alasan di baliknya, pertama untuk memerangi pemalsuan di mana semakin membedakan kreasi trunk Louis Vuitton dengan kompetitor, dan kedua sebagai penghormatan kepada sang Ayah.
Pada tahun 1896, Georges Vuitton merancang desain monogram yang terinspirasi dari elemen Neo-Gothic dan budaya Jepang. Georges mengagumi bentuk quatrefoil, trefoil, dan roset yang menghiasi katedral Gotik serta Mon, emblem tradisional Jepang.
Gaston-Louis, putra dari Georges, pada tahun 1965 sempat menceritakan proses kreatif sang Ayah menciptakan monogram ikonis tersebut.
“Pertama-tama, inisial perusahaan dipadukan agar tetap mudah dibaca. Lalu sebuah bentuk berlian. Untuk memberi karakter khas, sisi-sisinya dibuat cekung dengan bunga empat kelopak di tengah. Kemudian versi positif dari bunga tersebut. Dan terakhir, lingkaran berisi bunga berkelopak empat yang membulat.” kenang Gaston-Louise.
Inovasi Teknis
Dalam perkembangannya, Louis Vuitton juga terus berinovasi dalam hal teknis, dari mulai pembuatan hingga material. Berikut perkembangan teknik pembuatan monogram Louis Vuitton dari masa ke masa:
1896 — Lahirnya Monogram Canvas
Monogram pertama dibuat dari bahan jacquard yang ditenun bersama benang linen berwarna ecru dan sienna. Motifnya muncul halus seperti watermark, memberi kesan elegan namun tetap kuat. Lebih ringan dari kulit dan tahan aus, material pionir ini menjadi dasar dari bahan kanvas yang digunakan Louis Vuitton.
1902 — Teknik Pochoir
Di awal 1900-an, Louis Vuitton mulai bereksperimen dengan pochoir, teknik stencil berlapis pigmen yang diaplikasikan manual. Kanvas katun dengan lapisan resin ini (dikenal sebagai Pegamoid) membuatnya menjadi lebih tahan lembap dan cahaya tanpa kehilangan kelenturannya. Pada era ini, monogram bahkan hadir dalam warna merah, hijau, dan biru.
1959 — Inovasi Kanvas Modern
Tahun 1959, Louis Vuitton memperkenalkan kanvas baru yang lebih ringan, lentur, dan tahan air. Bahan ini membuat Monogram bisa diwujudkan dalam tas-tas lembut seperti Keepall dan Speedy, yang saat itu terasa lebih praktis dan relevan untuk gaya hidup sehari-hari. Terbuat dari katun dengan lapisan vinil pelindung, kanvas ini terbukti begitu andal hingga tetap digunakan sampai sekarang
2017 — Monogram Eclipse
Pada 2017, Louis Vuitton memperkenalkan Monogram Eclipse, versi yang lebih gelap dan maskulin. Palet grafit dan hitamnya terinspirasi arsip lama, namun dipoles teknik pigmentasi terbaru sehingga tampil sleek tanpa kehilangan karakter khas Monogram.
Koleksi Monogram Origine

Untuk perayaan 130 tahun ini, Louis Vuitton merilis koleksi bertajuk Monogram Origine. Koleksi ini berfokus pada material canvas dalam pulasan warna-warna pastel yang playful dan modern. Empat kreasi tas ikonis Louis Vuitton tampil menjadi bintang utama yakni: Speedy, Noé, Alma, dan Neverfull.
Pilihan warna pastel seperti Rose Ruban, Bleu Courrier, Lin, dan Vert Asnières memberikan sentuhan modern. Material juga turut menjadi highlight. Louis Vuitton membuat bahan kanvas khusus menggunakan gabungan linen dan katun.
Selain tas, Louis Vuitton juga turut menawarkan aksesori seperti dompet, card holder, makeup pouch, dan trunk.
Koleksi VVN dan Time Trunk

Berbicara material, Louis Vuitton juga merilis koleksi berbahan kulit bernama Vache Végétale Naturelle (VVN). Kulit ini punya karakteristik di warna kulit akan berubah semakin gelap seiring dengan perkembangan waktu (patina).
Pada koleksi ini, Louis Vuitton menghadirkan tas Alma dalam nuansa vintage lewat corak trompe l’oeil (ilusi optik) yang terinspirasi dari desain trunk ikonisnya. Hadir juga versi polos dalam warna pink dengan struktur yang lebih lemas. Pada bagian dalam, Louis Vuitton menggunakan lining berupa bahan jacquard kanvas. Selain Alma, Louis Vuitton juga menampilkan desain serupa pada seri Speedy.

Ilusi optik tersebut tampaknya bukan hanya sekadar tentang penghormatan akan eksistensi Louis Vuitton. Lebih luas lagi, juga seperti keberanian rumah mode ini untuk mendefinisi ulang akan citra kemewahan yang baru dan lebih modern. All in all, a true collector piece indeed!
Koleksi Parfum

Louis Vuitton juga turut merilis koleksi parfum khusus. Tiga kreasi parfum hadir dengan pulasan monogram pada botolnya yakni : Imagination, Attrape-Rêves, dan eLVes.
Sebuah parfum stylish tentunya dilengkapi sebuah kotak yang cantik dan fungsional. Louis Vuitton juga menghadirkan travel case khusus untuk parfum dalam pilihan warna Rose Ruban dan Bleu Courrier.