Kenapa Validasi Online Bisa Bikin Ketagihan? Ini Fakta Psikologinya

Redaksi 2 26 Jan 2026

Pernah merasa sedikit lebih senang saat unggahanmu mendapat banyak likes, komentar, atau views? Atau justru merasa gelisah ketika responsnya tidak sesuai harapan?

Tanpa disadari, validasi online sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Terasa sepele, hanya angka dan notifikasi, tapi dampaknya bisa cukup dalam pada perasaan dan cara kamu memandang diri sendiri.

Fenomena ini bukan sekadar soal kurang percaya diri. Psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa otak manusia memang dirancang untuk merespons validasi sosial. Untuk memahami kenapa validasi online bisa bikin ketagihan, kamu perlu melihat bagaimana otak, emosi, dan kebutuhan sosial bekerja di balik layar ponselmu.

1. Validasi Online Mengaktifkan Sistem Reward Otak

Kenapa Validasi Online Bisa Bikin Ketagihan? Ini Fakta Psikologinya

Setiap kali kamu menerima likes atau komentar positif, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang berperan dalam rasa senang dan motivasi.

Menurut Journal of Behavioral Addictions (2019), mekanisme ini mirip dengan sistem reward pada perilaku adiktif lainnya. Karena dopamin bersifat sementara, otak terdorong untuk mengulang perilaku yang sama demi mendapatkan sensasi tersebut lagi. Inilah dasar biologis dari ketagihan validasi online.

2. Manusia Secara Alami Membutuhkan Pengakuan Sosial

Kenapa Validasi Online Bisa Bikin Ketagihan? Ini Fakta Psikologinya

Sejak dulu, manusia adalah makhluk sosial yang bergantung pada penerimaan kelompok. Penelitian dalam Psychological Bulletin (2018) menjelaskan bahwa kebutuhan akan afiliasi dan penerimaan berperan besar dalam pembentukan harga diri. Media sosial hanya memindahkan kebutuhan itu ke ruang digital, membuat pengakuan sosial hadir dalam bentuk yang cepat dan terukur.

3. Angka Membuat Validasi Terlihat Lebih “Nyata”

Kenapa Validasi Online Bisa Bikin Ketagihan? Ini Fakta Psikologinya

Likes, views, dan followers mengubah penerimaan sosial menjadi angka yang bisa dibandingkan. Studi dalam Computers in Human Behavior (2020) menunjukkan bahwa kuantifikasi sosial ini meningkatkan kecenderungan evaluasi diri secara eksternal. Saat nilai diri diukur lewat angka, kamu bisa tanpa sadar mengaitkan perasaan berharga dengan performa online. Ini memperkuat siklus ketergantungan.

4. Validasi Online Bekerja Secara Tidak Konsisten

Kenapa Validasi Online Bisa Bikin Ketagihan? Ini Fakta Psikologinya

Salah satu alasan ketagihan sulit dihentikan adalah sifatnya yang tidak bisa diprediksi. Kadang unggahanmu ramai, kadang sepi. Menurut Frontiers in Psychology (2017), pola reward yang tidak konsisten justru lebih adiktif dibanding reward yang pasti. Ketidakpastian inilah yang membuat kamu terus mengecek, menunggu, dan berharap.

5. Ketergantungan Validasi Bisa Menggerus Regulasi Emosi

Kenapa Validasi Online Bisa Bikin Ketagihan? Ini Fakta Psikologinya

Ketika suasana hati terlalu bergantung pada respons online, regulasi emosi menjadi rapuh. Penelitian di Journal of Affective Disorders (2021) menemukan bahwa ketergantungan pada validasi eksternal berkaitan dengan fluktuasi mood dan kecemasan sosial. Di titik ini, kamu mungkin tidak lagi menikmati berbagi, melainkan mengejar reaksi.

Jadi, kenapa validasi online bisa bikin ketagihan? Karena ia menyentuh sistem paling dasar dalam diri manusia, yaitu kebutuhan untuk dilihat, diterima, dan dihargai.

Memahami mekanismenya bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk lebih sadar dalam menggunakan media sosial. Saat kamu mulai membangun validasi dari dalam, notifikasi akan kembali menjadi pelengkap bukan penentu nilai dirimu.