Alasan Kenapa Kita Mudah Membandingkan Hidup Sendiri dengan Orang Lain
Pernah merasa hidupmu tiba-tiba tampak biasa saja setelah melihat pencapaian orang lain? Padahal sebelumnya kamu merasa baik-baik saja. Fenomena membandingkan hidup sendiri dengan orang lain sering terjadi tanpa disadari, terutama di era media sosial. Ada rasa kurang, tertinggal, atau bertanya-tanya apakah hidupmu sudah “cukup”.
Membandingkan diri sebenarnya adalah mekanisme psikologis yang sangat manusiawi. Namun, ketika dilakukan terus-menerus, ia bisa menggerus kepercayaan diri dan kepuasan hidup. Untuk memahami alasan kenapa kita mudah membandingkan hidup sendiri dengan orang lain, kita perlu melihat bagaimana otak, emosi, dan lingkungan sosial bekerja bersamaan.
Otak Manusia Terbiasa Mengukur Diri Lewat Orang Lain
Sejak awal, manusia belajar memahami posisinya lewat perbandingan sosial. Menurut Social Comparison Theory yang dijelaskan dalam Journal of Personality and Social Psychology (2016), individu secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan pencapaian. Masalah muncul ketika perbandingan ini menjadi satu-satunya tolok ukur nilai diri.
Media Sosial Mempersempit Perspektif Hidup
Media sosial menampilkan potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita. Penelitian dalam Computers in Human Behavior (2019) menunjukkan bahwa paparan konten pencapaian orang lain meningkatkan kecenderungan upward comparison, yaitu membandingkan diri dengan mereka yang terlihat “lebih sukses”. Akibatnya, hidupmu sendiri terasa kurang meski sebenarnya tidak.
Standar Sukses yang Seragam Tapi Tidak Realistis
Banyak orang tanpa sadar mengejar standar sukses yang sama, seperti karier mapan, hubungan ideal, dan hidup yang “estetik”. Menurut Journal of Happiness Studies (2020), standar eksternal yang kaku berkaitan dengan menurunnya kepuasan hidup. Ketika kamu mengukur hidupmu dengan standar yang tidak kamu pilih sendiri, rasa membandingkan hampir tidak terhindarkan.
Kebutuhan Akan Validasi dan Penerimaan
Membandingkan diri sering berakar pada kebutuhan untuk diterima. Studi dalam Psychological Bulletin (2018) menyebutkan bahwa manusia memiliki dorongan kuat untuk merasa setara atau lebih baik dari kelompoknya. Saat validasi internal lemah, kamu lebih mudah mencari pembenaran dari luar, termasuk membandingkan hidupmu dengan orang lain.
Kurang Kesadaran Pada Proses Hidup Pribadi
Sering kali kamu membandingkan hasil akhir orang lain dengan proses hidupmu sendiri yang sedang berjalan. Menurut Journal of Positive Psychology (2021), fokus berlebihan pada hasil tanpa menghargai proses pribadi meningkatkan rasa tidak cukup. Padahal, setiap orang berjalan dengan konteks, waktu, dan beban yang berbeda.
Mudah membandingkan hidup sendiri dengan orang lain bukan tanda kamu lemah atau tidak bersyukur. Itu tanda kamu manusia yang hidup di dunia penuh standar, sorotan, dan cerita orang lain. Dengan memahami alasan kenapa kita mudah membandingkan hidup sendiri dengan orang lain, kita bisa mulai menarik kembali fokus ke hidupmu sendiri, yang tidak selalu paling cepat, tapi tetap layak dan bermakna.