House of Tugu Old Town Jakarta Hadirkan Pengalaman Menginap dengan Nuansa Sejarah

Elizabeth Alicia ● 07 Oct 2026

House of Tugu Old Town Jakarta kembali mendapat sorotan di media internasional. Dibuka kembali di tahun 2024,  hotel butik yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta ini berhasil meraih dua pengakuan dari media perjalanan dan publikasi internasional. House of Tugu Old Town Jakarta masuk dalam daftar Top 5 Best City Hotels in Indonesia pada Travel + Leisure Luxury Awards Asia Pacific 2026 sekaligus menjadi satu-satunya hotel di Indonesia yang masuk dalam daftar World's Greatest Places 2026 versi Time Magazine.

Dua penghargaan tersebut menyoroti hal yang menjadi identitas utama House of Tugu Old Town Jakarta, yakni upayanya menghadirkan sejarah dan budaya Indonesia melalui pengalaman menginap. Bukan sekadar menawarkan fasilitas hotel, properti ini menggabungkan arsitektur, koleksi artefak, kuliner, hingga cerita tentang kehidupan masyarakat Indonesia di masa lalu. Pengakuan dari Travel + Leisure sendiri diberikan berdasarkan suara pembacanya, sementara Time menempatkan House of Tugu dalam daftar destinasi yang dinilai memiliki nilai budaya, pengalaman autentik, dan dampak terhadap dunia pariwisata.

Membawa Nuansa Sejarah ke Dalam Hotel

House of Tugu Old Town Jakarta lahir dari perjalanan panjang keluarga Tugu dalam mengumpulkan dan menjaga peninggalan sejarah Indonesia. Pendiri Tugu, Anhar Setjadibrata, mulai mengoleksi berbagai benda bersejarah yang dianggap semakin sulit ditemukan sejak tahun 1960-an. Bersama istrinya, Wedya Julianti, koleksi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari upaya untuk mempertahankan cerita dan budaya Indonesia.

Proses tersebut berlanjut selama puluhan tahun hingga menghasilkan House of Tugu Old Town Jakarta. Properti ini dibangun melalui proses restorasi bangunan bersejarah yang berlangsung hampir 20 tahun dan kini menyimpan lebih dari 1.000 artefak serta benda antik. Koleksi tersebut berasal dari keluarga Tugu maupun hasil pencarian selama beberapa dekade. Benda-benda tersebut tidak hanya menjadi dekorasi, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari cerita yang ingin disampaikan melalui setiap ruang.

Konsep tersebut juga terlihat dari jumlah kamar yang tersedia. House of Tugu Old Town Jakarta hanya memiliki 26 kamar, dengan masing-masing kamar mengangkat tema dan cerita sejarah yang berbeda. Beberapa di antara konsep kamar menghadirkan kisah perdagangan di kawasan Kali Besar hingga kehidupan masyarakat Peranakan di Batavia.

Warisan Peranakan Menjadi Salah Satu Sorotan Utama

Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah fokus House of Tugu dalam memperkenalkan sejarah Peranakan di Indonesia. Properti ini menghadirkan ruang yang secara khusus mengangkat kehidupan masyarakat Peranakan kelas atas di Jawa, dengan cerita yang berbeda dari tradisi Peranakan yang lebih banyak dikenal di Singapura, Malaysia, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

Bagi Tugu, warisan tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah yang dipamerkan. Banyak artefak dan tokoh yang menjadi bagian dari cerita di House of Tugu memiliki hubungan dengan leluhur keluarga Tugu. Hal tersebut membuat pengalaman yang ditawarkan terasa lebih personal karena cerita yang disampaikan berasal dari perjalanan sejarah yang memiliki keterkaitan langsung dengan keluarga pemilik. Melalui seni, arsitektur, dan berbagai koleksi yang dimiliki, hotel ini berupaya menjadikan sejarah sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari, bukan sekadar sesuatu yang ditemui di museum.

Pengalaman Kuliner dengan Cita Rasa yang Autentik

Cerita tentang sejarah Indonesia di House of Tugu juga hadir melalui pengalaman kuliner. Salah satunya adalah Jajaghu, restoran yang mengangkat hidangan Nusantara dengan inspirasi dari resep-resep leluhur. Ada pula Babah Koffie by Kawisari, sebuah kafe yang membawa suasana nostalgia melalui cerita tentang salah satu perkebunan kopi kolonial tertua di Jawa.

House of Tugu kemudian memperluas pengalaman tersebut melalui De Tiger, yakni  speakeasy bergaya Far East yang menjadi bagian baru dari properti ini. Berbeda dari suasana hotel yang banyak mengangkat sisi romantis dan elegan Batavia, De Tiger mengambil inspirasi dari kehidupan malam Kota Tua dan Sunda Kelapa pada masa lalu. Konsepnya memadukan heritage mixology dengan suasana yang lebih misterius dan intim.

Perjalanan House of Tugu Old Town Jakarta Selanjutnya

Selain De Tiger, Tugu juga memiliki rencana menghadirkan The Huang Museum sebagai bagian dari upaya memperkenalkan koleksi yang selama ini tersimpan dalam arsip pribadi keluarga. Bagi keluarga Tugu, penghargaan dari Travel + Leisure dan Time bukan hanya pencapaian dalam industri hospitality. Pengakuan tersebut menjadi validasi terhadap misi yang telah dibangun selama beberapa dekade, yaitu menjaga cerita dan peninggalan budaya Indonesia agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Di tengah tren wisata yang semakin mengarah pada pengalaman autentik, House of Tugu Old Town Jakarta menunjukkan pendekatan berbeda terhadap konsep hotel. Sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari kamar, restoran, koleksi, arsitektur, hingga aktivitas yang dapat dirasakan langsung oleh tamu. Melalui pendekatan tersebut, House of Tugu membawa cerita tentang Indonesia ke ruang yang lebih dekat dengan wisatawan sekaligus memperkenalkan warisan Nusantara kepada audiens internasional.