Chanel Spring/Summer 2027: Dari 83 Pasang Sepatu hingga Britney Spears, Cara Matthieu Blazy Memikat Fashionista
83 looks dengan 83 pasang sepatu berbeda di koleksi Chanel Spring/Summer 2027! What a treat! Melihat dari sisi bisnis tentu itu adalah keputusan yang tepat karena sepatu menjadi salah satu produk barang mewah yang lebih gampang terjual karena harganya bisa lebih terjangkau dibanding tas maupun pakaian. Namun menilik dari aspek kreativitas, hal tersebut juga menjadi pembuktian lain akan sensibilitas Matthieu Blazy selaku creative director Chanel dalam memahami fondasi penting akan kreativitas dan bisnis barang mode mewah yakni : desirability.
Koleksi Chanel Spring/Summer 2027 bukan hanya tentang beragam pilihan sepatu. Lebih luas lagi, bagi Blazy koleksi ini menjadi eksplorasi mendalam tentang sejarah rumah mode ini. “Ini adalah peragaan tentang sejarah Chanel” ujarnya seperti dikutip dari Vogue. Banyak elemen historis yang diinterpretasikan dalam koleksi ini namun Blazy berhasil mengemasnya menjadi modern dan jauh dari kesan nostalgia.
The Desirability of Chanel

Mari kita kulik terlebih dahulu formula Matthieu Blazy dalam hal desirability atau hasrat dan aspirasional dari rancangannya.
Pertama, ia paham memodernisasi heritage bukan berarti harus menjadi sesuatu yang berbeda. Anda hanya perlu menjadi versi terbaru dari diri sendiri. Itulah yang dilakukan Blazy di Chanel. Ia tidak berusaha mengubah rumah mode ini menjadi sesuatu yang asing, melainkan menyegarkannya lewat interpretasi personal atas kode-kode desain Coco Chanel. But still it is unmistakably Chanel.

Tas dan jaket menjadi dua elemen paling terlihat. Untuk koleksi ini, Blazy memperbarui jaket tweed ikonis Chanel dalam berbagai tema. Seperti siluet korset, motif harimau yang menampilkan sisi glamor, dan juga potongan pendek. Corak grafis dan harimau tersebut sendiri masih punya keterkaitan dengan Coco Chanel di mana terinspirasi dari karya pelukis Édouard Vuillard, yang juga merupakan salah satu seniman favoritnya. Setelan motif harimau dalam warna merah dan putih tersebut juga dikenakan oleh model asal Indonesia, Mirelle Aurellia.

Di ranah tas, salah satu yang mencuri perhatian dengan kembalinya tas Chanel flap edisi perdana rancangan Coco Chanel. Ini mungkin menjadi aksi simbolik Blazy dalam memberikan penghormatan kepada sang pendiri rumah mode dan bagaimana visinya dan Coco juga dapat bersinergi.

Selain model klasik, Blazy juga menghadirkan tas Chanel Flap dalam aksen perforasi dan permainan warna dan motif vibran. Elemen historis dan seni lainnya terlihat pada sepasang gaun terinspirasi penari balet. Coco Chanel sendiri memang dikenal memiliki ketertarikan pada tari balet.
Kedua, Blazy juga memahami bahwa modernisasi juga perlu diimbangi dengan inovasi craftsmanship. Melansir dari New York Times, Blazy membuat material menyerupai tweed yang elastis dari organza dan sutra. Ia juga mengembangkan mesin baru yang mampu menenun mutiara langsung ke dalam kain, bukan menjahitnya satu per satu.
Blazy Going Baddie? Yes!

But desirability also needs seduction. Kreativitas desain dan inovasi craftsmanship perlu narasi dan elemen kontras yang berani. Dalam hal ini, Blazy pun turut memasukan lagu Gimme More dari Britney Spears sebagai salah satu soundtrack peragaannya. Seketika, Britney Spears memberi energi seductive pada koleksi ini.
Secara tidak langsung, pemilihan Britney Spears juga mungkin mengindikasikan karakteristik lainnya yang tersirat dari koleksi ini. Di balik setiap lagunya, baik itu yang upbeat maupun melankolis, ada sosok yang berani, unapologetic, dan juga vulnerable.
'.Mungkin itu intensi dari Blazy. Ia ingin menampilkan sosok perempuan Chanel yang kompleks. Selain di runway, deretan selebriti yang hadir juga bisa menjadi contoh nyata. Satu waktu perempuan Chanel mungkin ingin tampil fierce ala Alex Demie mengenakan setelan rok pendek, atau eklektik selayaknya Dua Lipa dalam balutan gaun berhiaskan feathers, atau seperti Nicole Kidman bergaya klasik memakai tailoring dress. But hey, seperti kata Adela, “Babygirl in control, I feel like Nicole”. Bahkan di tangan Blazy, dan Nicole Kidman, gaya klasik bisa terlihat powerful dan baddie!