Aurora Ribero: Tentang Bertumbuh dan Mengenal Diri Sendiri

Ellena Azisia ● 12 Oct 2026

Oh so excited to meet her again! Di tengah kesibukannya menjalani promosi film,  Aurora Ribero tetap menyempatkan untuk mengikuti sesi pemotretan dan wawancara bersama Cosmo. Pemilik nama lengkap Jennifer Aurora Ribero ini hadir di studio pemotretan tampil effortless dengan mengenakan celana jeans dan blazer tanpa pulasan riasan sama sekali dan itu tak mengurangi kecantikannya sedikit pun. Cosmo terakhir berjumpa dengannya satu tahun lalu. Masih banyak hal yang ingin Cosmo perbincangkan dengannya. Apalagi perempuan kelahiran tahun 2004 ini memang jarang membagikan kehidupan pribadinya di media sosial. 

Meski terasa unreachable, Aurora ternyata memiliki kepribadian yang humble dan easy going. Di balik kepribadiannya tersebut, juga ada sosok yang paham betul akan makna dari totalitas. Tak hanya dalam dunia akting, Aurora juga membuktikan keseriusannya menekuni hobi yoga dengan lulus sertifikasi untuk menjadi guru yoga. Banyak hal baru dan juga inspiratif dari 40 menit perbincangan Cosmo dengannya. 

Hai Aurora, how’s life lately?

Hai, Cosmo! I’m good. Belakangan ini, saya sedang melakukan promo untuk film terbaru saya, Nobody Loves Kay (2026). Selain itu, saya juga sedang sibuk shooting dan persiapan untuk film yang akan datang. 

Cosmo lihat, Anda sudah membintangi berbagai genre film. Mulai dari drama, komedi, horror, hingga thriller. Rasanya semua sudah Anda eksplor. Lantas, adakah keinginan yang belum tercapai dalam industri film ini?

Jika membahas soal karakter yang nampaknya sudah saya eksplor semua, saya memang tak suka memberi limit. Jadi, mungkin itu sebabnya saya kerap mendapat peran yang berbeda-beda. I like challenging character. Saya suka segala hal yang membuat saya merasa seru, karakter yang menarik, juga deep, dan banyak layer-nya. Terlepas dari peran-peran yang sudah saya perankan, tetap masih banyak keinginan yang belum tercapai di industri film. Mungkin menjadi sutradara juga menjadi salah satu mimpi saya, namun sekarang fokus saya tetap menjadi aktris terlebih dahulu.

Anda sempat membintangi film Like & Share yang mengangkat isu tentang pubertas, dan pencarian jati diri pada remaja. Terlepas dari film tersebut, apa pendapat Anda tentang pencarian jati diri lewat media sosial, yang kerap dilakukan oleh anak-anak dari generasi masa kini?

Kita bisa mendapat banyak pandangan dari media sosial karena banyaknya informasi yang diterima di media sosial. Tapi, bagi saya pencarian jati diri tak perlu lewat media sosial, harus dari diri sendiri. Karena, semua yang ada di media sosial itu fana, kita hanya melihat yang bagus-bagusnya saja, kita tak tahu bagaimana seseorang ketika vulnerable dari media sosial. Pencarian jati diri tetap harus dilalui sendiri. Maka, detach yourself dari media sosial.

Anda sempat mengungkap di wawancara bersama Cosmo beberapa waktu lalu bahwa Anda suka dengan peran yang di luar zona nyaman Anda. Apakah Anda sudah mendapatkan peran tersebut?

Pada saat itu sebenarnya saya sudah mendapatkannya pada peran 13/Nomi di The Shadow Strays (2024). Tapi setelah itu, saya juga mendapatkannya lagi di peran Vira pada film Dia Bukan Ibu (2025) karena banyak scene yang men-trigger saya. Sebab, adegan tersebut close to heart. Cukup banyak tantangan pada peran tersebut. Tapi terlepas dari itu, semua karakter memang keluar dari zona nyaman. Karena ada adegan di mana mereka sedang mental breakdown, dan itu harus keluar dari zona nyaman. So, I would say, semua karakter memaksa saya untuk melalui hal-hal yang tidak nyaman. By acting, saya juga belajar menjadi manusia.

Adakah karakter yang pernah Anda perankan mengubah cara pandang Anda terhadap kehidupan di dunia nyata?

Ketika memerankan 13/Nomi di The Shadow Strays, itu membuat saya reflect ke dalam diri saya juga. Pelajaran paling besar dari peran tersebut adalah kedisiplinan. Karena, jika kita disiplin, pasti akan ada upgrade. Sebelumnya, saya tak tahu jika kita konsisten dan disiplin, pasti ada pergerakan. Dan untuk karakter-karakter lain, mereka juga mengajarkan banyak hal. Saya merasa versi diri saya sebelum masuk ke karakter dan mengenal karakter lebih dalam dan versi diri saya setelah keluar dari karakter akan selalu berbeda. Jadi, there’s always something dari diri karakter-karakter tersebut yang pasti akan mengubah sedikit cara pandang saya terhadap hidup.

Siapa aktris yang memengaruhi cara Anda memandang profesi ini dan pelajaran apa yang Anda ambil dari mereka?

I really look up to Adinia Wirasti. Dan saya sempat beradu akting bersamanya pada debut akting saya yaitu di Susah Sinyal (2017). Saya menjadi anak dari Adinia Wirasti di film tersebut. Film itu cukup berkesan bagi saya hingga saat ini. Saran yang saya pegang dari Adinia Wirasti hingga sekarang adalah, jangan pernah berhenti belajar dan keep curious. Selain itu, ia juga sempat memperingati saya agar saya tetap kuat berada di industri ini dan don’t lose your sense of self.

Menurut Anda, apa topik yang masih perlu diangkat dalam dunia perfilman?

Isu soal pencarian jati diri pada remaja seperti di film Like & Share. Pada saat saya memerankan Lisa di Like & Share, awareness yang disebarkan oleh film ini juga relate pada saya. Saya juga melihat bahwa industri perfilman Indonesia semakin berkembang dan menjadi lebih berani lagi. Saya yakin pasti ada filmmaker dan writer baru, atau yang sudah berkarya sejak dulu punya banyak hal yang ingin dicurahkan. So, I’ll leave it up to them.

Apa pressure terbesar dalam pekerjaan Anda, yang mungkin tidak diketahui banyak orang?

Sebenarnya, cukup banyak pressure, terlebih jika Anda adalah overthinker, and I’m such an overthinker. Sebenarnya itu merupakan hal yang baik, saya menjadi detail terhadap hasil akting saya. Tapi terkadang justru membuat saya overwhelmed dan merasa “I should’ve done much better.” Saya masih cukup struggling dengan overthinking yang saya alami. Namun, semakin lama saya berada di industri ini, saya semakin sadar bahwa jika sutradara sudah berkata cukup, maka cukup. Sebenarnya pressure datang dari diri saya sendiri, dan sekarang saya sudah belajar untuk tidak put pressure too much. Karena, itu bisa mengeluarkan saya dari dunia karakter yang saya perankan, sedangkan saya harus berada dalam dunia karakter tersebut.

Hampir satu dekade Anda terjun ke industri hiburan. Pernahkah Anda merasa kehilangan diri lantaran pekerjaan? 

Tentu pernah. Bahkan sampai membuat saya bingung hingga berpikir mana diri saya yang sebenarnya? Dan akhirnya, saya “menemukan” diri saya lagi. Upaya saya untuk mengembalikan diri, saya melakukan meditasi dan yoga. Fun fact, saya certified to be a yoga teacher, hahaha… tapi saya hanya mengajar yoga untuk teman-teman saja.

Anda lahir dari orang tua yang berbeda budaya, ayah dari Italia, ibu dari Gorontalo. Apa hal yang paling berkesan dari cara mendidik orang tua Anda pada Anda?

Ayah saya merupakan orang yang cukup santai. Karena, orang Italia memang cukup santai. Sedangkan ibu saya cukup keras. Saya ingat waktu saya kecil, saya pernah makan tanpa menggunakan alat makan dan sangat berantakan. Ibu saya menegur saya, namun ayah saya dengan santai menjawab bahwa biarkan saja saya belajar makan sendiri. Ayah dan ibu saya sangat bertolak belakang. Bahkan, nada bicara ibu saya pun tinggi, padahal ia tak marah, hanya berbicara biasa. Dan perbedaan tersebut menyatu pada saya. Saya memiliki personality dari kedua orang tua saya.   

Di usia Anda yang ke-22 ini, adakah perubahan cara Anda memandang cinta?

I would say, saya lebih tahu tentang boundaries. Saya juga lebih tegas. Saya tahu apa yang saya mau dan tidak mau, saya juga tahu apa yang saya suka dan tidak suka. Jika mulai ada pertanda dari pasangan yang membuat saya tidak nyaman, saya langsung mundur. Kini, saya sudah lebih tahu cara menggunakan boundaries. 

Di era modern dating ini, bagaimana cara menghadapi tantangan dalam mencari hubungan yang sehat?

Menurut saya, pertama-tama kita perlu memvalidasi diri kita sendiri terlebih dahulu. Kita harus memperkuat fondasi kita juga. Jadi, jika ada angin dari luar, kita tidak gampang goyah. Kita harus tahu apa yang kita mau, karena jika tidak, kita gampang terbawa arus. 

Apa satu hal yang tidak bisa Anda kompromi dalam sebuah hubungan?

Saya tidak bisa dengan orang yang dunianya menjadi revolved around me atau terlalu bergantung pada saya. Saya butuh pasangan yang punya kesibukan sendiri. Jadi, saya menjalani hidup saya, ia menjalani hidupnya, tapi kita juga bergandengan di pertengahan jalan.

Lastly, apa yang ingin Anda sampaikan untuk perempuan Gen Z yang sedang mencari jati diri?

Take all the time you need. You have to be really patient with yourself. Anda perlu tahu bagaimana untuk respect diri Anda sendiri. Know your worth. Jadi, semisal ada situasi yang membuat Anda mempertanyakan self-worth Anda, Anda tahu bagaimana cara menyikapinya. Selain itu, learn how to say no. Karena, banyak orang yang mudah tidak enak terhadap orang lain. It’s dangerous world out there. Yang Anda punya hanyalah diri Anda sendiri. So, make yourself strong and have opinions. And always be curious!