Iwan Tirta SMERTI: Batik, Memori, dan Sebuah Malam yang Emosional
Batik mungkin dapat diibaratkan sebagai sebuah kapsul waktu. Lewat sehelai kain, sang pembuat batik tak hanya menampilkan keindahan corak tapi ada pesan dan harapan di baliknya. Lalu ketika seseorang membeli kain atau busana batik, ada pengalaman yang kelak ingin ia kenang dan wariskan. Narasi ini juga tampak menjadi inspirasi dari koleksi terbaru Iwan Tirta.
Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta pada 8 Oktober 2026, Iwan Tirta mempresentasikan koleksi terbarunya yang bertajuk SMERTI. Dalam keterangan yang dirilis, koleksi SMERTI diartikan sebagai jejak-jejak yang menetap dalam ingatan: hal-hal yang kita simpan, yang berubah seiring waktu, lalu hadir kembali dalam bentuk yang berbeda.
Sebuah Fashion Show yang Emosional

Meski mengurai koleksi yang berlandaskan akan memori, Iwan Tirta tidak terjebak dalam nostalgia. Batik hadir dalam 50 busana bergaya modern dan elegan. Pilihan warna-warna seperti hijau, merah, dan abu-abu menguatkan karakter klasik khas Iwan Tirta. Styling trick menjadi salah satu elemen yang memberi napas modern pada koleksi ini.
Kemeja batik pria yang klasik terlihat lebih eklektik ketika dipasangkan dengan scarf yang disampirkan di bahu. Lalu jaket tanpa kerah dipadukan bersama blus dengan aksen oversized sleeves yang memberi kesan romantis.

Sementara pada busana perempuan, sentuhan romantis terlihat pada padanan aksesori seperti ikat pinggang aksen bulu pada crop top dan rok panjang. Atasan batik dipadukan dengan rok panjang satin yang meredefinisi gaya feminin yang modern.
Batik ditampilkan tak hanya sebagai busana formal tapi juga dalam berbagai tampilan yang mudah diadaptasi. Trik padu padan yang cukup eksperimental di runway juga membuktikan bahwa batik bisa diberi elemen tambahan seperti perhiasan atau bahkan topi dan scarf.

Gaya yang ekspresif sekaligus narasi dari koleksi ini juga tampak selaras dengan pemilihan Gedung Kesenian Jakarta. Gedung historis ini tak hanya sekadar jadi panggung tapi juga memberi narasi dan simbol akan relevansi dari sebuah legacy.

“SMERTI dirancang dengan mendengarkan ruangnya. Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan, tetapi membangun presentasi yang merespons karakter Gedung Kesenian Jakarta melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme. Ruang ini menjadi bagian dari pengalaman serta membentuk cara koleksi dilihat dan dirasakan,” ujar Shadtoto Prasetio, Art Director dari Shadtoto Studio dalam keterangan yang dirilis.

Unsur teatrikal tak hanya terlihat pada busana. Di akhir, ketika tirai panggung diangkat, tampil Efek Rumah Kaca. Penonton larut dalam irama musik. Sebuah finale yang cukup emosional. Aksi tepuk tangan yang biasanya tertunda untuk merekam parade model, kembali bergemuruh tiada henti. Malam itu, lewat SMERTI, para penikmat mode memiliki kenangan baru bersama Iwan Tirta.