Cara Menyampaikan Feedback Dalam Hubungan
Ada hal yang mengganjal dalam hubungan, tetapi kamu bingung bagaimana cara membicarakannya tanpa berakhir dengan pertengkaran? Situasi seperti ini cukup umum terjadi. Kadang, niat untuk memperbaiki hubungan justru berujung salah paham karena cara menyampaikan masukan yang kurang tepat.
Padahal, komunikasi yang terbuka bisa membantu kamu dan pasangan memahami kebutuhan satu sama lain. Kuncinya bukan sekadar berani bicara, tetapi juga tahu bagaimana menyampaikan perasaan tanpa membuat pasangan merasa diserang. Berikut, Cosmo bagikan cara menyampaikan feedback dalam hubungan.
1. Apa Artinya Feedback dan Mengapa Dibutuhkan dalam Hubungan?
Dalam hubungan, feedback adalah masukan yang disampaikan kepada pasangan tentang perilaku atau hal-hal yang memengaruhi dinamika kalian. Bentuknya bisa berupa apresiasi atas hal kecil yang dia lakukan, maupun obrolan tentang kebiasaan yang membuatmu kurang nyaman.
Feedback penting karena pasangan tidak selalu bisa menebak apa yang kamu pikirkan. Kalau kamu ingin dia lebih sering memberi kabar saat pulang terlambat, misalnya, sampaikan saja daripada berharap dia mengerti sendiri.
Membicarakan masalah sejak awal juga bisa mencegah rasa kesal menumpuk. Selain itu, kalian punya kesempatan untuk memahami sudut pandang masing-masing dan mencari solusi bersama.
Menurut American Psychological Association (APA), komunikasi terbuka merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga hubungan yang sehat. Jadi, menyampaikan masukan bukan berarti kamu terlalu banyak menuntut. Selama dilakukan dengan saling menghargai, percakapan ini justru bisa membantu hubungan berkembang.
2. Bedanya Feedback, Kritik, dan Menyalahkan Pasangan
Feedback, kritik, dan menyalahkan pasangan mungkin terdengar mirip, tetapi cara penyampaiannya bisa menghasilkan respons yang berbeda.
Feedback yang membangun berfokus pada perilaku tertentu dan apa yang kamu harapkan ke depannya. Misalnya, "Aku khawatir kalau kamu pulang terlambat tanpa kabar. Lain kali, bisa beri tahu aku dulu?"
Kritik cenderung menyerang karakter pasangan, bukan hanya membahas perilakunya. Contohnya, "Kamu memang nggak pernah bisa diandalkan." Sementara itu, menyalahkan pasangan lebih berfokus pada siapa yang dianggap bersalah. Misalnya, "Kita bertengkar terus gara-gara kamu."
Psikolog John Gottman mengidentifikasi kritik sebagai salah satu pola komunikasi yang dapat merusak hubungan jika terus berulang. Dibandingkan menyerang kepribadian pasangan, membahas masalah secara spesifik akan memberi kalian ruang lebih besar untuk mencari solusi.
Coba fokus pada apa yang terjadi, bagaimana dampaknya terhadapmu, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Kamu tetap bisa menyampaikan kekecewaan tanpa harus membuat pasangan merasa dirinya selalu salah.
3. Cara Menyampaikan Masukan tanpa Memicu Sikap Defensif
Kamu memang tidak bisa mengendalikan reaksi pasangan, tetapi ada beberapa cara untuk membuat percakapan terasa lebih nyaman dan tidak mudah berubah menjadi pertengkaran.
1. Pilih waktu yang tepat
Hindari membicarakan masalah ketika salah satu sedang lelah, terburu-buru, atau masih emosi. Coba buka percakapan dengan, "Ada yang ingin aku bicarakan soal kita. Kamu ada waktu malam ini?"
2. Bicarakan perasaanmu, bukan kesalahan pasangan
Daripada mengatakan, "Kamu nggak pernah mendengarkan aku," coba ungkapkan, "Aku merasa kurang didengarkan ketika ceritaku langsung dialihkan ke hal lain." Cara ini membantu pasangan memahami perasaanmu tanpa langsung merasa dituduh.
3. Sampaikan apa yang kamu butuhkan
Jangan berhenti pada hal yang membuatmu kesal. Jelaskan juga perubahan yang kamu harapkan. Misalnya, "Aku kurang nyaman kalau kita terus sibuk dengan ponsel saat makan bersama. Aku ingin kita punya waktu untuk benar-benar mengobrol."
Permintaan yang jelas membuat pasangan lebih mudah memahami apa yang bisa dilakukan.
4. Dengarkan sudut pandangnya
Setelah menyampaikan masukan, beri pasangan kesempatan untuk menjelaskan pendapatnya. Kamu tidak harus langsung setuju, tetapi mendengarkan bisa membantu kalian memahami akar masalahnya.
5. Jangan mengungkit semua kesalahan lama
Saat sedang kesal, rasanya mudah menghubungkan masalah sekarang dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Namun, membawa semuanya sekaligus justru bisa membuat inti persoalan tidak terselesaikan. Fokuslah pada satu masalah terlebih dahulu.
6. Hargai usahanya untuk berubah
Feedback bukan cuma soal menunjukkan apa yang salah. Ketika pasangan berusaha memperbaiki kebiasaannya, jangan lupa mengapresiasi usahanya. Kalimat sederhana seperti, "Aku senang kamu sekarang lebih sering memberi kabar," bisa menunjukkan bahwa kamu memperhatikan perubahan positifnya.
Pada akhirnya, menyampaikan feedback bukan tentang mencari cara agar pasangan selalu setuju denganmu. Tujuannya adalah membuka ruang untuk saling memahami dan memperbaiki hubungan. Kamu berhak menyampaikan apa yang kamu rasakan, begitu pula pasangan berhak menjelaskan sudut pandangnya. Yang terpenting, kalian sama-sama mau mendengarkan dan mencari jalan tengah.