Decluttering Lemari: 5 Cara Menentukan Baju yang Masih Layak Disimpan

Redaksi 2 ● 27 Oct 2026

Lemari penuh, tapi setiap pagi kamu tetap merasa tidak punya baju untuk dipakai. Ada pakaian yang sudah lama tidak tersentuh, baju yang disimpan karena sayang membuangnya, hingga barang yang dibeli untuk versi diri sendiri yang ternyata tidak pernah terwujud. Tanpa disadari, isi lemari bukan hanya mencerminkan gaya berpakaian, tapi juga kebiasaan belanja, perubahan kebutuhan, dan keputusan yang belum sempat kamu ambil.

Melakukan decluttering lemari bukan berarti kamu harus membuang semua pakaian yang jarang dipakai atau memaksakan diri memiliki lemari minimalis. Penelitian Vermeyen dan rekan-rekannya (2026) dalam jurnal Sustainable Production and Consumption menemukan bahwa pakaian yang tidak dipakai selama setahun belum tentu dianggap tidak diperlukan oleh pemiliknya. Artinya, frekuensi pemakaian bukan satu-satunya tolok ukur. Sebelum memutuskan baju mana yang masih layak disimpan, coba evaluasi lima hal berikut.

1. Periksa Apakah Kondisinya Masih Layak Pakai

Langkah pertama adalah memeriksa kondisi fisik pakaian. Apakah jahitannya masih kuat, warnanya masih nyaman dilihat, dan bahannya tidak rusak parah? Baju dengan kancing lepas atau jahitan terbuka mungkin masih bisa diperbaiki, sedangkan pakaian yang sudah kehilangan fungsi atau sulit diperbaiki bisa dipertimbangkan untuk didaur ulang. Tinjauan Laitala dan Klepp (2022) mengenai alasan orang membuang pakaian menemukan bahwa kualitas fisik hanya salah satu faktor, kecocokan dan persepsi nilai juga berperan. Jadi, jangan buru-buru membuang baju yang sedikit rusak jika masih bisa diselamatkan.

2. Evaluasi Kecocokannya dengan Gaya Hidupmu Sekarang

Pakaian yang cocok untuk kehidupanmu beberapa tahun lalu belum tentu relevan dengan rutinitas sekarang. Mungkin dahulu kamu sering menghadiri acara formal, tapi saat ini lebih banyak beraktivitas di rumah atau bekerja dari jarak jauh. Penelitian Klepp, Laitala, dan Haugrønning (2019) menunjukkan bahwa ukuran lemari dan lama penggunaan pakaian memiliki hubungan yang beragam, tidak ada satu ukuran lemari ideal yang berlaku untuk semua orang. Jadi, pertimbangkan apakah pakaian tersebut sesuai dengan aktivitas, kebutuhan, dan gaya personalmu saat ini, bukan sekedar mengingat kapan kamu membelinya.

3. Bedakan Baju yang Jarang Dipakai dan Baju yang Tidak Dibutuhkan

Tidak semua pakaian harus dipakai setiap minggu agar layak disimpan. Gaun untuk acara khusus, jaket hujan, atau pakaian tertentu untuk perjalanan bisa tetap memiliki fungsi meskipun jarang digunakan. Studi Vermeyen dan rekan-rekannya (2026) menemukan bahwa sebagian peserta tetap memasukkan pakaian yang tidak dipakai dalam setahun ke dalam lemari yang mereka anggap cukup untuk kebutuhan mendatang. Sebaliknya, beberapa pakaian yang masih sering dipakai justru dinilai berlebihan karena fungsinya tumpang tindih. Jadi, tanyakan apakah baju tersebut punya kegunaan yang jelas, bukan hanya seberapa sering kamu mengenakannya.

4. Perhatikan Apakah Baju Itu Mudah Dipadukan

Ada pakaian yang sebenarnya masih bagus, tapi sulit dipadukan dengan koleksi lain sehingga akhirnya terus tersimpan. Coba pasangkan baju tersebut dengan beberapa celana, rok, atau luaran yang sudah kamu miliki. Jika kamu bisa menemukan kombinasi yang nyaman dan sesuai gaya sehari-hari, pakaian itu mungkin masih layak dipertahankan. Tinjauan Dao dan Joyner Martinez (2024) dalam International Journal of Consumer Studies menekankan bahwa penggunaan pakaian secara berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan pembelian, tapi juga kebiasaan mengenakan, merawat, dan memperbaiki pakaian yang sudah dimiliki.

5. Lepaskan Baju yang Kamu Pertahankan Hanya karena Rasa Bersalah

Baju mahal, hadiah dari orang terdekat, atau pakaian yang dibeli untuk acara yang tidak pernah terjadi bisa terasa sulit dilepaskan. Kamu mungkin merasa sayang jika tidak memakainya, tapi menyimpannya tanpa batas waktu juga tidak otomatis membuatnya lebih berguna. Penelitian Laitala dan Klepp (2022) menunjukkan bahwa banyak pakaian dilepas bukan semata-mata karena rusak, tapi karena sudah tidak diinginkan, dianggap ketinggalan zaman, atau tidak lagi dibutuhkan. Jika pakaian tersebut masih bagus, kamu bisa menjual, menyumbangkan, atau memberikannya kepada orang yang akan memakainya.

Decluttering lemari sendiri, bukan kompetisi untuk memiliki pakaian paling sedikit. Tujuannya adalah membuat isi lemari lebih sesuai dengan kebutuhanmu, sehingga kamu lebih mudah menemukan pakaian yang nyaman dan benar-benar ingin dikenakan.

Kamu boleh menyimpan baju yang punya nilai sentimental atau hanya dipakai pada kesempatan tertentu. Yang penting, keputusan itu dibuat secara sadar. Karena lemari yang fungsional, sebenarnya bukan lemari yang kosong, tapi lemari yang isinya punya tempat dan alasan untuk tetap ada.