Cara Menghadapi Pasangan yang Suka Silent Treatment

Redaksi ● 31 Oct 2026

Perdebatan dan perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Namun, bagaimana jika pasangan tiba-tiba berhenti berbicara, mengabaikan pesan, atau bersikap seolah-olah kamu tidak ada setiap kali terjadi masalah?

Perilaku ini dikenal sebagai silent treatment. Situasi tersebut dapat membuat kamu merasa bingung, cemas, dan terkuras secara emosional. Sebagian orang mungkin memilih untuk menarik diri dari percakapan karena membutuhkan waktu untuk memproses emosi. Namun, ada juga yang menggunakan sikap diam sebagai cara untuk menghukum, memanipulasi, atau mengendalikan pasangannya.

Jadi, bagaimana cara membedakan antara seseorang yang memang membutuhkan ruang pribadi dan seseorang yang sengaja mengabaikan pasangannya? Lebih penting lagi, apakah perilaku ini perlu ditoleransi dalam sebuah hubungan? Berikut hal-hal yang perlu Babes ketahui tentang silent treatment dan cara menghadapinya.

1. Apa Itu Silent Treatment dalam Hubungan?

Silent treatment adalah bentuk penarikan diri dari komunikasi ketika seseorang dengan sengaja mengabaikan atau menolak berkomunikasi dengan orang lain, biasanya setelah terjadi pertengkaran atau perbedaan pendapat.

Menurut Cleveland Clinic, perilaku ini merupakan salah satu bentuk umum dari stonewalling, yaitu kondisi ketika seseorang menarik diri dari konflik, baik secara sengaja maupun tidak, alih-alih terlibat dalam percakapan untuk menyelesaikan masalah.

Dalam hubungan romantis, silent treatment dapat ditunjukkan melalui beberapa perilaku berikut:

  • Mengabaikan pesan atau panggilan pasangan tanpa memberikan penjelasan.
  • Menolak menjawab pertanyaan atau bersikap seolah-olah pasangan tidak ada.
  • Tiba-tiba menjaga jarak setelah bertengkar.
  • Menghindari percakapan, tetapi tetap berinteraksi seperti biasa dengan orang lain.
  • Menahan kasih sayang atau perhatian sampai pasangan meminta maaf atau menuruti keinginannya.
  • Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua sikap diam dapat dikategorikan sebagai silent treatment.

Terkadang, seseorang merasa kewalahan secara emosional dan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum membicarakan situasi yang sulit. Hal ini berbeda dengan sengaja mengabaikan seseorang untuk membuatnya merasa bersalah atau memaksanya mengubah perilaku.

Sebagai contoh, mengatakan, "Aku sedang merasa kewalahan sekarang. Bisa kita bicarakan lagi setelah aku punya waktu untuk menenangkan diri?" merupakan bentuk komunikasi yang menunjukkan kebutuhan untuk mengambil jeda sekaligus tetap membuka kesempatan untuk berdamai.

Sebaliknya, menolak berkomunikasi tanpa memberikan penjelasan, terutama jika hal tersebut berulang kali dilakukan untuk menghukum pasangan, dapat menciptakan dinamika hubungan yang tidak sehat.

Sebuah tinjauan sistematis tahun 2026 yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology dan menganalisis 15 penelitian yang telah melalui proses tinjauan sejawat menemukan bahwa silent treatment dapat memiliki berbagai tujuan. Perilaku ini dapat digunakan untuk mengatur emosi dan menghindari konflik, tetapi juga dapat menjadi bentuk manipulasi dan kontrol interpersonal.

Tinjauan tersebut juga mengidentifikasi kaitannya dengan tekanan emosional dan menurunnya kepuasan dalam hubungan. Artinya, memahami alasan di balik sikap diam pasangan memang penting. Namun, bukan berarti kamu harus mengabaikan dampak perilaku tersebut terhadap dirimu sendiri.

2. Cara Menghadapi Silent Treatment dalam Hubungan

Diabaikan oleh seseorang yang kamu sayangi bisa terasa sangat melelahkan secara emosional. Babes mungkin terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, mempertanyakan apakah kamu melakukan kesalahan, atau berulang kali menghubungi pasangan hanya untuk mendapatkan respons.

Meskipun kamu tidak bisa mengendalikan cara pasangan merespons konflik, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan emosional sekaligus mendorong komunikasi yang lebih sehat.

Ini beberapa cara untuk menghadapi situasi tersebut.

1. Berikan Ruang, tetapi Tetapkan Batasan

Jika pasangan cenderung menarik diri ketika emosinya sedang memuncak, memberikan waktu untuk menenangkan diri bisa menjadi langkah yang membantu. Tidak semua orang memproses perbedaan pendapat dengan cara yang sama, dan sebagian orang memang membutuhkan waktu sebelum bisa berkomunikasi dengan baik.

Namun, memberikan ruang bukan berarti kamu harus menerima sikap diam tanpa batas waktu.

Cobalah menyampaikan kebutuhanmu dengan tenang. Misalnya, kamu bisa mengatakan, "Aku mengerti kalau kamu membutuhkan waktu sendiri dan aku bersedia memberikannya. Namun, aku akan lebih menghargai kalau kamu bisa memberi tahu kapan kita bisa membicarakan masalah ini lagi."

Dengan begitu, pasangan tetap memiliki kesempatan untuk memproses emosinya tanpa membuatmu merasa sepenuhnya diabaikan.

2. Hindari Terus-Menerus Mengejar Respons Pasangan

Ketika seseorang menolak berkomunikasi, kamu mungkin tergoda untuk terus mengirim pesan, bertanya apa yang salah, atau berulang kali meminta maaf demi mengakhiri suasana yang tidak nyaman.

Namun, terus-menerus mengejar respons pasangan justru bisa membuatmu semakin terkuras secara emosional.

Sebaliknya, cobalah sekali menyampaikan keinginanmu untuk membuka percakapan dan beri tahu bahwa kamu bersedia berbicara ketika pasangan sudah siap. Setelah itu, berikan jarak dan alihkan perhatian pada hal-hal yang dapat membantu menjaga kesejahteraan dirimu sendiri.

Ingat, menyelesaikan perbedaan pendapat merupakan tanggung jawab bersama. Kamu tidak seharusnya menanggung seluruh beban emosional untuk memperbaiki hubungan sendirian.

3. Sampaikan Perasaanmu tentang Perilaku Pasangan

Setelah pasangan siap berbicara, cobalah membahas perilakunya daripada langsung berfokus pada siapa yang benar atau salah dalam pertengkaran sebelumnya.

Jelaskan bagaimana sikapnya memengaruhimu tanpa menyerang atau menyalahkannya.

Sebagai contoh, kamu bisa mengatakan, "Ketika kamu berhenti berbicara denganku tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi, aku merasa bingung dan terluka. Aku mengerti kalau kamu mungkin membutuhkan waktu untuk memproses emosimu, tetapi aku berharap kita bisa mengomunikasikannya daripada saling mengabaikan."

Pendekatan ini dapat mendorong percakapan yang lebih terbuka mengenai kebutuhan emosional sekaligus membantu kedua belah pihak memahami bagaimana tindakan mereka memengaruhi satu sama lain.

4. Pahami Perbedaan antara Mengambil Jeda dan Menghukum Pasangan

Hubungan yang sehat tidak mengharuskan pasangan menyelesaikan setiap perbedaan pendapat saat itu juga. Terkadang, mengambil jeda justru bermanfaat, terutama ketika emosi sedang memuncak.

Namun, jeda yang sehat sebaiknya disertai komunikasi dan keinginan untuk kembali membicarakan masalah tersebut.

Sebagai contoh, menyepakati waktu istirahat selama satu jam atau satu hari untuk menenangkan diri sebelum membahas masalah merupakan hal yang berbeda dengan menolak berbicara kepada pasangan tanpa batas waktu.

Menurut Cleveland Clinic, mengenali ketika seseorang mulai menarik diri secara emosional dan mengomunikasikan kebutuhannya untuk mengambil jeda dapat membantu mencegah stonewalling menjadi pola komunikasi yang terus berulang.

Tujuannya bukan memaksa pasangan untuk berbicara sebelum mereka siap, melainkan membangun cara yang lebih sehat dalam menghadapi perbedaan pendapat tanpa membuat salah satu pihak merasa ditinggalkan atau dihukum.

5. Pertimbangkan Bantuan Profesional jika Perilaku Ini Terus Berulang

Jika silent treatment sering terjadi dan kamu maupun pasangan kesulitan menyelesaikan konflik, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental yang berkualifikasi.

Terapi individu dapat membantu pasangan memahami alasan mereka menarik diri ketika menghadapi percakapan yang sulit, sekaligus mengembangkan kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi dengan lebih sehat.

Konseling pasangan juga dapat membantu kedua belah pihak mengenali pola komunikasi yang tidak sehat, memahami kebutuhan satu sama lain, dan membangun cara yang lebih konstruktif untuk menyelesaikan konflik.

Namun, konseling pasangan tidak selalu menjadi pilihan yang tepat jika terdapat intimidasi, pemaksaan, atau kekerasan dalam hubungan. Dalam situasi seperti ini, prioritaskan dukungan secara individu dan keselamatan dirimu.

3. Apakah Kita Harus Menoleransi Silent Treatment?

Jawaban singkatnya, kamu tidak harus menoleransi silent treatment yang dilakukan berulang kali, terutama jika perilaku tersebut digunakan untuk menghukum, memanipulasi, atau mengendalikan dirimu.

Penting untuk memahami bahwa membutuhkan ruang pribadi bukanlah sesuatu yang secara otomatis tidak sehat. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam memproses emosi yang sulit, dan mengambil waktu sejenak setelah bertengkar bisa menjadi respons yang wajar.

Namun, situasinya menjadi mengkhawatirkan ketika sikap diam terus-menerus digunakan sebagai bentuk hukuman.

Menurut National Domestic Violence Hotline, menahan perhatian atau kasih sayang untuk menghukum pasangan dapat menjadi salah satu tanda kekerasan emosional (emotional abuse), terutama jika perilaku tersebut merupakan bagian dari pola kontrol atau manipulasi yang lebih luas.

Berikut beberapa tanda bahwa perilaku pasangan mungkin sudah lebih dari sekadar membutuhkan waktu sendiri:

  • Mereka sengaja mengabaikanmu sampai kamu meminta maaf atau menyetujui keinginan mereka.
  • Mereka berulang kali membuatmu merasa bersalah karena mengungkapkan perasaan.
  • Mereka menahan kasih sayang atau komunikasi untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
  • Kamu merasa cemas atau takut membuat mereka kesal karena khawatir mereka akan
  • kembali berhenti berbicara denganmu.
  • Mereka menolak mengakui perilakunya atau justru menyalahkanmu atas perlakuan yang mereka berikan.

Kamu terus-menerus mengorbankan kebutuhan sendiri hanya untuk menghindari periode diam berikutnya. Jika beberapa perilaku tersebut terasa familiar, ada baiknya kamu mengambil jarak sejenak dan mengevaluasi apakah hubungan tersebut masih sehat secara emosional.

Kamu bisa mencintai seseorang sekaligus menyadari bahwa perilakunya menyakitimu. Memahami kesulitan emosional pasangan bukan berarti kamu harus mengorbankan kesejahteraan emosionalmu sendiri.

Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, percakapan yang jujur, dan batasan pribadi. Kedua belah pihak harus merasa aman untuk mengungkapkan perasaan tanpa khawatir akan dihukum dengan sikap diam.

Pada akhirnya, tujuannya bukanlah menemukan pasangan yang tidak pernah membutuhkan waktu sendiri atau merasa kesal. Namun, membangun hubungan ketika kedua orang di dalamnya bersedia berkomunikasi, bertanggung jawab atas tindakan masing-masing, dan berusaha menyelesaikan perbedaan pendapat bersama.