7 Tanda Dia Takut Komitmen dan Cara Menghadapinya
Kita semua tahu, menjalin hubungan saat ini bukan perkara mudah. Menemukan satu orang yang ingin kita temui untuk kencan kedua saja sudah sulit, apalagi sosok yang benar-benar bisa disebut the one. Tak heran jika Gen Z lebih banyak memilih untuk melajang dibandingkan generasi milenial dan generasi sebelumnya. Namun, bagi mereka yang berhasil menemukan cinta, pertanyaan lain kerap muncul: bagaimana jika orang yang kita kira berpotensi menjadi the one justru tidak siap menjalani peran tersebut?
Ya, kita sedang membicarakan para commitment-phobe. Entah kamu sudah sangat akrab dengan tipe pasangan seperti ini, atau baru mengenalnya lewat film dan serial, satu hal pasti: menjalin hubungan dengan orang yang takut berkomitmen bisa terasa sangat menantang—bahkan menyakitkan. Dan ini bukan sekadar asumsi. Banyak pengalaman nyata dibagikan di media sosial. “Commitment-phobe akan membuang waktumu dan merusak hidupmu,” tulis seseorang di X. Yang lain mengatakan, “Commitment-phobe tidak akan berkomitmen dalam hubungan apa pun, sekeras apa pun kamu mencoba. Lebih baik pergi saja.”
Di TikTok, ratusan video dengan tagar commitment-phobe dipenuhi cerita tentang hubungan yang kandas, serta penyesalan karena baru menyadari tanda-tandanya setelah semuanya terlambat.
Lalu, apa sebenarnya tanda-tanda tersebut? Dan yang lebih penting, apa yang sebaiknya kamu lakukan jika sedang bersama seseorang yang takut berkomitmen?
Apa itu commitment-phobe?

“Commitment-phobe adalah seseorang yang secara aktif menghindari hubungan jangka panjang, tak peduli sudah berapa lama kalian bersama atau sedalam apa perasaan yang terlibat,” jelas Claire Rénier, pakar hubungan dari aplikasi kencan happn. “Mereka bisa saja memberi harapan bahwa hubungan ini memiliki masa depan, tetapi pada kenyataannya mereka terus enggan melangkah ke tahap berikutnya—atau bahkan berkomitmen pada hubungan yang sedang dijalani saat ini.”
Rénier juga menambahkan bahwa sebenarnya ada tanda-tanda saat kamu sedang menjalin hubungan dengan seorang commitment-phobe, meski sering kali tanda-tanda tersebut “tidak mudah dikenali”. Akibatnya, banyak orang akhirnya mempertanyakan satu hal yang sama: ini aku yang bermasalah, atau memang dia?
7 Tanda Kamu Sedang Berkencan dengan Commitment-Phobe
1. “Pelan-pelan saja”… tanpa ujung
“Bagi sebagian orang, ketakutan berkomitmen bisa muncul dalam bentuk alasan ingin menjalani hubungan secara ‘pelan-pelan’ dan selalu membutuhkan ruang pribadi,” jelas Rénier. “Bisa jadi karena mereka cemas hubungan ini berkembang terlalu serius.”
2. Menghindari label hubungan
“Kamu mungkin menyadari mereka menolak memberi label pada hubungan kalian,” tambah Rénier. “Ini memberi mereka jalan keluar yang mudah saat hubungan terasa terlalu intens, sekaligus menjaga pintu tetap terbuka jika suatu hari mereka berubah pikiran.”
Terapis sekaligus anggota BACP, Sandhya Bhattacharya, menjelaskan bahwa kebiasaan menghindari label sering kali berakar dari keengganan menghadapi kritik. “Berkomitmen dalam hubungan berarti bertahan dalam perbedaan dan konflik yang menyakitkan, selain juga menikmati kedekatan dan koneksi,” ujarnya kepada Cosmopolitan UK. “Tidak semua orang siap menghadapi perasaan dikritik atau mengakui sisi diri yang sebenarnya tidak ingin mereka lihat.”
3. Komunikasi tarik-ulur
Cara pasangan berkomunikasi bisa menjadi petunjuk besar tentang kesiapan mereka berkomitmen, kata Rénier. “Sebagian orang bersikap ‘panas-dingin’, menarik diri setiap kali hubungan mulai terasa lebih dekat,” jelasnya. “Ini bisa terlihat dari frekuensi chat yang tiba-tiba berkurang atau sikap yang menjadi dingin secara emosional, sampai mereka merasa aman kembali.”
“Jika setiap kali hubungan melangkah maju mereka justru mundur, itu adalah red flag,” tambah terapis dan anggota BACP, Natasha Nyeke.
4. Prinsip ‘no strings attached’
Tanda lain kamu sedang berkencan dengan commitment-phobe adalah pola pikir no strings attached. “Seseorang yang takut berkomitmen bisa saja memiliki banyak hubungan singkat dengan fokus tanpa keterikatan, bukan mencari hubungan yang stabil,” ujar Rénier.
Meski begitu, perlu digarisbawahi bahwa hubungan kasual tanpa komitmen bukan otomatis tanda seseorang adalah commitment-phobe.
5. Lingkaran sosial yang tertutup
Jika kamu belum pernah diperkenalkan kepada teman atau keluarga pasangan—dan mereka pun tidak menunjukkan ketertarikan untuk melakukannya—ini bisa menjadi tanda lain. Menurut Rénier, keengganan mengenalkan pasangan pada orang-orang terdekat menunjukkan keinginan untuk “menjaga hubungan tetap santai”.
Nyeke menambahkan, kata-kata commitment-phobe sering kali tidak sejalan dengan tindakannya. “Mereka bisa mengatakan ingin masa depan bersama, tetapi menghindari langkah nyata seperti mengenalkanmu pada teman-temannya,” jelasnya. “Jika kamu terus merasa bingung soal posisi dirimu, percayalah pada perasaan itu.”
6. Masa depan? No thanks!
Soal masa depan, commitment-phobe cenderung menghindarinya. Bhattacharya mendefinisikan mereka sebagai “seseorang yang tidak mau atau tidak mampu memikirkan masa depan bersama orang lain”. Kesulitan untuk terlibat dalam hubungan jangka panjang membuat mereka lebih memilih hidup di masa kini tanpa rencana ke depan.
7. “Jalani saja dulu”
Jika pasangan enggan merencanakan apa pun—mulai dari liburan beberapa bulan ke depan hingga sekadar kencan minggu depan—ini bisa menjadi tanda lain. “Mereka sering tidak bisa diandalkan dalam urusan rencana bersama,” kata Rénier, terutama saat menyangkut momen penting. “Mereka mungkin tidak merasa bertanggung jawab atas ulang tahun atau perayaan tertentu,” ujarnya, dengan alasan seperti, ‘bukan tugasku mengatur itu’ atau ‘belum serius, kan’.
Bahkan ketika rencana sudah dibuat, mereka kerap membatalkannya di menit terakhir. Menurut Bhattacharya, ini juga ciri commitment-phobe: “Mereka tidak konsisten menepati rencana, entah dengan ‘lupa’ atau mengubahnya secara mendadak.” Akibatnya, ia menambahkan, “kamu jadi sulit memahami niat mereka, dan yang tersisa hanyalah rasa bingung—bahkan setelah merasa sudah membuat kesepakatan bersama.”
Mengapa Seseorang Bisa Takut Berkomitmen?

“Rasa takut terhadap komitmen sering kali berakar dari berbagai faktor yang kompleks,” ujar Rénier kepada Cosmopolitan UK. “Mulai dari pengalaman hubungan di masa lalu yang negatif—baik yang mereka alami sendiri maupun yang disaksikan dari orang-orang terdekat. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika seseorang memilih menghindari komitmen, karena tanpa komitmen mereka merasa punya jalan keluar kapan pun dibutuhkan, dan secara emosional terasa lebih aman dibandingkan menetap dalam sebuah hubungan.”
Nyeke menguatkan pandangan tersebut. “Biasanya semua berawal dari rasa takut,” jelasnya. “Takut ditinggalkan, dikontrol, atau merasa tidak pernah cukup baik.” Ia menambahkan, “Banyak orang belajar sejak kecil atau dari hubungan sebelumnya bahwa cinta identik dengan rasa sakit. Karena itu, menjaga jarak dan menghindari kedekatan terasa jauh lebih aman.”
Selain rasa takut, keinginan untuk mempertahankan kemandirian juga bisa menjadi faktor. “Bisa jadi mereka sangat menghargai independensi,” tambah Rénier, “namun sampai pada titik yang menutup kemungkinan akan pengalaman bersama yang datang dalam sebuah hubungan.” Misalnya, ketakutan kehilangan jati diri atau kebebasan ketika berada dalam relasi yang serius.
Pada akhirnya, Rénier menegaskan bahwa kamu sebaiknya tidak mengambil semua ini secara personal. “Menghindari komitmen adalah hal yang sangat personal—dan bisa sama sekali tidak berkaitan dengan hubungan atau pasangan tertentu,” jelasnya.
“Jika pasanganmu memang tidak menyukaimu, idealnya mereka akan mengakhiri hubungan dengan cepat dan jelas. Sebaliknya, sikap yang tidak konsisten justru bisa menjadi tanda bahwa mereka sebenarnya menyukaimu, tetapi takut menunjukkan kerentanan yang kamu butuhkan dalam sebuah hubungan.”
Rénier melanjutkan, “Penting untuk diingat bahwa orang memilih hubungan yang lebih kasual karena berbagai alasan yang valid—mulai dari terlalu sibuk untuk mencurahkan waktu dan energi secara serius, hingga menyadari bahwa mereka belum siap secara emosional untuk hubungan yang lebih dalam.” Namun, ia menambahkan, “Jika pasanganmu tidak pernah menetapkan ekspektasi yang jelas bahwa mereka menginginkan hubungan kasual, dan justru membiarkanmu terombang-ambing secara emosional, besar kemungkinan yang menjadi akar masalahnya adalah ketakutan terhadap komitmen.”
Apakah Ada Masa Depan dengan Commitment-Phobe?

Dengan pemahaman ini, Rénier mengatakan bahwa kamu bisa memiliki masa depan dengan seorang commitment-phobe—selama kalian berdua berada di halaman yang sama soal seperti apa masa depan itu ingin dijalani.
“Jika kalian berdua memang ingin menjaga hubungan tetap kasual, bersama seseorang yang menghindari komitmen bisa terasa menyenangkan karena tidak dibebani tekanan soal arah hubungan,” jelasnya.
“Namun, jika satu pihak ingin menetap sementara pihak lain takut berkomitmen, perbedaan ekspektasi ini berisiko berujung pada patah hati. Hubungan pun terasa tidak stabil dan melelahkan, membuatmu terus mendambakan kedekatan yang lebih dalam—yang sayangnya mungkin tak pernah kamu dapatkan.”
Jika kamu merasa sedang menjalin hubungan dengan seorang commitment-phobe dan ingin tahu sebenarnya posisi dirimu, Rénier menyarankan satu langkah utama: lakukan percakapan yang jujur dan terbuka.
“Terkadang, apa yang tampak sebagai ketakutan berkomitmen bukanlah pilihan yang disengaja, dan pasanganmu justru bisa meyakinkan bahwa mereka serius bersamamu,” ujarnya. “Dengan menyampaikan perasaanmu secara jelas, kalian berdua berkesempatan untuk tumbuh bersama dan menentukan ke mana arah hubungan ini ingin dibawa.”
Di sisi lain, Rénier menambahkan, “Jika pasanganmu memang memiliki trauma dari hubungan masa lalu yang membuatnya takut berkomitmen, mereka mungkin membutuhkan ruang untuk memproses perasaannya.” Ia mencatat bahwa proses ini menuntut kesabaran, dan dalam beberapa kasus bahkan memerlukan bantuan profesional, namun seiring waktu dapat mengarah pada hubungan yang lebih sehat.
Namun, jika hal-hal tersebut tidak terjadi—dan pasanganmu terus menunjukkan tanda-tanda takut berkomitmen tanpa keinginan untuk mengatasinya—maka inilah langkah yang perlu kamu pertimbangkan. “Coba mundur sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah orang ini benar-benar memenuhi kebutuhan emosionalmu,” kata Rénier. “Jika ketakutannya terhadap komitmen membuatmu terus merasa tidak aman atau tidak bahagia, mungkin sudah saatnya kamu mempertanyakan apakah dia memang pasangan yang tepat untukmu.”
Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Cosmopolitan UK. Alih bahasa dan isi telah disesuaikan oleh editor.