Kapan Terakhir Kali Kamu Benar-Benar Beristirahat?

Redaksi 2 15 Feb 2026

Coba ingat kembali, kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar istirahat? Bukan sekedar rehat bekerja, bukan rebahan sambil scrolling, tapi benar-benar merasa ringan, tubuh tidak tegang, pikiran tidak sibuk, dan tidak ada perasaan terburu-buru.

Banyak yang kesulitan menjawab pertanyaan ini, karena dalam keseharian kita, “istirahat” sering berubah makna menjadi sekadar jeda fisik. Padahal, istirahat yang sesungguhnya jauh lebih luas, seharusnya menyentuh tubuh, pikiran, dan emosi sekaligus.

Psikologi menunjukkan bahwa banyak orang merasa lelah bukan karena kurang waktu, tapi karena jenis istirahat yang mereka ambil tidak sesuai kebutuhan. Untuk memahami kapan terakhir kali kamu benar-benar beristirahat, kamu perlu mengenali bentuk istirahat yang sebenarnya.

1. Istirahat Fisik Tidak Selalu Menghilangkan Lelah Mental

Tubuh bisa diam, tetapi pikiran tetap aktif. Menurut Journal of Occupational Health Psychology (2019), kelelahan mental sering bertahan meski seseorang telah beristirahat secara fisik. Inilah sebabnya kamu bisa bangun dari tidur atau rebahan dan tetap merasa capek, karena yang lelah bukan ototmu, melainkan sistem kognitif dan emosional.

2. Pikiran Membutuhkan Jeda dari Beban Kognitif

Sepanjang hari, otak terus memproses keputusan, tanggung jawab, dan kekhawatiran. Studi dalam Frontiers in Psychology (2018) menunjukkan bahwa pemulihan mental terjadi saat individu benar-benar berhenti memikirkan tuntutan, bukan sekadar mengganti aktivitas. Istirahat sejati berarti memberi pikiran ruang kosong, bukan hanya distraksi baru.

3. Emosi yang Tidak Diproses Membuat Lelah Menumpuk

Sering kali kamu tetap berfungsi meski sedang sedih, kecewa, atau cemas. Penelitian di Journal of Affective Disorders (2020) menjelaskan bahwa emosi yang ditekan terus-menerus dapat mempercepat kelelahan emosional. Beristirahat juga berarti memberi ruang untuk merasakan dan memahami emosi, bukan hanya menahannya.

4. Istirahat Membutuhkan Rasa Aman, Bukan Sekedar Waktu Luang

Tidak semua waktu luang otomatis menjadi waktu istirahat. Menurut Emotion Review (2021), pemulihan psikologis terjadi saat seseorang merasa aman secara emosional, tidak dinilai, tidak dituntut, dan tidak harus terus waspada. Tanpa rasa aman, tubuh tetap berada dalam mode siaga meski kamu sedang tidak melakukan apa-apa.

5. Istirahat Seharusnya Membuatmu Kembali Terhubung dengan Diri Sendiri

Salah satu tanda kamu benar-benar beristirahat adalah ketika kamu kembali merasa “utuh”. Penelitian dalam Journal of Positive Psychology (2020) menunjukkan bahwa aktivitas reflektif seperti berjalan tenang, journaling, atau mindfulness membantu meningkatkan kesejahteraan dan pemulihan energi. Di momen seperti ini, kamu tidak hanya berhenti bergerak, tetapi juga kembali hadir pada dirimu sendiri.

Jika kamu kesulitan menjawab kapan terakhir kali kamu benar-benar beristirahat, itu bukan karena kamu lemah atau tidak pandai mengatur waktu. Bisa jadi karena hidupmu terlalu lama berjalan tanpa jeda yang sesuai kebutuhan. Istirahat yang sesungguhnya, bukan tentang berhenti dari aktivitas saja, tapi tentang memberi dirimu ruang untuk bernapas, merasa aman, dan “kembali pulang” pada diri sendiri.