Mari Menyelami Karya Yang Berpadu Dengan Medium Kertas di Art Jakarta Papers

A Cintavaty 16 Feb 2026

Jakarta kembali menyambut satu perhelatan seni yang terasa intim namun penuh makna. Pada 5 Februari 2026, Art Jakarta resmi membuka rangkaian program tahunannya melalui edisi perdana Art Jakarta Papers, sebuah pekan seni rupa yang secara khusus menyoroti medium kertas—medium yang kerap dianggap sederhana, namun menyimpan peran fundamental dalam praktik artistik.

Bertempat di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Art Jakarta Papers 2026 dibuka dalam sebuah seremoni yang hangat dan berkesan. Penampilan TRUST Orchestra, orkestra komunitas terbesar di Jakarta yang baru saja meraih Gold Medal pada World Orchestra Festival 2025, menjadi pembuka yang menandai dimulainya perjalanan empat hari pameran ini. Hadir dalam peresmian antara lain Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, serta perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, menandakan kuatnya dukungan lintas sektor terhadap perkembangan ekosistem seni rupa di Indonesia.


Art Jakarta Papers 2026 menghadirkan 28 galeri dari Indonesia dan Asia, dengan fokus presentasi pada karya berbasis kertas—mulai dari gambar, cetak grafis, ilustrasi, fotografi, hingga instalasi dan patung. Skala pameran yang lebih ringkas justru menciptakan pengalaman yang akrab, memungkinkan pengunjung menelusuri setiap karya dengan perhatian yang lebih personal.


Dalam sambutannya, Hafidh Ahmad Irfanda, VIP Relations Director Art Jakarta, mengisahkan bahwa gagasan mengenai pameran seni kertas telah tumbuh sejak masa pandemi. Setelah melalui diskusi panjang, Art Jakarta Papers akhirnya terwujud sebagai ruang kolektif yang merespons perubahan zaman sekaligus memperkuat praktik seni rupa yang berakar pada eksplorasi material dan gagasan.


Dukungan terhadap edisi perdana ini datang dari dua Lead Partners, Sucor Asset Management dan BCA. Kolaborasi ini mempertemukan dunia seni dan finansial dalam pendekatan yang segar. Sucor AM menghadirkan Sucor AM Corner, instalasi interaktif bersama seniman Naufal Abshar yang memaknai investasi melalui metafora permainan catur. Sementara itu, BCA melalui myBCA berkolaborasi dengan Rudy Atjeh menghadirkan myBCA Space, instalasi berbahan kertas yang mengajak pengunjung berinteraksi dan berkontribusi pada pertumbuhan karya secara kolektif.


Selain presentasi galeri, Art Jakarta Papers juga menampilkan dua presentasi tunggal melalui AJ Spot. Iwan Effendi memperkenalkan “Lembam”, patung boneka berskala besar berbahan kertas yang merefleksikan ingatan dan emosi. Di sisi lain, Ruang MES 56 menghadirkan lokakarya interaktif “Bayangan Benda & Jejak Cahaya”, membuka ruang eksplorasi fotografi analog berbasis partisipasi.


Lebih dari sekadar pameran, Art Jakarta Papers juga menghadirkan program publik berupa diskusi dan lokakarya yang mengulas peran kertas dalam seni rupa, tantangan konservasi, hingga peluang pasar internasional. Rangkaian ini menegaskan bahwa kertas bukan medium sekunder, melainkan fondasi penting dalam produksi pengetahuan visual dan praktik artistik kontemporer.


Berlangsung hingga 8 Februari 2026, Art Jakarta Papers menjadi penanda langkah baru Art Jakarta dalam memperluas ekosistem seni rupa yang beragam, berkelanjutan, dan relevan. Di tengah hiruk-pikuk kota, pameran ini mengajak publik untuk berhenti sejenak—memandang, membaca, dan merasakan kembali kekuatan medium kertas sebagai ruang temu antara ide, ingatan, dan masa depan seni rupa Indonesia.