Pertama Kalinya di Asia, Max Mara Art Prize for Women Pilih Indonesia dan Museum MACAN

Rayoga Akbar 17 Feb 2026

Seni dan fashion adalah dua kolaborator yang tak terpisahkan. Keduanya saling menginspirasi dengan cara yang unik. Di satu sisi, seni menjadi sumber inspirasi tak terbatas bagi para desainer. Di sisi lain, fashion membuka panggung baru bagi seniman untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Kolaborasi keduanya sebenarnya bukan hanya dalam sebatas kreativitas maupun komersial. Seperti Max Mara dengan programnya yang bertajuk Max Mara Art Prize for Women.

Sudah dua dekade berjalan, Max Mara Art Prize for Women adalah program yang digagas label asal Italia tersebut bersama Collezioni Maramotti untuk memberi dukungan kepada para seniman perempuan. Baik bagi mereka yang baru maupun sudah cukup lama terjun menekuni dunia seni. Collezione Maramotti sendiri merupakan sebuah galeri seni di kota Reggio Emilia, Italia, milik Achille Maramotti yang juga merupakan pendiri dari Max Mara. 

Melanjuti kesuksesan kerja sama dengan Whitechapel Gallery di London, Max Mara kini memperluas cakupannya ke format global yang berpindah dari satu negara ke negara lain. Dan untuk pertama kalinya di Asia, program ini hadir di Indonesia.

Museum MACAN Terpilih Menjadi Rekanan Baru

Max Mara Art Prize for Women memilih Museum MACAN sebagai rekanan untuk periode 2025 hingga 2027. “Kami merasa sangat terhormat dapat berkolaborasi dengan Max Mara dan Collezione Maramotti dalam penyelenggaraan Max Mara Art Prize for Women yang untuk pertama kalinya hadir di Asia, tepatnya di Indonesia. Sebagai platform terdepan yang mengamplifikasi suara perempuan dalam kancah seni rupa internasional, penghargaan ini memainkan peran penting dalam membentuk wacana kontemporer sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi para seniman perempuan. “ ujar Venus Lau dalam keterangan pers. 

Enam juri akan menyeleksi seniman yang akan bergabung. Mereka adalah : 

  • Cecilia Alemani, kurator dari Max Mara Art Prize for Women dan ketua dewan juri.
  • Venus Lau, Director Museum MACAN
  • Amanda Ariawan, kurator
  • Megan Arlin, pemilik galeri
  • Evelyn Halim, kolektor
  • Melati Suryodarmo, seniman.

Bagi Cecilia Alemani, keputusan untuk memilih Indonesia dan Museum MACAN bukan hanya karena soal geografis. Tapi juga untuk membuktikan bahwa seni tak hanya berkembang di dunia Barat.  

“Keputusan untuk membawa edisi kesepuluh ini ke panggung dunia—secara khusus ke Indonesia dan MACAN—bukan sekadar perluasan geografis, melainkan sebuah pernyataan tegas: di era ini, Barat tidak lagi memegang monopoli atas inovasi artistik,” ujar Cecilia.

Residensi di Italia

Max Mara

Nantinya pemenang dari setiap kategori akan mendapatkan kesempatan menjalani residensi selama enam bulan di Italia, yang diselenggarakan oleh Collezione Maramotti dan dirancang secara personal sesuai kebutuhan artistik maupun profesionalnya.

Program residensi ini bertujuan memberi ruang dan waktu yang ideal bagi sang pemenang untuk fokus mengembangkan sebuah proyek seni baru. Karya tersebut kemudian akan dipresentasikan dalam dua pameran tunggal: satu di institusi mitra untuk edisi tersebut, dan satu lagi di Collezione Maramotti, yang sekaligus akan mengakuisisi karya-karya yang dibuat.

Pada akhirnya, inisiatif seperti ini membuktikan bahwa kolaborasi seni dan fashion bukan sekadar perkara kreativitas atau estetika. Ia juga bisa menjadi platform strategis yang memperkuat suara dan memperluas panggung karya perempuan ke level internasional. Art and fashion can be empowerment! Kini, tinggal menunggu siapa nama yang akan menandai fase berikutnya dari dialog dinamis antara seni dan fashion ini. Stay tuned!