Kenapa Perempuan Mudah Merasa “Tidak Cukup”?

Redaksi 2 19 Feb 2026

Perempuan sering memiliki perasaan yang datang tanpa suara, yaitu rasa “tidak cukup”. Kamu mungkin sudah berusaha keras, menjalani banyak peran, dan melakukan yang terbaik, tapi tetap merasa tertinggal, kurang, atau belum layak. Perasaan ini tidak selalu muncul dari kegagalan nyata, tapi dari standar yang terasa terus bergerak menjauh.

Fenomena ini bukan sekadar masalah kepercayaan diri. Banyak penelitian menunjukkan bahwa perempuan memang lebih rentan mengalami perasaan tidak cukup karena faktor psikologis dan sosial yang kompleks. Berikut fakta-faktanya.

1. Tekanan Sosial yang Multidimensional Pada Perempuan

Perempuan sering menghadapi standar yang datang dari banyak arah sekaligus, mulai dari penampilan, karier, peran keluarga, hingga kepribadian. Menurut Journal of Social Issues (2018), tekanan sosial yang berlapis meningkatkan kecenderungan evaluasi diri negatif. Ketika standar terasa terlalu banyak dan tidak realistis, kamu bisa merasa tidak pernah benar-benar “cukup” di semua aspek.

2. Budaya Perbandingan yang Semakin Intens

Media sosial memperkuat kecenderungan membandingkan diri. Studi dalam Computers in Human Behavior (2019) menemukan bahwa perempuan lebih sering terpapar konten yang menampilkan standar ideal, terutama terkait penampilan dan pencapaian hidup. Paparan berulang membuat hidup orang lain terlihat lebih sempurna, sementara prosesmu sendiri terasa kurang berarti.

3. Pola Pengasuhan dan Internalized Expectations

Banyak perempuan tumbuh dengan harapan untuk menjadi penyesuai, penjaga harmoni, dan pemberi. Penelitian dalam Developmental Psychology (2017) menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang menekankan kesempurnaan dan kepatuhan dapat meningkatkan kecenderungan self-criticism di masa dewasa. Tanpa disadari, kamu mungkin membawa standar internal yang sangat tinggi terhadap diri sendiri.

4. Perfeksionisme yang Terselubung

Perfeksionisme pada perempuan sering tidak terlihat sebagai ambisi, melainkan sebagai tuntutan untuk selalu “cukup baik” bagi semua orang. Menurut Personality and Individual Differences (2020), perfeksionisme maladaptif berkaitan dengan perasaan tidak puas yang kronis. Meski pencapaian bertambah, rasa cukup tetap terasa jauh.

5. Kurangnya Validasi Internal

Banyak perempuan terbiasa mencari pengakuan dari luar, baik dari lingkungan, relasi, maupun pencapaian. Studi dalam Journal of Positive Psychology (2021) menunjukkan bahwa ketergantungan pada validasi eksternal meningkatkan rasa tidak cukup. Ketika nilai diri bergantung pada respons orang lain, perasaan layak menjadi mudah goyah.

Perasaan tidak cukup bukan tanda kamu kurang kuat, hanya saja cerminan dari tekanan yang sering tidak terlihat. Dengan memahami penyebab perempuan mudah merasa tidak cukup, kamu bisa mulai memindahkan standar dari luar ke dalam, dari memenuhi ekspektasi menjadi memahami kebutuhanmu sendiri. Karena rasa cukup bukan datang dari menjadi sempurna, tapi dari menerima bahwa dirimu sudah berharga, bahkan saat masih dalam proses.