Re.Uniqlo Studio Hadirkan Makna Baru Ramadan Lewat Gerakan Decluttering
Decluttering lemari sebenarnya bukan cuma soal merapikan tumpukan baju, tapi juga semacam reality check kecil tentang perjalanan gaya kita. Dari potongan yang dulu terasa sangat “on trend” hingga pilihan fashion yang kini terasa… well, cukup jadi kenangan saja. Siapa pun pasti pernah punya fase—entah T-shirt grafis era ’90-an atau siluet low-rise yang dulu terasa edgy, tapi sekarang mengundang senyum tipis setiap kali terlihat di gantungan.
Di sisi lain, momen ini justru menghadirkan kesempatan menyenangkan untuk memulai ulang. Membersihkan lemari terasa seperti memberi napas baru—membuka ruang bagi energi segar, gaya yang lebih relevan, dan pilihan yang terasa lebih you. Pergantian musim pun jadi alasan sempurna untuk menyambut tampilan yang lebih sadar, ringan, dan tentunya lebih terkurasi.
Menariknya, kebiasaan sederhana ini juga dilihat sebagai langkah yang bisa membawa dampak lebih luas. Perusahaan ritel pakaian global asal Jepang, Uniqlo, misalnya, memandang decluttering bukan hanya rutinitas personal, tetapi juga aksi yang lebih mindful. Melalui inisiatif yang sejalan dengan pilar keberlanjutan mereka, Planet, Uniqlo mengajak masyarakat melihat pakaian dari perspektif baru—bukan sekadar disimpan atau dibuang saat tak lagi digunakan, melainkan bagian dari siklus hidup yang bisa diperpanjang, dirawat, dan dibagikan kembali. Sebab, terkadang memberi ruang di lemari juga berarti memberi kehidupan kedua bagi sebuah pakaian.
Berangkat dari filosofi LifeWear yang menempatkan esensi, kualitas, dan daya tahan sebagai fondasi utama, Uniqlo menghadirkan pendekatan baru dalam memaknai relasi kita dengan pakaian. Lewat Re.Uniqlo Studio, busana yang masih memiliki potensi tak lagi sekadar menunggu waktu untuk dilepas, melainkan diberi kesempatan kedua untuk berevolusi.

“Sebagai perusahaan global yang menjalankan bisnis berbasis keberlanjutan, kami melihat mindful decluttering bukan hanya sebagai kampanye musiman, tetapi menjadi bagian dari komitmen kami terhadap circular fashion, dengan mengurangi limbah tekstil sekaligus mendorong kebiasaan konsumsi yang lebih bijak. Partisipasi masyarakat dalam program clothing donation, di mana pelanggan bisa mengumpulkan pakaian yang sudah tidak digunakan melalui recycle box yang ada di seluruh toko Uniqlo, akan memberi makna baru pada pakaian melalui donasi dan daur ulang. Dengan begitu, proses decluttering tidak berhenti pada membuang, tetapi berlanjut pada berbagi dan memperpanjang siklus hidup pakaian,“ ujar Michelle Secoa, Sustainability Lead Uniqlo Indonesia.
Melalui layanan repair dan remake, setiap potong pakaian dapat diperbarui dengan sentuhan personal seperti bordir atau teknik sashiko—dimulai dari Rp70.000 per desain—mengubah yang lama menjadi terasa kembali relevan. Sebuah pengingat halus bahwa sebelum berpisah dengan pakaian, selalu ada ruang untuk merawat, memperbaiki, dan menafsirkan ulang nilainya.

Lebih dari sekadar layanan, Re.Uniqlo Studio merepresentasikan komitmen Uniqlo terhadap circular fashion, sekaligus mengajak masyarakat mengadopsi konsumsi yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Berdonasi dengan menyalurkan pakaian Uniqlo ke dalam recycle box
Memasuki bulan suci Ramadan, Uniqlo menghadirkan Hari Raya Clothing Donation Collection 2026 sebagai pengingat bahwa berbagi dapat dimulai dari hal paling personal—lemari pakaian sendiri. Melalui inisiatif ini, pelanggan dapat menyalurkan pakaian Uniqlo yang sudah tidak digunakan dengan memasukkannya ke dalam recycle box yang tersedia di seluruh toko Uniqlo. Seluruh donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada masyarakat kurang mampu dalam program distribusi yang berlangsung pada Mei 2026.

Lebih dari sekadar tradisi merapikan lemari tahunan, inisiatif ini mengajak masyarakat melihat decluttering sebagai bagian dari gerakan keberlanjutan yang berdampak nyata—baik bagi lingkungan maupun sesama. Pakaian yang didonasikan akan melalui proses penyortiran sebelum disalurkan melalui mitra sosial, salah satunya Human Initiative. Uniqlo menerima pakaian dalam kondisi bersih dan layak pakai, serta tidak mengalami kerusakan signifikan seperti sobekan besar, noda berat, atau kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
Melalui jaringan komunitas lokal dan mitra lapangan, Human Initiative mendistribusikan pakaian kepada anak-anak, perempuan, dan keluarga di komunitas rentan, termasuk wilayah terdampak bencana dan daerah dengan keterbatasan akses kebutuhan dasar, memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran sesuai kebutuhan penerima.
“Selama 5 tahun berkolaborasi bersama Uniqlo, kami telah menyalurkan lebih dari 14.000 pakaian baru dan lebih dari 20.000 pakaian bekas, dengan total lebih dari 11.000 penerima manfaat di berbagai wilayah di Indonesia. Distribusi ini mencakup lebih dari 6.700 pakaian baru untuk penyintas bencana, ribuan pakaian layak pakai untuk masyarakat prasejahtera, hingga program tahunan Hari Raya yang secara konsisten menjangkau ribuan penerima manfaat. Kami melihat inisiatif ini bukan sekadar distribusi bantuan, tetapi bagian dari ekosistem kolaboratif yang mendukung pengurangan limbah tekstil sekaligus memperkuat ketahanan sosial di komunitas rentan, termasuk wilayah terdampak bencana dan daerah dengan keterbatasan akses kebutuhan dasar,“ jelas Anisa Zulhaida, Partnership Human Initiative.

Lewat langkah sederhana—dimulai dari sehelai pakaian—sebuah harapan baru dapat tercipta. Melalui inisiatif ini, Uniqlo kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pakaian yang tidak hanya meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga membawa dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.