Ciao, Bella! Milan FW/26 Baru Saja Redefinisikan Kata 'Extra' (And We’re Obsessed!)
Move over, "Quiet Luxury." Milan Fashion Week baru saja berakhir, dan vibe untuk Fall/Winter 2026 resmi hadir dengan suara lantang: loud, layered, dan sedikit fuzzy. Di tengah momen protes anti-fur yang terjadi di depan venue Fendi dan Giorgio Armani, panggung runway Milan justru tetap tampil percaya diri mendefinisikan ulang gaya klasik dengan sentuhan playful dan dosis warna pink yang masif.
Mulai dari trik styling Prada yang bikin otak berputar sampai tren bulu-bulu di Fendi, ini dia definitive cheat sheet soal tren yang bakal living rent-free di lemari kamu musim dingin nanti!
1. The New Fur: Ethics Meets Aesthetics
Material paling kontroversial di dunia fashion akhirnya mendapat sustainability glow-up yang sesungguhnya. Di panggung Milan Fashion Week Fall/Winter 2026, para desainer tidak sekadar menghapus real fur dari koleksi mereka; mereka menggantinya dengan inovasi yang bahkan lebih memukau: sutra fil coupé yang meniru kilau bulu, synthetic shearling yang tak kalah mewah, hingga mantel berbahan upcycled yang tetap terasa seperti investasi jangka panjang.
Fendi, yang namanya sudah lama menjadi sinonim bagi fur craftsmanship kelas dunia, memilih untuk kembali ke akarnya dengan cara yang inovatif. Di tangan Maria Grazia Churi, koleksi Fall/Winter 2026 ini tidak mengabaikan warisan dan identitas mereka, melainkan mendefinisikannya ulang. Fur yang hadir di runway bukan material baru, melainkan hasil upcycling dari bahan lama yang direkonstruksi menjadi selendang bulu, kerah, dan mantel patchwork dengan siluet yang tetap modern dan intensional. Lebih dari sekadar gestur simbolis, keputusan ini adalah cara yang elegan untuk membuktikan bahwa warisan dan tanggung jawab sebuah brand ternama bisa dan harus berjalan beriringan. Di industri yang terus bergerak dengan konsumen yang semakin kritis, desainer yang mampu menjaga identitasnya sekaligus tumbuh bersama zamannya bukan hanya yang paling dicintai, tapi juga yang paling bertahan.

Bottega Veneta, di sisi lain, mengambil pendekatan yang berbeda dan mungkin yang paling mengesankan secara teknis dan keahlian di musim ini. Louise Trotter dan tim artisan Bottega justru menjadikan fur ban sebagai tantangan kreatif, bukan sekadar batasan. Hasilnya adalah koleksi yang penuh dengan tekstur memukau: mantel dengan permukaan bristled yang menyerupai matchstick, sutra fil coupé yang meniru kilau bulu dengan presisi luar biasa, hingga hand-tinted shearling yang terasa begitu nyata sampai kamu benar-benar harus cek labelnya dua kali.

2. Layering 2.0: The Art of the Reveal
Lupakan cara lama memakai sweater dan menganggapnya selesai. Musim ini, para desainer, terutama Miuccia Prada & Raf Simons , mengubah cara berpakaian menjadi sebuah pertunjukan tersendiri. Bukan sekadar soal apa yang kamu pakai, tapi bagaimana kamu melepasnya.
Trend Alert: "More is more, and then you take some off." — The Prada Mantra.

Dalam salah satu show paling viral musim ini, Prada hanya menggunakan 15 model pilihan; sebuah keputusan yang penuh dengan perhitungan. Bintang utamanya? Bella Hadid. Our favorite IT-girl ini berjalan empat kali di runway yang sama, dan setiap kali ia muncul kembali, satu per satu lapisan bajunya dilepas untuk menunjukkan look yang benar-benar berbeda.
Transformasinya berlangsung seperti adegan demi adegan dalam sebuah pertunjukan teater. Di putaran pertama, Bella tampil dengan mantel kulit yang berat dan rugged; berkesan kuat dan memenuhi seluruh ruangan. Di putaran berikutnya, mantel itu menghilang, mengungkapkan jas hujan selutut berwarna navy dengan kerah yang tegas dan material transparan yang membalut gaun tailored berwarna putih dengan grafik di area roknya. Hingga akhirnya, ia muncul kembali dalam rok sheer yang ringan dan sangat feminin, seolah semua lapisan pelindung itu sudah tidak diperlukan lagi.
Inilah yang membuat tren layering musim ini berbeda dari sebelumnya. Bukan soal menumpuk pakaian demi kehangatan atau estetika, melainkan cara bercerita lewat busana. Setiap lapisan yang dilepas adalah sebuah pernyataan dan perpaduan tekstur yang saling bertentangan; dari yang kasar dan berat hingga yang ringan dan transparan; justru menciptakan narasi yang terasa bebas, berani, dan chaotic in the best way possible.
3. The "Pink Pill" Strategy
Di tengah dominasi warna hitam dan nuansa netral yang pragmatis, warna Pink yang dapat dilihat di berbagai runway show Fall/Winter 2026 Milan, bukan pink yang ragu-ragu, melainkan warna yang datang dengan pendirian, dan empat brand Milan membuktikannya dengan cara yang masing-masing sangat berbeda.

Diesel menghadirkan pink dalam bentuknya yang paling provokatif: gaun sutra floral yang didrapir secara dekonstruktif, dipadukan dengan aksesori yang nyaris kitschy di tengah set peragaan busana penuh kue raksasa dan dekorasi permen. Hasilnya terasa liar dan menyatakan: pink bukan sebagai pilihan yang manis, tapi sebagai pernyataan sikap.
MSGM memadukan blazer abu-abu oversized yang structured dengan gaun mini penuh ruffles pink yang bervolume, ditambah pita besar di leher dan hak hijau lime yang menjadi titik kontras untuk gaun pink-nya.
Marni mengambil pendekatan yang lebih subtle. Rok jacquard pink bertekstur floral timbul dipadukan dengan atasan strapless emas dan kalung skulptural, kombinasi yang terasa slightly off, tapi intensional. Pink hadir bukan sebagai focal point, melainkan sebagai elemen yang mengangkat keseluruhan look.
Ermanno Scervino menutup argumen ini dengan cara yang paling to the point: mantel faux fur pink oversized di atas slip dress blush dengan detail renda emas, lengkap dengan tas senada.
Kesimpulannya? Pink musim ini bukan milik satu estetika saja — ia bisa dijadikan dekonstruktif, teatrikal, artistik, atau romantis. Pada akhirnya, warna tersebut dapat diinterpretasikan dan digunakan untuk merepresentasikan berbagai ide serta simbolisme yang berbeda, sesuai dengan pendekatan kreatif dan visi sang desainer.