Interpretasi Peplum di Paris Fashion Week Fall/Winter 2026
Jika ada satu siluet yang diam-diam mendominasi Paris Fashion Week Fall/Winter 2026, jawabannya adalah peplum. Namun, musim ini, interpretasinya jauh lebih luas dari sekadar flare klasik di bagian pinggang. Para desainer mengeksplorasi siluet peplum sebagai permainan volume yang muncul di berbagai titik siluet, mulai dari pinggang, hem rok, hingga lapisan struktural pada jaket.
Versi terbaru ini terasa lebih ringan, skulptural, dan penuh movement. Dari ruffle lembut hingga tailoring yang tegas, permainan flare dan volume ini muncul sebagai bentuk baru dari power silhouette di runway Paris.
Rumah mode seperti Dior, Alexander McQueen, Jacquemus, dan Alaïa menghadirkan interpretasi yang berbeda-beda, namun semuanya menunjukkan satu benang merah: eksplorasi volume yang membentuk tubuh dengan cara yang baru dan modern.
Di Dior, Jonathan Anderson menghadirkan reinterpretasi baru dari siluet peplum melalui ikon rumah mode ini: Bar Jacket. Show Fall/Winter 2026 digelar di Tuileries Garden, sebuah pilihan yang intensional, menegaskan bahwa siluet musim ini memang dirancang untuk mengikuti pergerakan tubuh . Anderson sendiri pada dasarnya “mengambil struktur klasiknya dan membuatnya jauh lebih ringan”, letting things drape, lighten, and flow.

Beberapa look menampilkan jaket dengan kancing emas yang memekar lembut di bagian bawah, dipadukan dengan rok mini wol krem dan nude atau rok pleated yang mengalir dalam palet netral khas Dior. Salah satu reinterpretasi paling menarik muncul sebagai kardigan rajut abu-abu dengan peplum bergelombang di titik pinggang, dipadukan dengan rok putih multilayer menyerupai tutu.
Melalui ini, Jonathan Anderson menulis storyline baru untuk Bar Jacket Dior; tetap ikonik, tetapi lebih ringan, modern, dan penuh movement.
Di Alexander McQueen, Sean Mcgirr menampilkan peplum yang jauh lebih romantis dan ethereal dibandingkan dengan interpretasi tailoring klasik yang biasanya diasosiasikan dengan siluet ini. Bukan sekadar muncul melalui suiting yang tegas atau outerwear yang berat, volume peplum diterjemahkan ke dalam rangkaian look yang terasa hampir seperti fantasi.

Beberapa look menampilkan gaun mini dengan bodice woven yang menciptakan struktur di bagian torso sebelum melembut menjadi rok yang lebih ringan. Ada juga korset abu-abu yang dipasangkan dengan rok lace berlapis, di mana volume terbentuk secara alami dari lapisan-lapisan yang bertumpuk halus. Sementara itu, flowy blouse dengan tier tipis memperlihatkan bagaimana flare dan movement dimanfaatkan untuk membangun proporsi yang dramatis, tanpa pernah terasa kaku atau berlebihan.
Pendekatan McQueen musim ini terasa menarik karena logika peplum—volume yang mengembang di titik tertentu untuk menonjolkan siluet—diterapkan pada garmen yang sangat delicate. Ruffles yang tipis, layer yang ringan, dan tekstur yang lembut memberikan keseluruhan koleksi sebuah aura yang hampir dreamy, memperlihatkan sisi McQueen yang lebih romantis sekaligus skulptural.
Di Jacquemus, peplum muncul dalam interpretasi yang terasa paling grounded musim ini. Pada runway indoor dengan lantai tiles bermotif yang menjadi latar show, Simon Porte Jacquemus menghadirkan gambaran perempuan yang stylish tanpa terlihat seperti sedang berusaha terlalu keras.

Menariknya, Jacquemus tidak menempatkan peplum pada titik klasik di pinggang. Sebaliknya, volume tersebut dipindahkan ke bagian hem dress dan rok, menciptakan flare yang muncul di bawah siluet yang tetap ramping di pinggul. Beberapa look menampilkan gaun dan rok dengan potongan yang fitted terlebih dahulu sebelum tiba-tiba memekar di bagian bawah, membentuk efek hampir seperti trumpet atau mermaid silhouette.
Pendekatan ini membuat logika peplum yang biasanya bervolume yang mengembang untuk menciptakan proporsi dramatis terasa lebih subtle namun tetap presisi. Tailoring tetap clean dengan palet warna netral seperti putih, cokelat, dan abu-abu, sementara struktur siluet menjaga fokus pada permainan bentuk. Hasilnya adalah interpretasi peplum yang terasa elegan, modern, dan sangat khas Jacquemus: minimal, confident, dan quietly striking.
Di Alaïa, peplum muncul dalam interpretasi yang paling arsitektural musim ini. Koleksi ini juga menandai koleksi terakhir Pieter Mulier untuk Alaïa, sebuah penutup yang terasa selaras dengan pendekatannya yang dikenal dengan quiet perfectionism.

Beberapa look menampilkan peacoat dan jaket berstruktur sebelum melebar dramatis di bagian bawah, membentuk peplum yang skulptural dalam palet hitam, abu-abu, dan krem. Di look lain, jaket double-breasted dipadukan dengan rok pleated bertingkat yang bergerak dinamis, menciptakan kontras antara bagian atas yang tegas dan bagian bawah. Highlight koleksi ini adalah kombinasi turtleneck putih dengan cascading ruffle skirt yang hasilnya memberikan kesan minimal di atas dan dramatis di bawah.
Sebagai koleksi penutupnya, pendekatan Mulier terasa sangat presisi: peplum bukan sekadar detail dekoratif, melainkan bagian dari konstruksi siluet yang menunjukkan bagaimana volume dapat menjadi bentuk tertinggi dari disiplin desain.