7 Deretan Film Jessie Buckley, Tunjukkan Kemampuan Lewat Berbagai Genre

Redaksi 19 Mar 2026

Jessie Buckley telah membangun reputasi sebagai seorang aktris yang benar-benar transformatif, sehingga semakin pantas jika penghargaan film besar pertamanya datang dari sebuah proyek yang berakar pada dunia William Shakespeare.

Pada musim penghargaan ini, ia berhasil membawa pulang penghargaan Aktris Terbaik dari Critics Choice Awards, British Academy Film Awards, Golden Globes, SAG Awards dan Academy Awards (Oscar) untuk perannya sebagai Agnes, istri Shakespeare, dalam Hamnet. Ia bahkan menjadi aktris perempuan pertama berdarah Irlandia yang dapat menyabet piala Oscar! 

Kemampuan aktris satu ini, pastinya tidak terlatih hanya dalam satu malam. Terdapat sederet proyek film yang diperankan oleh Buckley, dengan berbagai macam karakter. Kerja kerasnya kini semakin diakui, dan film-film lainnya mulai meningkatkan rasa penasaran publik.

Berikut, Cosmo bagikan deretan film Jessie Buckely.

1. The Bride! (2026)

Meskipun belum tersedia untuk ditonton secara streaming, film ini akan tayang perdana di bioskop Australia pada 5 Maret. Disutradarai oleh Maggie Gyllenhaal dalam film ini,  Jessie Buckley berperan sebagai Pengantin Frankenstein versi baru. 

Karakter ini merupakan sosok menyeramkan yang dibentuk menyerupai makhluk aslinya. Berlatar belakang Chicago tahun 1930-an, film ini juga menampilkan Christian Bale. Patut banget ditunggu, kalau kamu penggemar Frakenstein maupaun penggemar aksi akting dari Buckley.

2. Hamnet (2025)

Film yang satu ini membawa nama Jessie Buckley semakin dikenal. Berlatar di Inggris abad ke-16, Hamnet mengisahkan Agnes (Jessie Buckely) dan William Shakespeare (Paul Mescal) saat mereka menghadapi kehilangan yang menghancurkan atas putra mereka yang berusia 11 tahun akibat wabah penyakit. 

Diliputi kesedihan, Agnes–seorang penyembuh–harus menemukan ketabahan untuk merawat anak-anaknya yang masih hidup sementara ia dan suaminya berdamai dengan kerapuhan hidup dan sifat penyakit yang tak pandang bulu tersebut.

Penampilannya yang intens dan memilukan sebagai seorang ibu yang berduka karena kehilangan anaknya membuatnya meraih sederet penghargaan beberapa waktu ke belakang, yang mengakui kemampuan aktingnya.

3. Wicked Little Letters (2023)

Terinspirasi oleh kisah nyata yang terasa terlalu aneh untuk menjadi kenyataan, film ini mengikuti Jessie Buckley yang berhadapan langsung dengan Olivia Colman di lingkungan pantai Inggris tahun 1920-an yang penuh skandal. 

Ketika gelombang surat anonim yang eksplisit mengguncang kota yang tenang itu, ibu tunggal Irlandia yang dieprankan Buckley, dengan cepat menjadi tersangka utama. Film ini memiliki perpaduan antara misteri dan satir sosial yang tajam.

Karakter Buckley turut memberikan penampilan yang berani dan tanpa filter–dilapisi emosi, pembangkangan, dan ketepatan waktu komedi yang sangat tajam, berhasil menghidupkan sosok perempuan yang jauh melampaui zamannya.

4. Women Talking (2022)

Ditayangkan di Amazon Prime Video, drama pemenang Oscar karya Sarah Polley ini menungkapkan keintiman yang tenang sekaligus bobot emosional yang mendalam. Berlatar di sebuah komunitas keagamaan yang terpencil, film ini mengikuti sekelompok wanita saat mereka menghadapi iman, trauma, dan keputusan yang sulit. 

Pusat cerita ada pada karakter Mariche, yang diperankan oleh Jessie Buckley, yang memiliki konflik batin. Ia terjebak antara kesetiaan kepada suaminya dan solidaritas dengan kelompok para wanita, yang menjadi inti emosional cerita.

5. The Lost Daughter (2021)

Ditulis dan disutradarai oleh Maggie Gyllenhaal, drama psikologis ini berpusat pada Leda Caruso, seorang profesor dan penerjemah yang diperankan oleh Olivia Colman, yang pertemuannya dengan seorang ibu muda dan putrinya membangkitkan kenangan yang mengganggu dari masa lalunya. 

Jessie Buckley memerankan Leda versi muda, dan mendapatkan nominasi Academy Award untuk Aktris Pendukung Terbaik. Sebagai debut penyutradaraan film panjang Gyllenhaal, film ini diputar perdana di Festival Film Internasional Venesia ke-78 dan menampilkan pemeran pendukung yang kuat termasuk Dakota Johnson, Paul Mescal, Dagmara Domińczyk, Jack Farthing, Oliver Jackson-Cohen, Peter Sarsgaard, dan Ed Harris.

6. I’m Thinking of Ending Things (2020)

Penulis sekaligus sutradara Charlie Kaufman menghadirkan surealisme khasnya dalam film thriller psikologis ini, yang diadaptasi dari novel karya Iain Reid tahun 2016. Kisah ini mengikuti seorang perempuan muda, yang diperankan oleh Jessie Buckley, yang identitasnya berubah secara halus sepanjang film saat ia melakukan perjalanan bersama pacarnya, Jake (Jesse Plemons), untuk bertemu orang tuanya, yang diperankan oleh Toni Collette dan David Thewlis. 

Saat ia diam-diam mempertanyakan masa depan hubungan mereka, perjalanan pasangan yang semakin meresahkan ini, muncul seorang petugas kebersihan sekolah yang tampaknya tidak terkait, yang diperankan oleh Guy Boyd, yang alur ceritanya secara bertahap terungkap secara paralel.

7. Wild Rose (2018)

Sekilas, Wild Rose terasa seperti kisah yang familiar, sebuah kisah patah hati, mimpi-mimpi di dunia musik country, dan seorang sosok yang tidak diharapjan, yang gigih mengejar ketenaran musik melawan segala rintangan. Namun film ini dengan cepat menumbangkan ekspektasi tersebut, menawarkan sudut pandang yang lebih segar dan tak terduga pada genre ini. 

Film ini dibuka dengan premis yang menarik, Rose adalah seorang perempuan muda dari kelas pekerja Glasgow dengan mimpi besar untuk menjadi penyanyi country. Dibesarkan oleh ibunya yang tangguh namun penyayang, yang diperankan oleh Julie Walters, ia tumbuh dengan perasaan tidak pada tempatnya. Ia memiliki keyakinan bahwa ia ditakdirkan untuk kehidupan yang berbeda. Dalam benaknya, kehidupan itu ada jauh dari Skotlandia, melainkan di jantung Nashville, tempat ia percaya bahwa ia benar-benar berada. 

Penampilan luar biasa dari Jessie Buckley yang memerankan Rose, membawakan energi yang mentah sekaligus luar biasa, magnetis, berantakan, dan sangat manusiawi.

Penampilannya pun melampaui akting, ia menyanyikan semua lagu sendiri dan bahkan ikut menulis beberapa di antaranya, menunjukkan kekuatannya sebagai seorang musisi.

Menariknya, peran Rose juga mendorong Buckley untuk keluar dari zona nyamannya. Sebelumnya hanya menekuni musik Celtic, ia merangkul musik country untuk film ini dan mulai benar-benar menghargai genre tersebut. Untuk sepenuhnya menghayati karakternya, ia bahkan menggunakan aksen Skotlandia, menambahkan lapisan otentisitas pada penampilannya.