15 Film Rom-Com dari Era 90an Untuk Menemani Liburan
Jika ada satu hal yang patut disalahkan oleh para hopeless romantics atas ekspektasi cinta yang—jujur saja—terlalu muluk, jawabannya adalah film komedi romantis era 1990-an. Anda pasti familier: setiap perempuan selalu memiliki momen meet-cute dengan pria impiannya (meski belum disadari saat itu!), hubungan berkembang dalam tempo super cepat, lalu diakhiri dengan satu grand gesture yang dramatis—dan voilà, mereka pun yakin ditakdirkan bersama dan hidup bahagia selamanya. Klise? Jelas. Mudah ditebak? Sudah pasti. Realistis? Tidak juga. Tapi justru di situlah pesonanya.
Film Rom-Com Era '90an
Dekade ‘90-an bisa dibilang sebagai masa keemasan rom-com. Banyak film paling ikonis dalam genre ini lahir dan merajai layar lebar—sebut saja Clueless, Pretty Woman, hingga Sleepless in Seattle. Nama-nama seperti Julia Roberts dan Meg Ryan pun seolah menjadi “ratu” rom-com, membintangi satu film sukses setelah yang lain—seakan pekerjaan utama mereka hanyalah berakting jatuh cinta dengan rekan kerja yang tampan di layar.
Sembari menikmati liburan, kenapa tidak untuk mulai menonton (atau menonton kembali) deretan film komedi romantis dari era ‘90an berikut.
1. Clueless (1995)
Kalau Anda belum menonton Clueless setidaknya 10 kali sampai sekarang, rasanya ada yang terlewat, my friend. Cher Horowitz benar-benar sosok inspiratif saat ia berusaha menavigasi kehidupan SMA—sekaligus melakukan makeover total untuk murid baru, Tai. Fun fact untuk para penggemar Jane Austen: film ini ternyata terinspirasi dari novel Emma.
2. Four Weddings and a Funeral (1994)
Film inilah yang jadi titik awal Hugh Grant dikenal luas sebagai bintang utama rom-com era ‘90-an. Cerita berfokus pada sekelompok sahabat yang sama-sama menghadapi dua hal paling tak terelakkan dalam hidup: pernikahan dan kematian.
3. The Wedding Singer (1998)
Anda tahu kan, banyak rom-com yang terasa lebih berat di sisi romantis ketimbang komedinya? Namun terkecuali film ini. Adam Sandler dijamin membuat Anda tertawa sampai berkaca-kaca. Ia berperan sebagai penyanyi pernikahan yang justru ditinggalkan di altar pada hari bahagianya sendiri; seiring waktu, ia mulai menaruh hati pada sahabat barunya, Julia (diperankan oleh Drew Barrymore).
4. The Parent Trap (1998)
Film favorit yang hangat dan menyenangkan ini menggabungkan elemen komedi romantis sekaligus kisah persaudaraan dalam satu cerita. Penonton disuguhkan dua karakter yang sama-sama diperankan oleh Lindsay Lohan, sebagai saudara kembar yang terpisah sejak lama dan secara tak terduga bertemu di perkemahan musim panas, lalu menyusun rencana untuk mempertemukan kembali kedua orang tua mereka.
5. There’s Something About Mary (1998)
Film ini sempat menjadi fenomena besar saat pertama kali dirilis dan memang ada alasannya: perpaduan antara humor yang menggelitik dan kisah yang manis terasa seimbang. Ted, pria berusia 29 tahun, menyewa seorang detektif swasta untuk menemukan cinta lamanya semasa SMA, Mary. Namun, sang detektif justru ikut jatuh hati padanya dan segera menyadari bahwa ia bukan satu-satunya yang mengejar Mary.
6. Jerry Maguire (1996)
Film ini bisa jadi pilihan tepat jika Anda ingin mengajak seseorang yang bukan penggemar rom-com untuk ikut menonton. Tom Cruise berperan sebagai agen olahraga yang memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk membangun agensi sendiri, dan satu-satunya rekan kerja yang memilih ikut bersamanya adalah Dorothy, seorang ibu tunggal berusia 26 tahun yang diperankan oleh Renée Zellweger. Seiring waktu, keduanya mulai saling jatuh cinta. Meski tentu saja perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus.
7. Runaway Bride (1999)
Hampir satu dekade setelah kesuksesan Pretty Woman, Julia Roberts dan Richard Gere kembali dipertemukan oleh sutradara Garry Marshall dalam kisah tentang seorang perempuan, seorang pria, dan deretan pernikahan. Film ini mungkin tidak se-memikat Pretty Woman—tolok ukur yang memang sulit ditandingi—namun tetap ada daya tarik tersendiri saat melihat keduanya tampil sebagai pasangan yang terasa tidak selaras, namun sama-sama berusaha menyangkal perasaan mereka. Bonus menariknya: deretan pernikahan (yang sayangnya tidak selalu berakhir bahagia) yang siap memanjakan mata.
8. Notting Hill (1999)
Tahun 1999 menjadi momen yang sangat sibuk bagi Julia Roberts, dengan dua filmnya—Runaway Bride dan Notting Hill—sama-sama tayang di musim panas. Di antara keduanya, Notting Hill jelas lebih ikonis, berkat chemistry luar biasa antara dirinya dan lawan mainnya, Hugh Grant. Namun, kita semua tahu alasan utama film ini begitu tak terlupakan: kalimat legendaris Roberts kepada Grant, “I’m just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.” Sebuah momen rom-com yang benar-benar ikonis.
9. You've Got Mail (1999)
Memang, premis “bertemu di chat room AOL” kini terasa sudah usang—bahkan suara internet dial-up terdengar seperti dari masa lampau—namun Meg Ryan dan Tom Hanks menghadirkan romansa yang begitu hidup dalam film yang manis ini. Film ini juga menempatkan New York City seolah sebagai karakter tersendiri, dan itu justru menambah pesonanya, karena tak banyak yang lebih menyenangkan daripada menyaksikan Hanks dan Ryan saling jatuh cinta—diam-diam dan tanpa disengaja—di berbagai sudut ikonis kota tersebut. Dan adegan terakhir di Riverside Park? Selalu sukses menguras emosi.
10. 10 Things I Hate About You (1999)
Terinspirasi dari The Taming of the Shrew, film ini memadukan jajaran pemain kenamaan seperti Joseph Gordon-Levitt, Julia Stiles, hingga mendiang Heath Ledger dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan terhadap cerita klasik. Tak ketinggalan, ada juga adegan paintball yang khas era ’90-an.
11. My Best Friend's Wedding (1997)
Apakah Julia Roberts adalah ratu rom-com terbaik? Ia jelas termasuk di jajaran teratas, dan kemampuannya menghidupkan sisi romantis sekaligus komedi dengan cara yang segar tentu menjadi nilai lebih. Di tangan aktris lain, My Best Friend’s Wedding mungkin terasa agak mengganggu. Bayangkan saja, seorang perempuan berniat menggagalkan pernikahan sahabatnya sendiri karena baru sadar ia menyukainya? Namun Roberts menghadirkan pesona yang begitu kuat hingga Anda nyaris memaafkannya.
12. Emma (1996)
Hanya setahun setelah Clueless memodernisasi novel Jane Austen dengan hasil yang terasa begitu segar, Gwyneth Paltrow memerankan Emma Woodhouse yang lugu dalam adaptasi yang cukup setia pada materi aslinya. Sama seperti Cher Horowitz, Emma bukan mak comblang yang andal, namun dedikasinya pada cinta, persahabatan, dan akhir bahagia membuatnya terus melangkah—hingga tanpa sadar menutup mata terhadap perasaan yang sebenarnya ia miliki untuk Mr. Knightley yang menawan (Jeremy Northam).
13. While You Were Sleeping (1995)
Sandra Bullock jatuh hati pada seorang pria yang berada dalam kondisi koma—atau lebih tepatnya, ia lebih dulu menyukai seorang pria yang kemudian mengalami kecelakaan hingga koma, lalu tanpa sengaja terjebak dalam kebohongan bahwa ia adalah tunangannya, sebelum akhirnya justru jatuh cinta pada sang adik (beserta keluarganya). Ceritanya memang terasa ruwet, namun tetap manis dan tulus—dan Bullock tampil sangat memikat.
14. Sleepless in Seattle (1993)
Meg Ryan dan Tom Hanks kembali dipertemukan dalam satu “karya klasik” yang kini terasa dari era lain (Siapa, sih, yang masih mendengarkan atau menelepon acara radio interaktif?) Namun, seperti You’ve Got Mail, kehangatan ceritanya mampu melampaui keterbatasan teknologi masa itu. Karakter Annie (Ryan) dan Sam (Hanks) justru menghabiskan sebagian besar film dalam keadaan terpisah, perlahan jatuh cinta secara tidak langsung—dan tanpa disengaja. Ditambah lagi, film yang ditutup dengan pemandangan Empire State Building yang menyala seperti bentuk hati?! Must watch, indeed!
15. Pretty Woman (1990)
Meski menyimpan nuansa yang cukup gelap, Pretty Woman tetap terasa ringan dan menyenangkan—berkat pesona Julia Roberts yang begitu kuat. Adakah yang bisa menandingi daya tarik Roberts saat kotak perhiasan itu hampir menjepit tangannya, lalu ia tertawa lepas dengan tawa khasnya? Rasanya tidak. Karakter Vivian yang ia perankan dengan mudah memikat Edward (Richard Gere), dan memang, bagaimana mungkin tidak? Saat film ini berakhir, rasanya semua orang ikut jatuh cinta padanya.
Artikel ini sudah tayang di Cosmopolitan US. Alih bahasa dan isi telah disesuaikan oleh penulis dan editor.