Mengenal 5 Seniman Perempuan Indonesia yang Jadi Finalis Max Mara Art Prize for Women
Seni dan fashion adalah dua medium tempat mengekspresikan diri. Lebih jauh lagi, bagi perempuan, seni dan fashion adalah medium untuk memperjuangkan kebebasan. Museum of Modern African mencata di era Baroque dan Renaissance, perempuan dilarang untuk mempelajari anatomi, mengikuti pelatihan seni, dan bergabung dengan komunitas pelukis. Sementara dalam hal fashion, perempuan dibelenggu aturan dalam pemilihan baju dan juga korset. Perlahan, perempuan mulai menyuarakan aspirasinya dan menjadikan seni dan fashion sebagai salah dua mediumnya.
Sejarah panjang akan peran seni dan fashion dalam memberdayakan perempuan juga melatari lahirnya Max Mara Art Prize for Women. Sebuah program yang digagas Max Mara untuk memberikan dukungan kepada para seniman perempuan di seluruh dunia. Sudah dua dekade berjalan, Max Mara Art Prize for Women kali ini bekerja sama dengan Museum MACAN untuk mengangkat seniman perempuan Indonesia ke tingkat global.
5 Finalis Max Mara Art Prize for Women
Lima seniman perempuan Indonesia telah terpilih sebagai finalis. Lebih dari sekadar estetika yang indah, karya kelimanya berhasil memikat dewan juri lewat kepekaan mereka akan isu sosial dan perempuan.
“Mereka mengangkat pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman berbasis gender, kerentanan ekologis, hak-hak komunitas adat, peran entitas non-manusia, dan ketahanan emosional. Isu-isu ini dijelajahi melalui pendekatan yang khas terhadap material dan proses, menunjukkan kepekaan sekaligus keteguhan dalam menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk. Karya-karya mereka memberikan perspektif segar bagi percakapan yang sedang berlangsung tentang masyarakat, lingkungan, dan peran praktik seni hari inI,” ujar Venus Lau selaku Direktur Museum MACAN yang juga tergabung sebagai dewan juri.
Siapa saja finalis Max Mara Art Prize for Women tahun ini? Mari mengenal mereka lebih dekat
Betty Adii

Realitas sosial dan politik Papua kerap menjadi tema utama dari karya Betty Adii. Karyanya menghadirkan narasi personal dalam perpaduan nuansa tradisional dan kontemporer.

Pameran kelompok yang pernah diikutinya antara lain: Sharjah Biennial 16 (2025); Biennale Jogja 17 (2023); Biennale Jogja XVI (2021).
Dzikrah Afifah

Keramik menjadi medium utama seniman asal Bandung ini. Namun jangan bayangkan keramik berupa vas cantik. Dzikrah Afifah menghadirkan karya yang lebih eksperimental, baik dalam hal teknik dan visual.

Penerima penghargaan ARTJOG Young Artist Award tahun 2022 ini menerapkan teknik pengurangan yang mana : setelah membentuk tanah liat menjadi bentuk padat, ia mulai melubanginya dengan cara yang mendeformasi bentuk tersebut dan mengubahnya dalam proses pembakaran.
Ipeh Nur

Karya Ipeh Nur berfokus pada memori, mitologi, sejarah, dan tradisi lisan. Seniman asal Yogyakarta ini juga bereksplorasi dalam medium dan teknik seperti batik, keramik, desain grafis, patung, instalasi, dan mural.

Karyanya sudah dipamerkan di sejumlah pameran seperti 47 Canal, New York; Sharjah Biennial 16 (2025); Sculpture Center, New York (2024). Pada 2024, Nur menerima penghargaan khusus dari Future Generation Art Prize.
Mira Rizki

Seni yang interaktif dan sensoris lewat suara menjadi ciri dari karya Mira Rizki. Seniman yang pernah menampilkan karyanya di Gwangju Biennial 2024 ini mengeksplorasi bagaimana perbedaan konteks, lingkungan, dan memori membentuk pengalaman pendengaran kita.

Dian Suci

Narasi yang vokal tentang berbagai isu perempuan menjadi fondasi dalam setiap karya Dian Suci. Dari mulai patriarki, domestikasi politik perempuan, fasisme, hingga kapitalis.

Seniman yang tinggal di Yogyakarta ini menggunakan beragam media, termasuk instalasi, lukisan, patung, dan video. Karyanya pernah ditampilkan dalam Sharjah Biennial 16 (2025).