Bye Quiet Luxury, Hello Loud Luxury! Ini Dia Deretan Tren Loud Luxury Favorit Cosmo

Redaksi 12 Apr 2026

Dalam setahun terakhir, Cosmo melihat tren bergeser perlahan dari quiet luxury yang sempat booming pada 2023 menuju loud luxury. Seiring dengan semakin banyaknya individu yang mengadopsi tren ini, mereka pun mulai merasa jenuh dan bosan dengan palet warna homogen yang itu-itu saja serta pengulangan key pieces yang menjadi ciri khas tren tersebut. Sekarang, hampir dua tahun kemudian, kita bisa melihat pendulum gaya berayun ke arah sebaliknya dengan lebih banyak warna, kreativitas, dan maksimalisme, yang menandakan transisi dari quiet luxury menuju loud luxury. Berikut adalah tren loud luxury favorit Cosmo di runway F/W 2026.


Jewelled Excess

Pada koleksi musim Fall/Winter 2026, para desainer membawa kembali era opulence lewat tren "Jewelled Excess" yang mengusung prinsip maximalism on steroids. Munculnya mood kemewahan ini terlihat jelas melalui aplikasi embellishment di atas permukaan kain yang sudah “ramai”, seperti pada koleksi Dries Van Noten yang memadukan bordir emas antik di atas material jacquard dan flora yang kaya warna. Sementara itu, Rabanne menghidupkan kembali energi era 80-an dengan pendekatan more is more yang memadukan ornamental brooch dan multicolor gem di atas dress penuh payet menyerupai sisik ikan yang sangat taktil. Eksplorasi tekstur yang dramatis juga hadir pada koleksi Etro melalui perpaduan sequins paisley dan aplikasi bulu-bulu berwarna putih, pink dan koral, serta koleksi Shuting Qiu yang memadukan dress payet dengan dimensional rosettes.  

Technicolor Fur

Salah satu tren paling ekstravagan di runway yang sangat mendukung gerakan loud luxury musim ini adalah penggunaan material bulu yang bervolume maksimal, bertekstur fluffy, dalam motif dan pola penuh warna. Di antara deretan tweed, payet, dan fringes warna-warni, koleksi Chanel mencuri perhatian lewat satu look yang menjadi highlight koleksi: sebuah maxi fur coat sepanjang lutut dengan motif abstrak dalam perpaduan warna merah, kuning, hitam, dan putih yang vibran. Sementara Chanel menghadirkan mantel bulu dalam nuansa multiwarna, Blumarine menyuguhkan versi jaket bulu yang tidak kalah glamor dalam motif checkerboard hitam-putih yang kontras, lengkap dengan aksen pita raksasa serta kalung emas. Sementara itu, Diesel mengeksplorasi sisi grungy lewat rompi bulu panjang yang menampilkan perpaduan bulu shearling mauve yang terstruktur di bagian atas dengan panel bulu panjang yang mengalir bebas di bagian bawah, dihiasi streak warna bold seperti biru elektrik, kuning, dan merah oranye yang memberikan kesan artistik dan penuh ekspresi. Tidak ketinggalan, Rabanne memberikan sentuhan effortless cool dengan jaket bulu pendek yang menampilkan pola patchwork abstrak yang memukau dengan perpaduan warna hitam, abu-abu, dan krem/putih kekuningan yang disusun dalam bentuk bercak-bercak organik tidak beraturan, menciptakan efek visual seperti motif animal print yang telah diinterpretasikan ulang secara modern. 

Characterful knits

Say goodbye to plain cashmere! Para desainer di Paris menghadirkan beragam knitwear yang penuh dengan unconventional spirit. Tren ini memadukan berbagai inspirasi, mulai dari estetika artisanal hingga sentuhan bohemian era 70-an yang berjiwa bebas. Chemena Kamali di Chloe menampilkan cardigan rajut dengan detail bordir bunga kecil yang memberikan tekstur 3D. Sementara itu, Stella McCartney bereksplorasi dengan teknik crochet warna-warni yang disusun dalam motif geometris untuk kesan playful. Berbeda dengan penggunaan beragam warna di Stella McCartney, Acne Studios menghadirkan teknik lace stitch openwork dalam knit set monokrom berwarna pastel kuning. Perpaduan cropped cardigan di atas lace stitch knit dan rok midi yang serasi membuktikan bahwa tampilan monokrom pun tetap bisa berkarakter melalui permainan detail rajutan yang taktis. Etro menampilkan aksi impresif lewat atasan knitwear berwarna merah marun yang kaya akan detail tapestri dan bordir emblem mahkota bergaya vintage. Tidak berhenti di situ, detail tali temali dan aksen tassel yang menjuntai pada bagian lengan memberikan sentuhan bohemian-regal yang sangat berkarakter.

Heritage Floral

Tren loud luxury juga menghidupkan kembali pesona romantis lewat "Heritage Floral", sebuah interpretasi modern atas motif bunga klasik yang kaya akan keahlian. Nardos memimpin dengan gaun pesta bervolume yang menampilkan corak floral vibran di atas material satin mewah, sementara Prada memberikan sentuhan artistik lewat rok midi bermotif mawar kuning keemasan yang kontras yang terlihat seperti lukisan cat minyak di atas kanvas gelap. Untuk kesan lebih edgy, Roberto Cavalli mengeksplorasi flora monokromatik pada blus sheer transparan yang dramatis, sedangkan Dries Van Noten menampilkan kemewahan lewat coat bermotif mawar tekstur jacquard dengan detail bordir emas yang megah. Tren ini membuktikan bahwa motif bunga klasik tetap bisa tampil berkarakter saat dihadirkan dalam skala yang lebih berani. 

Eclectic Clash

Musim ini, gerakan loud luxury melegitimasi tren "Eclectic Clash", sebuah keberanian untuk menabrakkan berbagai motif berbeda dalam satu tampilan yang provokatif namun tetap harmonis. Antonio Marras mendefinisikan tren ini lewat mantel maksimalis yang menggabungkan motif mawar emas, bordir barok, hingga kerah bulu leopard dalam satu look yang dramatis. Zankov mengeksplorasi teknik rajutan berlapis dengan menumpuk kardigan geometris kuning-hitam di atas celana bermotif checkerboard, dipermanis aksesori kerah payet polkadot. Pendekatan yang lebih fluid hadir dari Area lewat gaun halter neck yang menampikan teknik draping menggunakan berbagai kain sutra motif polkadot dalam ukuran dan warna biru yang berbeda. Sementara itu, Marni memberikan sentuhan taktil dengan memadukan atasan sheer polkadot besar di atas rok midi bertekstur floral emboss lembut. Tren ini membuktikan bahwa saat kamu berani bermain dengan "Eclectic Clash", batas antara kekacauan visual dan mahakarya fashion hanyalah soal kepercayaan diri.