Quotes-Quote Paling Ikonik dari Film The Devil Wears Prada

Redaksi 23 Apr 2026

The Devil Wears Prada dikenal sebagai salah satu film paling populer sekaligus ikonik sepanjang masa. Film ini menyoroti dinamika hubungan antara atasan dan karyawan di sebuah perusahaan majalah fesyen. Sejalan dengan latarnya, setiap karakter tampil dalam balutan busana yang memukau dan sarat nuansa high-fashion, mencerminkan kompleksitas dunia mode beserta elemen penting di dalamnya.

Film ini tak hanya diminati karena latarnya yang mengangkat dunia percetakan dan fesyen, tetapi juga karena alur ceritanya terasa dekat dengan realitas banyak pekerja–terutama di industri tersebut. Interaksi antara Miranda Priestly (Meryl Streep) sebagai atasan dan Andrea Sachs (Anne Hathaway) sebagai karyawan menggambarkan dinamika kerja yang mungkin terasa familiar.

Lewat dialog hingga sikap para karakternya, film ini seolah merefleksikan situasi yang mungkin pernah atau sedang kamu alami. Saat dihadapkan pada berbagai kondisi yang membingungkan, kisah ini menyelipkan beberapa cara menyikapinya lewat sudut pandang dan kalimat-kalimat khas yang bisa saja kamu terapkan di kehidupan kerja sehari-hari.

Berikut ini, Cosmo bagikan quotes-quotes paling ikonik dari film The Devil Wears Prada.

1. Kehidupan Kerja & Kantor

Kehidupan sebagai pekerja di kantor tidak selalu berjalan mulus. Terdapat berbagai macam situasi yang dapat terduga maupun tidak. Mungkin ini beberapa kata-kata dari cerita Lauren Weisberger–sang penulis–yang kamu pun pernah dengar atau lontarkan di kehidupan kantormu. 

1. Apakah ada alasan mengapa kopi saya belum datang? Apakah dia meninggal atau bagaimana?

Dalam film klasik tahun 2006 ini, karakter Miranda Priestly menggunakan ucapan tajam ini untuk menetapkan hierarki sejak awal. Ini lebih dari sekadar keluhan tentang latte yang terlambat. Ini adalah contoh sempurna gaya kepemimpinan Miranda Priestly yang menuntut dan kurangnya simpati terhadap siapa pun yang tidak dapat mengikuti kecepatannya.

2. Cari kertas yang ada di tangan saya kemarin pagi.

Dalam adegan terkenal dari film ini, Miranda Priestly memberikan daftar panjang tugas-tugas sulit kepada asistennya, Andy, begitu ia masuk ke kantor. Dengan meminta makalah dari "kemarin pagi," Miranda menunjukkan "standar yang mustahil" yang dimilikinya. 

Momen ini digunakan untuk menunjukkan betapa besar tekanan yang dihadapi Andy saat bekerja di lingkungan yang penuh tekanan.

3. Silakan, bergeraklah dengan sangat lambat. Anda tahu betapa senangnya saya.

Kalimat terkenal ini diucapkan oleh Miranda Priestly saat ia kembali ke kantor secara tiba-tiba. Sambil berjalan melewati Emily dan Andy, ucapannya langsung menunjukkan rasa tidak sabar. Momen ini sangat penting karena membuat suasana film yang mencerminkan situasi kantor yang serba cepat dan penuh dengan tekanan tinggi.

4. Saya hanya tinggal satu kali sakit perut lagi untuk mencapai berat badan ideal saya.

Ucapan ini dikatakan oleh Emily Charlton (Emily Blunt), saat menunggu bos mereka datang, dimana Emily menceritakan diet ekstremnya kepada Andy. Adegan ini adalah contoh nyata dari besarnya tekanan untuk menjaga penampilan di dunia fashion kelas atas.

5. Beri tahu saya jika seluruh hidup Anda hancur berantakan. Itu artinya sudah waktunya untuk promosi.

Kalimat ini diucapkan oleh Nigel Kipling kepada Andy Sachs saat ia mengeluh bahwa kehidupan pribadinya mulai hancur. Ketika Andy merasa kewalahan dengan tuntutan pekerjaannya, Nigel menjelaskan sebuah kenyataan pahit. Di dunia fesyen kelas atas seperti majalah Runway, mengorbankan kehidupan pribadi dianggap sebagai syarat untuk meraih kesuksesan karier.

6. Silakan ajukan pertanyaan Anda kepada orang lain.

Kata-kata ini tersampaikan pada beberapa hari pertama Andy Sachs bekerja sebagai asisten Miranda Priestly di majalah Runway. Dengan cepat menyebutkan beberapa tugas yang penuh tekanan, Miranda menyuruh Andy untuk mendapatkan "10 atau 15 rok dari Calvin Klein." Ketika Andy mencoba menanyakan detail lebih lanjut tentang gaya rok tersebut, Miranda langsung membungkamnya dengan jawaban tajam, berupa kalimat di atas.

Tanpa ragu, Miranda melanjutkan daftar panjang tuntutannya, beralih ke instruksi kompleks lainnya. Percakapan ini adalah contoh sempurna dari gaya kepemimpinan Miranda, yang menunjukkan bahwa ia mengharapkan asistennya untuk mengetahui persis apa yang ia inginkan tanpa bertanya apa pun.

7. Itu saja

Kata-kata satu ini merupakan cara Miranda Priestly mengisyaratkan penolakan klasik. Frasa ini sering digunakan untuk mengakhiri daftar panjang permintaannya kepada asistennya, Andy dan Emily. 

Baik saat memberikan perintah tentang tugas mode, seperti menemukan rok tertentu dari Calvin Klein, atau mengakhiri ceramah panjang tentang warna "cerulean," pesannya sama, yaitu Priestly sudah selesai berbicara dan mengharapkan hasil segera. 

Ia bahkan menggunakannya untuk mengakhiri panggilan telepon secara tiba-tiba, membuat asistennya terdiam. Dengan mengucapkan dua kata ini, Miranda menunjukkan bahwa ia tidak punya waktu untuk pertanyaan dan bahwa kata-katanya adalah final.

8. Saya tidak mengerti mengapa begitu sulit untuk mengkonfirmasi janji temu.

Adegan terkenal ini terjadi di pagi hari, tepat setelah Andy Sachs mulai bekerja di kantor tersebut. Saat Miranda Priestly melangkah masuk, ia mengucapkan kalimat ini kepada Emily Charlton untuk menunjukkan kekesalannya atas kesalahan jadwal yang terjadi. 

Ia kemudian menyambungnya dengan ucapan tajam, "Rincian ketidakmampuanmu tidak menarik bagiku," yang seketika memperlihatkan kepribadiannya yang dingin serta tuntutannya akan kesempurnaan dari semua orang di sekitarnya.

9. Kamu tidak berusaha. Kamu hanya mengeluh.

Dalam adegan yang tak terlupakan dari film The Devil Wears Prada, Nigel memberikan teguran keras kepada Andy setelah ia mengeluh tentang tuntutan Miranda Priestly yang mustahil. Daripada menawarkan simpati, Nigel menyuruhnya untuk berhenti "mengeluh" dan menghadapi kenyataan, bahwa ia sebenarnya tidak berusaha semaksimal mungkin. Ia menantangnya untuk "bangun" dan membuat pilihan yang jelas—berkomitmen penuh pada pekerjaan atau berhenti. Momen ini merupakan titik balik yang menunjukkan realitas keras bekerja di lingkungan mode kelas atas.

10. Kamu akhirnya lebih mengecewakanku daripada gadis-gadis bodoh lainnya.

Pada momen ini, Miranda Priestly mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap Andy Sachs selama perjalanan mode kelas atas mereka ke Paris. Menjelang akhir film, Miranda mengungkapkan bahwa ia sebenarnya memiliki harapan tinggi terhadap Andy, tidak seperti asisten-asisten sebelumnya.

Priestly mengatakan bahwa Andy lebih mengecewakannya daripada "gadis-gadis bodoh lainnya," Miranda menunjukkan bahwa ia benar-benar percaya kalau Andy berbeda, menjadikan ini momen penting yang menyoroti hubungan rumit antara seorang mentor yang menuntut dan anak didiknya.

2. Membahas selera fesyen

Banyak orang bermimpi bisa masuk ke industri fesyen, apalagi bekerja di brand besar. Namun, film ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana selera dan standar fesyen digambarkan–baik oleh Priestly, Sachs, maupun karakter lainnya. Di beberapa momen, terlihat pula betapa tinggi tuntutan dan kerasnya dunia fesyen, yang terkadang tidak terbayangkan.

1. Kau pikir ini tidak ada hubungannya denganmu..

Jika kamu penggemar berat film ini, Babes pasti tahu momen sweater cerulean blue, legendaris tersebut. Kutipan terkenal ini terjadi ketika Andy tertawa saat terdapat rapat mode. 

Sebagai tanggapan, Miranda Priestly menjelaskan bahwa sweater cerulean blue Andy bukanlah pilihan acak, tetapi warna yang dipilih dengan cermat oleh para ahli mode bertahun-tahun sebelumnya. Adegan ini menunjukkan otoritas luar biasa Miranda dan membuktikan bahwa industri mode secara diam-diam memengaruhi apa yang dikenakan setiap orang.

Ini adalah momen kunci yang menjelaskan bagaimana mode lebih dari sekadar pakaian, melainkan sistem kekuatan budaya dan ekonomi yang sangat besar.

2. Maaf, apakah kau ada urusan lain? Misalnya konvensi rok jelek yang harus kau hadiri?

Kalimat ini diucapkan Emily Charlton kepada Andy Sachs di tengah momen menegangkan di kantor. Emily frustrasi karena Andy kesulitan menangani tuntutan Miranda yang membingungkan dan serba cepat tentang rok untuk sebuah artikel Calvin Klein. 

Momen ini adalah contoh klasik dari humor "taktik menakut-nakuti" yang digunakan di awal film untuk menunjukkan suasana intens dan mengintimidasi di dunia mode.

3. Kamu menjual jiwamu kepada iblis saat pertama kali mengenakan sepatu Jimmy Choo, aku melihatnya.

Dalam film The Devil Wears Prada, perjalanan ke Paris merupakan hadiah utama bagi Emily, yang telah melewati tekanan intens selama setahun hanya untuk mendapatkan kesempatan impian tersebut. Namun, semuanya berubah ketika Emily dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan mobil, yang menyebabkan Miranda memilih Andy untuk perjalanan itu.

Ketika Andy menerima tawaran tersebut, Emily merasa sangat dikhianati. Ia percaya bahwa Andy tidak lagi hanya berusaha bertahan hidup dalam pekerjaannya, tetapi telah "menjual jiwanya" dengan merangkul gaya hidup yang beracun dan dangkal untuk maju. Pergeseran ini menandai transformasi total terhadap penampilan Andy, saat ia menukar cara berpenampilannya, dengan akhirnya mengenakan sepasang sepatu desainer, Jimmy Choo.

4. Semua orang ingin menjadi seperti kita.

Kutipan satu ini, diucapkan oleh Miranda Priestly kepada Andy Sachs menjelang akhir film selama perjalanan mereka ke Paris. Setelah Andy mulai menyadari betapa beracun dan penuh tekanannya dunia mode, Miranda dengan cepat menepis kekhawatirannya. 

Ia mengatakan kepada Andy untuk tidak berlebihan, dengan menyatakan bahwa terlepas dari stresnya, semua orang sebenarnya menginginkan gaya hidup mereka dan bermimpi berada di posisi mereka.