Claresta Taufan on Becoming, Believing, and Balance

Ellena Azisia 12 May 2026

Di tengah jadwal syuting yang padat, Claresta Taufan tetap meluangkan waktu untuk sesi wawancara dan pemotretan bersama Cosmo. Hujan deras yang mengguyur lokasi pemotretan, ditambah lalu lintas Jakarta yang kian padat, tak menghalanginya untuk hadir tepat waktu memenuhi janji temu. Ia menyapa tim Cosmo dengan senyum hangat tanpa jejak lelah, apalagi keluhan.

Ini merupakan pertemuan pertama Cosmo dengan Claresta. Namun, pembawaannya yang hangat dan ceria segera mencairkan suasana. Percakapan pun mengalir tanpa canggung, seolah kami sudah lama saling mengenal. Dalam obrolan yang jujur dan terbuka, Claresta berbagi pandangannya tentang banyak hal: mulai dari definisi pasangan green flag, cara ia mengambil keputusan penting dalam hidup, hingga pendapatnya soal isu-isu sosial yang dekat dengan generasi muda. Ia paham betul arti bekerja keras, berani mengambil risiko, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan.

Di luar rutinitas profesionalnya, Claresta juga memiliki dunia kecil yang jarang tersorot publik. Ia menjaga dirinya tetap “hidup” lewat hobi-hobi personal yang ia cintai. Selama hampir 40 menit berbincang bersama pencinta musik lawas ini—yang mengidolakan ABBA, Diana Ross, dan The Supremes. Cosmo pun mengenal lebih dekat prinsip-prinsip yang ia pegang, baik dalam kehidupan maupun perjalanan kariernya.

 

Halo Claresta! How’s your life so far? 

Halo Cosmo. Kabar saya baik. Saat ini, saya sedang shooting film action pertama saya, Ratu Malaka. Fun fact, di film ini, you guys can really see what fight like a girl really means. Dan akhirnya setelah menekuni karate selama 20 tahun, saya bisa mengaplikasikannya ke pekerjaan saya yang sekarang.

 

Anda baru saja membintangi film Pangku, apa pelajaran berharga tentang perempuan yang Anda petik dari film tersebut?

Banyak sekali. Terlebih karena Sartika–peran Claresta di film Pangku–sangat jauh dengan saya, baik dari kehidupan, profesi, juga ia merupakan seorang ibu dengan anak usia 7 tahun. Kehidupan Sartika di Pangku tak seberuntung perempuan-perempuan di kota besar dalam hal kesempatan, pilihan hidup, pekerjaan, dan ekonomi. Dan itu yang membuat saya kagum dengan sosok Sartika. Dengan keterbatasan yang ia miliki, ia tak mengeluh. Ia fokus dalam bagaimana untuk bertahan hidup hari ini. Bahkan untuk memikirkan bagaimana hidup besok merupakan sebuah privilege baginya.

 

Dari semua peran di film yang pernah Anda perankan, mana yang paling menantang Anda dan cukup sulit untuk didalami karakternya?

Menurut saya, semua film dan karakter pasti punya tantangannya masing-masing. Yang paling menantang dan sulit dalam pembentukan karakter dan perubahan fisik adalah Pangku dan Ratu Malaka. Di Pangku, saya meningkatkan berat badan sampai 6 kg. Di Ratu Malaka, saya memotong pendek rambut saya dan sebelumnya rambut saya tak pernah sependek ini. Selain itu, saya meningkatkan massa otot, juga tanning.

Lantas, apa yang membuat Anda yakin untuk menjadi aktris?

Saya bertahan di dunia perfilman karena ketika dijalani, there’s something that excite me. Di setiap proyek, saya selalu mencoba hal baru. Akan selalu ada hal baru yang saya pelajari baik dari karakter, maupun filmnya. Orang-orang di balik layar juga sangat menyenangkan.

 

Bagaimana Anda menyelaraskan pentingnya branding di media sosial sekaligus terus mengasah kualitas akting dalam menghadapi iklim persaingan di industri film yang semakin kompetitif?

Menurut saya, penting untuk tetap menjadi diri sendiri di media sosial. Jika bicara soal followers, bagi saya, quality is more important than quantity. Berdasarkan yang saya lihat, ketika cast-nya memiliki ratusan ribu hingga jutaan followers, tak menjamin penonton filmnya sejumlah dengan followers-nya. Yang menentukan keberhasilan sebuah film bukan hanya pemainnya, tapi juga cerita dan produksi. Bagi saya, penting untuk tetap menjadi diri sendiri. 

 

Bagaimana cara Anda tetap menjaga integritas diri ketika naskah atau karakter yang ditawarkan tidak selaras dengan nilai pribadi Anda?

Ketika saya ditawarkan suatu peran, tentu ada diskusi antara saya dan manajer, juga dengan orang tua saya. Selain karakter, jalan cerita juga menjadi bahan pertimbangan. Dan pada dasarnya, menurut saya semua orang tak ada yang hitam dan putih, semuanya abu-abu. Masing-masing peran di kehidupan maupun film memiliki fungsinya. Saya percaya bagaimana cara saya memandang kehidupan dari perspektif karakter tersebut. Jika orang lain memandang itu salah, belum tentu salah. Ketika saya memutuskan untuk mengambil karakter tersebut, saya harus bisa melihat kehidupan dari perspektif karakter tersebut. 

 

Banyak anak muda merasa harus ‘cepat berhasil’ terutama jika melihat pencapaian orang di sekitar. Kapan Anda berhenti membandingkan timeline hidup Anda dengan orang lain dan bagaimana caranya?

Itu yang terkadang menjebak orang. Karena, mereka hanya melihat ketika kita sudah berhasil. Mereka tidak melihat prosesnya. Saya percaya bahwa rencana Tuhan selalu lebih baik dari yang saya rencanakan. Tuhan sudah menyiapkan timeline-nya untuk setiap manusia. Jadi, percaya dengan rencana Tuhan, yang pastinya lebih baik dari apa yang kita pikirkan.

 

Apa keputusan yang awalnya Anda takutkan untuk ambil, tapi ternyata justru menjadi keputusan yang tepat dalam karier?

Well, to be in this industry in general. Menurut saya, ini adalah keputusan terbesar dan terbaik saya. Karena, berada di industri ini, I finally learn to listen to my gut and make my own decision and be responsible of it. 

 

Untuk mengalihkan pikiran dari hiruk pikuk dunia hiburan atau pekerjaan, apa yang Anda lakukan untuk menenangkan diri?

Traveling! Saya selalu menyempatkan untuk punya me time. Saya suka solo trip, dan itulah me time saya. Selain itu, bertemu keluarga, melukis, dan jurnaling.

 

Cosmo melihat di laman Instagram Anda, Anda kerap berlibur ke pantai dan diving juga surfing. Pantai manakah yang paling berkesan bagi Anda dan kenapa?

Setiap pantai ada kesannya masing-masing. Untuk diving, saya suka Sabang, Raja Ampat, dan Desa Torosiaje di Gorontalo. Desa Torosiaje bukan destinasi wisata, melainkan desa suku Bajo Laut. Mereka hidup di atas pulau, tapi rumahnya ditanam di laut. Untuk surfing, yang paling berkesan adalah Bali, dan Cimaja.

 

Siapa aktor favorit Anda yang menginspirasi Anda di dunia seni peran?

Ibu Christine Hakim! I love her. Saya suka karya dan konsistensinya (dalam berakting).

 

Bagaimana Anda memandang sosok pasangan dan green flag?

Pasangan green flag adalah pasangan yang bisa saling support satu sama lain. Not only in the career wise, but also in things that make you feel yourself 100%. Selain itu, pasangan yang tahu kapan harus menjadi good listener dan kapan harus memberi ruang untuk pasangan.

 

Kini banyak istilah-istilah baru dalam relationship seperti situationship, breadcrumbing, love bombing, dan lain-lain. Pernahkah Anda berada dalam situasi tersebut? Dan bagaimana cara keluar dari situasi tersebut? 

When I was young and stupid, yes, hahaha. Cara keluarnya adalah bicara dengan seseorang yang Anda percaya, bisa keluarga, sahabat, atau seorang profesional. Remember your worth, we gonna receive love that we think we deserve. And we deserve the greenest flag!

 

Kalau Anda bisa memberi satu nasihat kepada diri Anda 10 tahun yang lalu, apa yang akan Anda katakan?

Trust your gut, be brave. Berani dalam mendengar kata hati, berani untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas itu. Karena, jika Anda lakukan itu, masa depan Anda akan sangat menyenangkan. Anda akan bertemu banyak orang baru yang menyenangkan, mencoba hal baru yang seru.

 

Lastly, di dunia yang terus menilai dan menuntut, apa satu hal yang Anda ingin tetap utuh dari diri Anda?

Rasa penasaran dan keinginan untuk terus belajar. Mungkin kenaifan diri saya untuk melihat sisi positif juga tetap harus ada. There’s always a bright side in everything.