Bed Rotting, Self-Care, atau Depresi? Fenomena Rebahan yang Banyak Dialami Gen Z

Redaksi 2 21 May 2026

Belakangan ini, istilah bed rotting semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Aktivitas ini biasanya digambarkan sebagai rebahan berjam-jam di kasur sambil scrolling, menonton series, atau sekedar tidak melakukan apa pun. Bagi sebagian orang, ini terasa seperti cara untuk “mengisi ulang energi”. Namun, di sisi lain, ada juga yang mulai bertanya: apakah ini bentuk self-care atau justru tanda kelelahan mental yang lebih serius?

Fenomena ini menarik, karena garis antara istirahat, burnout, dan depresi memang kadang terasa tipis. Tidak semua rebahan berarti malas, tapi tidak semua rebahan juga benar-benar membantu tubuh dan pikiran pulih. Untuk mengetahuinya lebih jauh, berikut fakta-fakta tentang bed rotting, self-care, atau depresi? menurut psikologi dan kesehatan mental.

1. Bed Rotting Bisa Menjadi Bentuk Respons terhadap Kelelahan Mental

Banyak orang melakukan bed rotting setelah merasa terlalu lelah secara emosional atau sosial. Menurut penelitian dalam Frontiers in Psychology (2020), kelelahan mental dapat membuat tubuh mencari aktivitas minim energi sebagai bentuk coping mechanism. Karena itu, rebahan sering terasa seperti tempat paling aman untuk “menghilang” sejenak dari tekanan.

2. Self-Care dan Menghindar Punya Perbedaan Tipis

Istirahat yang sehat biasanya membuat kamu merasa lebih pulih setelahnya. Namun, jika rebahan justru membuatmu semakin kosong, kehilangan motivasi, atau merasa bersalah, mungkin ada hal lain yang sedang terjadi. Studi dalam Journal of Health Psychology (2019) menunjukkan bahwa avoidance coping atau kebiasaan menghindar dari tekanan dapat memperburuk stres dalam jangka panjang.

3. Tubuh dan Pikiran Sama-Sama Bisa Mengalami Burnout

Burnout tidak selalu muncul karena pekerjaan berat. Terlalu banyak tekanan emosional, overthinking, atau paparan informasi juga bisa membuat energi mental habis. Menurut World Health Organization (WHO), burnout berkaitan dengan kelelahan emosional, penurunan motivasi, dan rasa lepas dari aktivitas sehari-hari. Kadang, rebahan terlalu lama adalah sinyal bahwa tubuhmu benar-benar lelah.

4. Depresi Tidak Selalu Terlihat “Sedih”

Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah depresi tidak selalu ditandai dengan menangis terus-menerus. Kadang, bentuknya justru kehilangan energi, sulit bangun dari tempat tidur, dan tidak tertarik melakukan hal yang biasanya disukai. Penelitian dalam Journal of Affective Disorders (2021) menunjukkan bahwa kehilangan motivasi dan withdrawal behavior adalah salah satu gejala umum depresi.

5. Istirahat Tetap Penting, Tapi Harus Tetap Seimbang

Rebahan sesekali tentu bukan hal yang salah. Tubuh memang butuh istirahat, terutama setelah hari yang melelahkan. Namun, menurut Sleep Health Journal (2020), terlalu lama pasif tanpa aktivitas yang membantu regulasi emosi justru bisa membuat mood semakin menurun. Kuncinya bukan berhenti istirahat, tapi menemukan keseimbangan antara jeda dan kembali bergerak perlahan.

Fenomena bed rotting menunjukkan bahwa banyak orang sebenarnya sedang lelah secara mental, emosional, atau bahkan sosial. Dengan memahami bed rotting, self-care, atau depresi, kamu bisa mulai lebih peka terhadap apa yang sebenarnya tubuh dan pikiranmu butuhkan.

Karena kadang, rebahan bukan tentang malas. Bisa jadi, itu adalah cara tubuhmu meminta waktu untuk bernapas setelah terlalu lama bertahan. Dan mungkin, yang paling penting bukan memaksa diri untuk terus produktif, tapi belajar mendengarkan dirimu sendiri dengan lebih jujur dan lembut.