Cara Bertengkar dengan Lebih Sehat dengan Pasangan

Rayoga Akbar 23 May 2026

Di musim kedua serial hit Beef, konflik baru yang menjadi pusat cerita hadir lewat dua pasangan: Lindsay (Carey Mulligan) dan Joshua (Oscar Isaac), pasangan kaya yang ternyata diam-diam sedang mengalami masalah finansial dan mengelola sebuah country club mewah; serta dua karyawan mereka, Austin (Charles Melton) dan Ashley (Cailee Spaeny), pasangan muda yang hidup pas-pasan dan baru bertunangan.

Premisnya langsung diperlihatkan di episode pertama, ketika Austin dan Ashley tanpa sengaja menyaksikan pertengkaran hebat antara Lindsay dan Joshua—gelas wine dilempar, gitar dihancurkan, hingga karya seni dirusak. Tak lama setelah itu, pasangan muda tersebut menggunakan video pertengkaran yang mereka rekam untuk memeras sang bos. Sama seperti musim pertamanya, situasi ini kemudian berkembang menjadi konflik panjang yang kacau dan penuh drama.

Kalau kamu sudah mulai menonton serial ini, pasti sadar bahwa pertengkaran dalam hubungan menjadi “jantung” utama di musim kedua BEEF. Dan meski konflik yang muncul di serial ini jelas bukan tipe pertengkaran yang ingin kita alami di rumah, ada satu dialog di episode pertamanya yang sebenarnya menyimpan sedikit kebenaran.

“Kalian akan menghadapi pertengkaran besar,” kata Lindsay kepada Austin. “Dan saat itu terjadi, hubungan kalian justru akan jadi lebih kuat.”

Austin—yang baru menjalin hubungan dengan Ashley selama satu setengah tahun, jauh dibanding Lindsay dan Joshua yang sudah bersama lebih dari 15 tahun—langsung membalas, “Kalau boleh jujur, saya rasa hubungan itu tidak bekerja seperti itu.”

Namun Lindsay punya pandangan berbeda.

“Yang bisa saya bilang, semua pasangan yang bertahan lama itu pernah benar-benar bertengkar hebat,” jawabnya. “Justru pasangan yang tidak pernah bertengkar biasanya ada sesuatu yang disembunyikan.”

Tentu saja, ada permainan psikologis di balik percakapan itu. Lindsay sedang mencoba meyakinkan Austin bahwa apa yang ia lihat adalah hal normal, bukan pertengkaran ekstrem. Tapi di sisi lain, ia juga menyampaikan poin yang cukup menarik.

Bertengkar sering kali dianggap sebagai sesuatu yang negatif, terutama dalam hubungan asmara. Padahal kenyataannya, perdebatan dengan pasangan hampir mustahil untuk dihindari—tentu yang dimaksud di sini adalah adu argumen verbal, bukan saling melempar gelas wine seperti di serialnya.

Faktanya, berdebat justru bisa menjadi cara yang sehat untuk menyampaikan perasaan masing-masing. Jauh lebih baik dibanding memendam emosi dan membiarkan rasa kesal berubah menjadi dendam. Kuncinya tentu ada pada bagaimana cara bertengkarnya.


Apakah Bertengkar Sehat dalam Sebuah Hubungan?

Cara Bertengkar dengan Lebih Sehat dalam Sebuah Hubungan

Bertengkar ternyata bisa menjadi bagian yang positif dalam sebuah hubungan. Jadi, memiliki argumen dengan pasangan tidak selalu berarti hubunganmu sedang buruk.

“Kita tidak bisa berharap setiap pasangan akan selalu cocok dan sejalan dalam segala hal. Pada akhirnya, kita tetap individu yang berbeda, jadi tentu akan ada momen ketika pendapat bertabrakan,” jelas Kate Moyle, seorang psikoterapis hubungan dan seks.

Meski terdengar negatif, pertengkaran sebenarnya juga bisa sangat produktif. “Argumen membantu kita mengomunikasikan apa yang penting bagi masing-masing pihak, melihat sudut pandang pasangan, dan memahami satu sama lain dengan cara yang berbeda,” tambah Moyle. Jadi, kalau kamu dan pasangan sedang berdebat, cobalah melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan.

Namun tentu saja, jika hubunganmu terasa toxic, tidak sehat, atau bahkan mengarah pada kekerasan, penting untuk segera mencari bantuan.

Apakah Tidak Pernah Bertengkar Justru Tidak Sehat?

Memendam perasaan bukanlah hal yang baik dalam situasi apa pun, termasuk dalam hubungan asmara. Diam terus-menerus justru bisa memperburuk keadaan.

Menurut Moyle, “Kalau kita tidak pernah benar-benar mengekspresikan perasaan kepada pasangan, rasa kesal dan kecewa bisa terus menumpuk. Dan itu justru lebih merusak hubungan.”

Menahan diri untuk jujur kepada pasangan juga membuatmu kehilangan kesempatan untuk menunjukkan sisi vulnerable—sesuatu yang penting untuk memperkuat ikatan sebagai pasangan. Selain itu, masalah yang dipendam lama-lama juga bisa meledak menjadi pertengkaran yang jauh lebih besar.

Cara Bertengkar yang Lebih Sehat dengan Pasangan

1. Tetap logis

Usahakan emosi tidak mengambil alih situasi.

“Saat bertengkar, bagian otak bernama amygdala menjadi aktif. Hal ini meningkatkan hormon stres dan membuat respons kita lebih emosional dibanding logis, sehingga kemampuan berkomunikasi dengan jelas ikut terganggu,” jelas Moyle.

Karena itu, cobalah tetap fokus pada masalah yang sedang terjadi agar komunikasi tidak sepenuhnya dikuasai rasa marah atau kecewa.

2. Gunakan kalimat dengan kata “aku”

Hindari langsung menyalahkan pasangan. Cara ini justru membuat mereka defensif dan merasa diserang.

“Kalimat yang dimulai dengan ‘kamu’ cenderung terdengar menyalahkan perilaku pasangan. Sementara penggunaan ‘aku’ membuat fokus berpindah pada bagaimana perasaanmu terhadap situasi tersebut,” kata Moyle.

Daripada berkata, “Kamu nggak pernah dengar aku,” coba ubah menjadi, “Aku merasa tidak didengarkan.”

3. Jangan mengungkit masa lalu

Fokus pada satu masalah yang sedang dibahas, bukan membawa kembali konflik lama.

“Mengungkit masa lalu hanya akan membuat kalian terjebak dalam permainan saling balas seperti, ‘Kamu dulu begini, aku juga begitu’,” jelas Moyle. “Dan itu tidak akan membawa hubungan ke mana-mana.”

4. Dengarkan dan klarifikasi

Salah satu masalah terbesar dalam konflik adalah kesalahpahaman. Karena itu, pastikan kamu benar-benar memahami maksud pasangan.

Kamu bisa mengatakan hal seperti, “Jadi maksud kamu tadi seperti ini?” atau “Aku menangkapnya seperti ini, benar nggak?”

Membuat asumsi hanya akan memperkeruh pertengkaran. Jadi, jangan ragu untuk bertanya jika ada hal yang belum jelas.

5. Buat permintaan, bukan sekadar keluhan

Jangan hanya mengeluh tanpa menawarkan solusi.

“Mintalah pasangan mencoba melakukan sesuatu dengan cara berbeda di masa depan, alih-alih terus fokus pada kesalahan di masa lalu,” saran Moyle. “Dengan begitu, kalian sama-sama punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan.”

6. Ambil jeda sejenak

Kadang, menjauh sebentar dari pertengkaran justru membantu.

Moyle menyarankan memberi jeda sekitar 20 menit untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan diskusi. Cara ini bisa mencegah pertengkaran berlangsung terlalu lama dan semakin memanas.

7. Pilih mana yang layak diperdebatkan

Meski bertengkar bisa produktif, tidak semua hal harus dibesarkan.

“Dalam hubungan, akan selalu ada kebiasaan pasangan yang mengesalkan,” kata Moyle. “Jadi biarkan beberapa hal kecil berlalu saja—seperti kaus kaki yang tidak dimasukkan ke keranjang cucian atau cangkir kopi yang tidak dibereskan.”

Ia juga menyarankan setiap pasangan punya “no-go areas”, yaitu kebiasaan kecil yang dipilih untuk tidak dipermasalahkan terus-menerus.

Cara Berdamai Setelah Bertengkar

Dengarkan sudut pandang pasangan dan cobalah berempati terhadap perasaan mereka. Kamu bisa mengungkapkannya dengan kalimat seperti, “Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa seperti itu,” atau “Aku paham dari sudut pandangmu situasinya memang terasa seperti itu,” saran Moyle.

Kalau ada hal tertentu yang sering memicu pertengkaran—misalnya merasa dikritik—komunikasikan hal tersebut agar bisa dihindari ke depannya. Meski begitu, ada juga beberapa hal yang mungkin memang harus disepakati untuk tidak selalu disepakati.


Artikel ini telah tayang di Cosmopolitan US. Alih bahasa dan isi telah disesuaikan oleh penulis dan editor.