Ayu Gani: Menjaga Konsistensi di Industri Model dan Hiburan yang Terus Berkembang
Dunia model terus berputar dan nama-nama baru terus bermunculan. Namun, ada satu nama yang tak pernah luput dari ingatan kita yaitu: Ayu Gani. Sejak menjadi pemenang Asia’s Next Top Model cycle 3 pada tahun 2015 lalu, ia terus melebarkan sayap di industri hiburan.
Menjadi pemenang ajang pencarian model dalam skala antar negara tak membuat Ayu Gani cepat puas. Dirinya tak menganggap kemenangan menjadi garis finish dalam kariernya, justru ia anggap sebagai permulaan dari segalanya. Dunia modeling yang dikenal keras dan disiplin membentuk pribadi Gani–sapaan akrab Ayu Gani–yang sekarang. Bagi Gani, kedisiplinan merupakan kunci utama untuk menjadi seorang model.
Tak hanya menekuni model, ia pernah berakting dalam film Trinity Traveler (2019), dan yang paling mengejutkan, Gani merilis lagu bersama Diskoria yang bertajuk Hasrat dan Jiwaku. Ini merupakan single pertama Gani, dan Cosmo harap bukan yang terakhir.
Meski telah mencoba berbagai hal di industri hiburan, perempuan kelahiran tahun 1991 ini selalu konsisten berada di industri modeling hingga saat ini. Buktinya, ia memiliki sekolah modeling yaitu Top Model District, dan dirinya turut andil dalam mengajar modeling di sekolah tersebut.
Hai Gani! Apa kabar? Sedang sibuk apa belakangan ini?
Masih seperti biasa, menghadiri event, dan mengajar modeling di sekolah modeling saya, Top Model District.
As we know, Anda adalah pemenang Asia’s Next Top Model cycle 3. Ketika menjadi finalis Asia’s Next Top Model, apa pengalaman yang Anda pelajari dan membentuk perspektif dalam karier?
Asia’s Next Top Model sudah hampir 11 tahun yang lalu ketika saya berusia sekitar 23 atau 24 tahun. Dari show itu, saya belajar bahwa hidup harus berlapang dada. Saya belajar menerima. Boleh berambisi, namun tetap realistis, Jika suatu hal tak bisa tercapai, saya harus bisa let go, ikhlas adalah kuncinya. Selain itu, dari ASNTM–singkatan Asia’s Next Top Model–saya belajar bagaimana menghadapi kritik dengan baik. Setiap hari, setiap menit, setiap detik, saya mendapat kritik yang cukup pedas. Tentu saya sempat berkecil hati, namun balik lagi, ini adalah kompetisi, saya dibandingkan dengan model-model lain dari mancanegara dengan culture yang berbeda-beda, pengalamannya pun berbeda. Ada yang sudah berkecimpung di dunia model selama 10 tahun, sedangkan saya hanya baru 2 tahun. Namun dari semua kritik yang saya dapat, itu dapat membentuk diri saya yang sekarang. Saya lebih tahan banting, dan saya sudah bisa menghadapi kritik secara baik.
Sebagai pemenang Asia’s Next Top Model cycle 3, banyak yang menilai itu merupakan
garis finish, tapi nyatanya justru itu awal mula perjalanan. Apakah itu Anda jadikan
tantangan untuk terus maju, atau justru menjadi pressure?
I think both. Sepertinya, pada saat itu saya masih terlalu muda, saya tak tahu bahwa efek kemenangan Asia’s Next Top Model sangat besar. Hanya dalam semalam, tiba-tiba saya memiliki 230.000 pengikut di Instagram. Selan itu, ketika saya pergi di mall, saya kerap diajak berfoto, bahkan ketika saya hendak makan, saya pun tak bisa makan karena banyak yang ingin foto dengan saya. Lalu, saya bisa keliling hingga ke 10 media dalam satu hari untuk wawancara. Terkadang, saya juga melakukan pemotretan di jam 04.00 pagi untuk cover majalah. Bagi saya yang tak pernah terbayang menjadi pemenang ASNTM, itu adalah sebuah pressure. Saya juga sempat mendapat death threats, dan itu sangat memengaruhi mental saya. Di situ saya mengetahui bahwa inilah yang harus saya jalani ketika menjadi seseorang yang dikenal. Dibanding-bandingkan dengan orang lain hingga mendapat hinaan sudah menjadi makanan sehari-hari.
Namun itu saya jadikan pacuan untuk semakin maju dan mengasah ilmu. Karena saya memenangkan kompetisi di skala Asia, mau tak mau saya harus bisa portray ke masyarakat bahwa saya memang sebagus itu baik di Asia maupun Indonesia.
Cosmo dengar menjadi model bukan tujuan utama kamu. Lantas, apa cita-cita kamu yang
sebenarnya?
Sebenarnya, saya ingin menjadi desainer. Berhubung pada kala itu pakaian perempuan semua memiliki cutting yang feminin, saya ingin cutting yang lebih tomboi. Ya, dulu saya sangat tomboi–hingga saat ini juga masih. Lantas, sebagai orang tua, ibu saya ingin saya seperti anak perempuan pada umumnya, harus bisa bersolek, dan mengenakan pakaian yang feminin. Akhirnya, ibu saya mendaftarkan saya ke kompetisi model sejak saya berusia 14 tahun.
Wah… ternyata Anda menginkan menjadi seorang desainer. Lantas, siapa desainer favorit Anda?
Pada saat itu, saya suka John Galliano. Kalau sekarang saya suka Matthieu Blazy.
Anda sempat mengejutkan para penggemar Anda yaitu dengan merilis single bersama Diskoria. Apa hal yang mendasari Anda untuk terjun ke dunia tarik suara?
Sebenarnya, saya memang menyukai musik sejak dulu. Saya sempat menempuh pendidikan musik di Cincinnati, Amerika Serikat ketika SMA. Maka, menjadi seorang penyanyi adalah salah satu impian terpendam saya. Saya memang suka menyanyi, tapi tak memiliki keberanian untuk benar-benar menjadi seorang penyanyi. Saya juga pernah ikut les vokal, maka saya sudah memiliki basic vokal.
Waktu itu, teman saya yang juga seorang produser musik meminta rekaman demo (menyanyi) saya, tanpa saya tahu bahwa rekaman tersebut akan dikirimkan ke Diskoria. Pada demo tersebut, saya menyanyikan lagu dari Laufey. Kemudian teman saya bertanya, apakah saya mau jika berkolaborasi dengan Diskoria, tanpa pikir panjang, saya menjawab, “Mau!” Kemudian saya diberikan lagu Hasrat dan Jiwaku–lagu Gani bersama Diskoria–kemudian saya diminta untuk berlatih.
Hingga akhirnya, saya diminta untuk latihan take vocal, dan ternyata justru rekaman latihan tersebut yang akhirnya diambil menjadi lagu Hasrat dan Jiwaku. Jadi, saya hanya melakukan sekali take vocal. Ini semua berkat les vokal yang pernah saya ikuti ketika masih kecil, dan ternyata saya masih memegang ilmunya. Akhirnya, saya bisa menggunakan ilmu tersebut secara profesional.
Wow, suatu fun fact yang Cosmo baru tahu bahwa Anda menyukai musik. Karena Anda suka musik, jadi siapa musisi idola Anda?
Semasa duduk di bangku SMP, yang sedang hits pada kala itu adalah emo, saya suka Avril Lavigne, Linkin Park, Evanescence, Sleeping With Sirens, dan Red Jumpsuit Apparatus. Tapi, yang saya sukai dari dulu hingga sekarang adalah Erykah Badu. Sekarang saya juga menyukai Billie Eilish dan Chappel Roan.
Bagaimana cara Anda menghadapi persaingan di industri hiburan?
Kalau saya, menjadi diri sendiri saja sudah cukup. Ketika menjadi diri sendiri, Anda sudah bisa berbeda dengan orang lain. Dengan berbeda dari orang lain dan memiliki karakter sendiri, itu membuat Anda bisa bertahan di industri model. Modeling is a very fast paced industry. Jadi, sangat cepat pergantiannya. Banyak orang yang ingin menjadi model. Maka, kita harus benar-benar memiliki karakter kuat yang bisa di-define dari jauh. Itu harus dicari dan dibangun.
Cosmo melihat di laman Instagram Anda, bahwa Anda menyukai trail run. Track mana kah yang paling Anda sukai?
Saya baru saja menyukai trail run sejak tahun lalu. Saya pernah trail run di Bromo, Arjuno, Bali, dan Malang. Saya suka semua track-nya. Dan di bulan Mei ini, saya ke Australia untuk trail run di Katoomba, Blue Mountains. Bagi saya, setiap track itu berbeda-beda. Tapi jika ditanya mana yang paling bagus, sejauh ini Bromo yang pemandangannya paling bagus.
Ketika “cuti” dari pekerjaan, apa yang Anda lakukan untuk mengisi waktu senggang?
Sebenarnya, saya adalah orang yang suka sibuk. Karena, kalau saya tidak sibuk, saya justru menjadi overthinking hal-hal yang tidak jelas. Maka untuk mengalihkannya, saya harus berkegiatan. Tapi, jika saya benar-benar membutuhkan break, saya melakukan trail run. Sebelum saya menggemari dunia trail run, biasanya saya hanya menonton Netflix di rumah. Saya sangat suka di rumah hahaha…
Siapa sosok yang menginspirasi Anda dalam bidang fashion?
Agyness Deyn! Pada kala itu, ada era di mana pixie cut menjadi tren karena Agyness Deyn. Dan ia sangat menginspirasi saya.
Menurut Anda, seperti apa perkembangan dunia model Indonesia sekarang dibanding saat
Anda pertama kali terjun ke bidang ini?
Sudah 16 tahun saya berkarier di dunia model. Dulu, saya pikir ketika saya berusia 30 tahun, saya sudah tak bisa menjadi model. Namun seiring perkembangan zaman, kini ada market untuk model usia 30 tahun ke atas. Sekarang, industri model itu sudah diversity. Maka, semua usia ada market-nya tersendiri, mulai dari usia remaja hingga lanjut usia. Bahkan beberapa tahun belakangan ini, banyak agensi luar negeri yang mulai sign back model-model mereka yang populer di awal tahun 2000-an. Jadi, saya rasa market-nya kembali lagi.
Apa hal tentang profesi model yang belum banyak orang ketahui?
Jadi model itu melelahkan. Tak hanya modal cantik dan berpose di depan kamera saja. Kita harus bisa berdiri mengenakan sepatu high heels selama berjam-jam. Apalagi, saya yang tomboi ini sebelumnya tak pernah mengenakan sepatu high heels, maka saya perlu latihan terlebih dahulu.
Apa pendapat Anda tentang stereotip bahwa model sangat mengandalkan visual?
Stereotip model itu harus kurus dan tinggi itu tidak benar. Sebenarnya, nomor satu dari traits menjadi model adalah attitude. Simply datang tepat waktu saja sudah termasuk ke dalam bagian attitude. Jika satu orang saja terlambat, rangkaian pemotretan atau videoshoot akan terlambat. Mood para pekerja pendukung pun pasti sudah rusak. Jadi dapat disimpulkan bahwa model itu adalah core dari sebuah pekerjaan. Lantas, selain fisik, yang paling penting ketika menjadi seorang model adalah attitude. Sekali Anda terlambat atau membuat masalah, bisa saja Anda langsung tergantikan. Jadi, it’s not about physical anymore.
OK, now let’s talk about relationship. Bagaimana sosok pasangan green flag menurut Anda?
Bagi saya, pasangan green flag adalah pasangan yang mau mendukung pasangannya untuk berkembang. Selain itu, tidak mudah insecure dan yang terpenting punya pekerjaan. Saya sempat terjebak dalam hubungan dengan lelaki pengangguran, dan itu sangat toxic, juga melelahkan. Untungnya, saya segera sadar, and I don’t deserve that! Dan yang terakhir, pasangan green flag adalah sosok yang sudah mencintai dirinya sendiri. Karena, kalau tidak mencintai dirinya sendiri, ia akan mengemis cinta pada kita hahaha…
Kini banyak jenis-jenis modern dating seperti situationship. Apa pandangan Anda tentang hal tersebut?
Jika bicara soal situationship… saya di antara setuju dan tidak setuju. Saya pernah menjalani situationship. Bagi saya, jika kedua belah pihak memahami konsekuensi dan memahami keadaan dalam menjalani situationship, maka bisa menjadi hal yang baik. Contohnya, keduanya tak siap dalam menjalankan sebuah komitmen, daripada membuang-buang waktu, kita bisa jalani situationship terlebih dahulu untuk lebih mengenal satu sama lain. Tapi, situationship bisa menjadi hal yang buruk jika pasangan Anda memiliki banyak red flag, tapi Anda justru denial.
Menurut Anda, kapan dan kenapa seseorang layak diberikan kesempatan kedua dalam
hubungan?
Bagi saya, tentu ketika orang tersebut sudah menunjukkan perubahannya, atau at least ada effort untuk berubah. Kalau tidak, jelas tak ada kesempatan kedua. Dan hal yang paling tidak bisa ditoleransi adalah selingkuh. Saya cukup meyakini bahwa, once a cheater always a cheater.
Lastly, apa impian Anda dalam karier selanjutnya?
Saat ini saya ingin lebih banyak give back. Sekarang pekerjaan saya lebih heavy di mentorship para model. Jadi, saya ingin memberikan banyak kesempatan dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang ingin menjadi model. Banyak yang bilang bahwa industri fashion hanya itu-itu saja orangnya dan sulit untuk menembus ke dunia tersebut. Tapi sebenarnya tidak. Anda hanya perlu bertemu orang yang tepat, seperti saya hahaha. Sekarang, saya juga sedang membangun komunitas untuk young aspiring models. Semoga bisa menjadi lebih besar dan bisa jadi wadah untuk model-model muda ini.