Exclusive Interview: Lenka Buka Lembaran Baru Lewat Album “Good Days”!

Ellena Azisia 11 Jun 2026

Mungkin Anda mengenalnya lewat lagu The Show, Trouble Is a Friend, atau Everything at Once. Meski lagu-lagu tersebut sudah dirilis hampir dua dekade lalu, tapi sama sekali tak pernah redup. Ya, lagu-lagu tersebut masih kerap diputar di radio. Tak mungkin Anda tak tahu siapa yang menyanyikan lagu-lagu yang Cosmo sebutkan tadi. And yes, penyanyi dari lagu hits tersebut adalah Lenka.

Kualitasnya di industri musik sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Meski album debutnya baru dirilis pada tahun 2008 lalu, namun ternyata penyanyi asal Australia ini sudah berkecimpung di bidang tarik suara lebih dari 20 tahun. Dirinya sempat tergabung dalam sebuah band, hingga akhirnya memantapkan diri untuk tampil solo.

Sejak awal kemunculannya, nama Lenka langsung meledak secara global. Di Indonesia sendiri, Lenka sangat populer. Single pertamanya yang bertajuk The Show tak membuat dirinya menjadi one hit wonder. Buktinya, bertahun-tahun kemudian, Lenka masih eksis di industri hiburan. Bahkan, Lenka cukup rajin mampir ke Indonesia untuk melaksanakan konser tunggal.

Finally, setelah tiga tahun lalu merilis album, Lenka kembali menyapa penggemarnya lewat album terbarunya yang baru saja rilis pada 29 Mei 2026 lalu yaitu, Good Days. Biasa dikenal dengan musik-musiknya yang bernuansa ceria dan optimis, di album ini, Lenka kembali membawa pesan positif lewat lagu-lagunya di album Good Days. Cosmo berkesempatan berbincang langsung dengan Lenka mengenai album terbarunya. So, keep scrolling, babes!

Halo Lenka, apa kabar? Sedang sibuk apa belakangan ini?

Halo Cosmo. Kabar saya baik. Saat ini, saya sedang menikmati musim gugur di Australia. Saya sedang melakukan promo di media sosial. Saya sedang berusaha untuk konsisten memproduksi konten yaitu membagikan sedikit tentang kehidupan sehari-hari saya, juga membuat video kreatif. Saya berusaha agar musik saya bisa menjangkau lebih banyak orang, dan bisa menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan mereka. Oh, and I’m having a “good day”.

Wah, nampaknya Anda sedang menikmati “good day” dalam hidup Anda. Membahas soal “good day”, Anda baru saja merilis album Good Days. Sebelum album tersebut dirilis, Anda juga telah merilis dua single pembuka yaitu Sunshine Girl dan Good Days. Apa yang mendasari Anda memilih dua lagu tersebut sebagai pembuka babak?

Well, entah kenapa, Sunshine Girl menjadi favorit banyak orang. Semua orang di tim saya, atau siapa pun yang sudah mendengar album saya sebelum akhirnya dirilis beranggapan hal yang sama bahwa Sunshine Girl menjadi favoritnya. Lagu tersebut menjadi track pembuka dan menjadi penentu nuansa keseluruhan album. Fun fact, ini juga merupakan lagu pertama yang saya tulis di album Good Days.

Saya menulis lagu tersebut dua tahun lalu dan saya langsung yakin bahwa itu akan menjadi single pertama. Setelah itu, cukup banyak diskusi mengenai lagu mana yang sebaiknya dipilih sebagai single kedua. Pada akhirnya, kami memutuskan Good Days (yang menjadi single kedua) karena itu juga merupakan title track album ini dan paling mewakili pesan yang ingin saya sampaikan. Pada dasarnya, saya ingin album ini menjadi soundtrack untuk menemani hari yang indah. Kendati demikian, ada banyak lagu bagus lainnya di album ini, jadi proses memilihnya memang cukup sulit.

Banyak orang yang mengaitkan “good days” dengan keceriaan. Bagi Anda sendiri, apakah “good days” selalu tentang perasaan bahagia, atau ada sisi lain yang lebih kompleks dari itu?

Bagi saya, makna dari “good days” sendiri lebih dari sekadar kebahagiaan. I love feeling happy and content, dan itu juga bisa menjadi hari yang menyenangkan. Misalnya, saat sedang bersantai di rumah, Anda merasa bahagia. Tapi, yang benar-benar saya inginkan yakni hari-hari di mana saya sangat extrovert dan bertemu banyak orang, mengobrol panjang, banyak tawa, menyantap makanan lezat, meneguk cocktails, berdansa, menonton pertunjukan musik, menikmati cuaca yang bagus, menghadiri pernikahan, atau menjalani hari-hari spesial yang serupa. Hari seperti itulah yang saya bayangkan. Saya ingin mengalami hari di mana hal-hal baik terus terjadi tanpa direncanakan.

Cosmo dengar, Anda menulis Sunshine Girl ketika sedang jalan-jalan bersama anak Anda. Apakah Sunshine Girl merupakan gambaran diri Anda yang menjadi sunshine anak Anda?

Yeah, kind of. Lagu ini bercerita tentang perjuangan saya untuk selalu menjadi sunshine bagi anak saya, terutama ketika mereka mulai lebih mengenal dunia yang lebih dark, lebih rumit, dan lebih sulit dipahami. Saat itu, saya sedang berkelahi dengan perasaan saya, bahwa tidak mudah untuk terus-menerus sugar coating terhadap banyak hal. Namun, saya juga menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang masih terlalu berat untuk dihadapi oleh anak saya. Saya tak mau berbohong, saya tidak ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Saya tidak ingin menjadi seorang ibu yang memberikan gambaran tidak sesuai dengan realitanya.

Kendati demikian, saya juga sangat percaya pada kekuatan berpikir positif dan pentingnya selalu menemukan sisi baik dalam setiap keadaan. Jadi, lagu ini pada dasarnya lahir dari pergulatan saya terhadap hal tersebut. Saya merasa, baik sebagai seorang ibu, musisi, anggota komunitas, maupun dalam lingkaran pertemanan, saya sering memosisikan diri sebagai sosok yang ceria, yang berusaha menyemangati orang lain dan selalu berfokus pada hal-hal positif. Namun, peran tersebut bisa sangat melelahkan dan tidak selalu muncul secara alami. Ada kalanya saya benar-benar harus berusaha keras untuk menjadi sunshine girl.

Dari 10 lagu di Good Days, lagu mana yang paling menantang diri Anda ketika masa penulisan atau produksi?

Well, lagu yang paling challenging adalah The Balance, itu merupakan lagu terakhir di album. Sebenarnya prosesnya tak terlalu sulit. Namun, membutuhkan cukup banyak penyesuaian sebab sejak awal saya memiliki konsep spesifik terhadap lagu tersebut. Saya ingin melibatkan para penggemar dan teman-teman saya dalam penulisan lirik. Konsepnya semacam eksperimen filosofis tentang kata-kata apa yang membuat seseorang merasa bahagia dan kata-kata apa yang membuat seseorang merasa sedih. Saya mengumpulkan ratusan kata dari seluruh dunia. Saya turut terbantu dengan teknologi AI untuk menjahit kata perkata sehingga menjadi bait yang berima. Meskipun pada akhirnya saya hanya mengambil sebagian kecil dari hasil AI tersebut. Saya kurang menyukai yang dibuat oleh AI, but still, saya terbantu olehnya.

Setelah itu, saya memilih kata-kata yang menurut saya paling sesuai dengan lagu ini dan menyusunnya menjadi bagian-bagian lirik. Secara musikal, lagu ini memiliki nuansa beatnik dan jazzy, dan pada dasarnya berisi kumpulan kata-kata yang telah dikirimkan kepada saya. Prosesnya memang memerlukan waktu hingga akhirnya terasa tepat. Pada tahap akhir, produser saya, Tony, memberikan banyak masukan yang sangat baik. Ia juga seorang pemain flute jazz, dan memainkan flute sepanjang lagu tersebut. Hasil akhirnya terasa cukup unik, eksperimental, dan menurut saya sangat menarik. Bahkan, lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya di album ini.

Anda telah berkarier di industri musik selama lebih dari 20 tahun. Adakah perbedaan penulisan lagu ketika sekarang Anda telah menjadi seorang ibu dan sebelum menjadi seorang ibu?

Ya, tentu. Perbedaannya tak terlalu besar, tapi arah musik yang saya buat sekarang memang berbeda. Perbedaan tersebut terjadi karena kini saya memiliki anak yang harus saya pikirkan. Dan dari lagu yang saya tulis, rasanya seperti sedang berbicara kepada anak-anak saya, mencoba menyampaikan nasihat, atau memikirkan hidup dan masa depan mereka. Sebagai penulis lagu, saya turut merasa telah melalui perjalanan yang cukup panjang. Mulanya, saya memulai perjalanan musik saya dengan hal-hal yang eksperimental. Saya pernah tergabung dalam sebuah band yang memainkan musik indie. Setelah itu, saya menandatangani kontrak dengan major label dan musik-musik saya ditujukan ke radio-radio mainstream.

Ketika memiliki anak, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan saya mulai membuat lullabies yang eksperimental dan unik. Sejak saat itu, saya terus bereksperimen dengan berbagai warna musik, mulai dari electro pop, 80’s synth pop, hingga folk yang terinspirasi dari tahun 1970-an. Kini, saya merasa telah kembali menemukan esensi yang benar-benar mencerminkan diri saya sebagai Lenka. Itulah pendekatan yang saya gunakan dalam album ini. Sekarang, anak saya sudah berusia 10 dan 14 tahun. Lantas, rasanya wajar jika di fase ini saya mulai kembali ke diri saya sendiri, karena mereka sudah mulai mandiri dan tak selalu membutuhkan saya. Ini menjadi momen di mana saya memiliki ruang untuk kembali ke diri sendiri.

Melihat mereka bertumbuh adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Ini adalah fase yang indah. Saya rasa banyak perempuan seusia saya yang mengalami hal serupa, yaitu mulai bertanya kepada diri sendiri, “Siapa sebenarnya saya? Apa yang ingin saya lakukan? Dan ingin menjadi sosok seperti apa saya di sisa perjalanan hidup ini?” Selama satu dekade terakhir ini, saya telah menyerahkan diri saya untuk anak–dan tentunya saya akan terus melakukannya. Namun, sekarang mereka tak selalu membutuhkan saya di setiap detiknya dan inilah saatnya saya menjadi diri sendiri. Terasa sangat menyenangkan.  

Anda dikenal melalui warna musik yang khas dan terasa hangat serta menenangkan. Adakah hal-hal tertentu yang secara sadar Anda hindari dalam bermusik agar karya-karya Anda tetap terasa sangat “Lenka”?

Tentu ada. Saya menghindari hal-hal yang negatif. Banyak lagu yang saya tulis ketika saya merasa sedih dan depresi, dan itu terasa amat gelap. Dan lagu tersebut rasanya tak cocok dengan saya. Maka, saya tak merilisnya. Lagu tersebut hanya tersimpan di hard drives. Saya memilih untuk hanya merilis lagu yang positif dan optimis, meskipun temanya cukup berat seperti lagu di album baru saya, Silver Linings. Saya menulis Silver Linings untuk teman saya yang sedang berjuang melawan breast cancer dan banyak orang di sekitar saya yang merupakan pejuang breast cancer, meski ada yang akhirnya tetap kalah.

Beberapa bulan lalu, teman saya meninggal dan saya ingin mengekspresikan perasaan saya ke dalam sebuah lagu, tapi saya juga tak mau lagunya terdengar depressing. Saya ingin lagunya terdengar penuh harapan sebab saya memelajari dari pengalaman orang terdekat saya bahwa Anda harus tetap melawan penyakit dengan positivity. Anda harus tetap berharap untuk yang terbaik.

Jika Anda harus keluar dari zona nyaman untuk di album berikutnya, genre apa yang ingin Anda coba?

Saya rasa, suatu saat nanti, saya ingin kembali membuat album yang lebih bernuansa electro pop. Saya baru saja mendengarkan album terbaru dari Robyn, dan menurut saya album tersebut sangat bagus. Saya menyukainya karena terdengar sangat computery. Di album terbaru saya, dengan sengaja, saya justru menjauh dari warna musik tersebut. Tentunya, saya tetap menyukainya. Saya juga tertarik untuk bereksperimen dengan theatrical techno suatu hari nanti. We’ll see.

Lastly, mayoritas dari lagu Anda terdengar cerita dan comforting. Adakah pressure untuk selalu membuat lagu dengan nuansa tersebut?

Bukan tekanan, tetapi ketika mendengar cerita dari para penggemar yang mengatakan musik saya membantu mereka di masa-masa sulit di hidupnya, kemudian mereka berterima kasih pada saya, harus diakui bahwa perasaan tersebut sangat berkesan dan saya ingin melakukannya lagi.

Perasaan yang adiktif, tapi dalam arti yang positif. Jadi, bukan karena saya merasa pressure untuk terus melakukannya, tetapi saya memang ingin mendapat respons serupa lagi, karena rasanya menyenangkan ketika mengetahui musik saya dapat membantu orang lain. Hal tersebut membuat saya memiliki tujuan dalam berkarya, dan saya rasa itulah hal yang bisa saya lakukan dengan baik. Sepertinya orang-orang tidak menginginkan lagu yang dark dan gloomy dari saja. We’ll see. Mungkin saja saya akan membuat album bergenre death metal dan mungkin hasilnya akan bagus, hahaha....