The Fearless Dreams of Megan Doman

Ellena Azisia 15 Jun 2026

Hadir sepuluh menit sebelum yang dijadwalkan, ia datang dengan setelan yang simpel—mengenakan off shoulder top hitam yang dipadukan dengan celana denim, serta tanpa pulasan makeup, tak mengurangi kecantikan dari parasnya sedikit pun.

Ini merupakan kali pertama saya bertemu dengan Megan Domani. Ternyata, dirinya piawai dalam membawa suasana yang ceria. Terbukti dari obrolan saya bersama Megan, ketika membahas seputar karier, keluarga, kehidupan, bahkan percintaan. Dari obrolan ini, saya turut menemukan fakta bahwa Megan memiliki ambisi dan cita-cita yang tinggi. Menjadi titik terang di mana kita semua dapat mengenal sosok Megan melalui wawancara bersama Cosmo

Hai Megan! How’s your life so far? Sedang sibuk apa belakangan ini?

Hi Cosmo! I’m good. Saya baru saja selesai shooting film, dua minggu yang lalu. Dan saat ini, saya sedang mempromosikan film terbaru saya yang akan tayang di awal tahun, yang berjudul Musuh Dalam Selimut. Saya belum bisa menceritakan banyak tentang film ini. Tapi, yang pasti karakter saya di film ini sangat berbeda dengan karakter yang pernah saya perankan sebelumnya.

Jika ditarik mundur sedikit, Anda baru saja membintangi serial Sugar Daddy. Bagaimana cara Anda membangun chemistry dengan lawan main, meski terpaut usia yang jauh?

Tentu awalnya saya gugup. Namun, berkat Darius Sinathrya—lawan main saya—saya bisa melaluinya. He’s very open, tak ada sisi “senioritas” sama sekali. Mulanya, saya membangun chemistry lewat skenario. Selebihnya, saya banyak mengobrol bersama Darius, ditambah ia bisa mengikuti jokes kami sebagai Gen Z, meskipun terpaut usia yang jauh. Tentunya, tak luput bantuan dari acting coach juga.

Cosmo melihat Anda belajar pole dance untuk mendalami peran di serial Sugar Daddy. Adakah keseruan lain ketika riset untuk memerankan karakter tersebut?

Wah! Seru sekali ketika belajar pole dance. Kami hanya diberi waktu satu jam sebelum shooting untuk latihan pole dance. Untungnya, scene di mana saya melakukan pole dance memang kami harus terlihat kesulitan ketika melakukannya. Di samping itu, saya melakukan riset lain seperti menggali informasi lewat seseorang yang pernah menjadi sugar daddy.

 

Anda berkarier sejak usia yang terbilang sangat belia, apa titik balik yang membentuk karier Anda saat ini?

Ya, saya memulai akting di usia 11 tahun. Pada kala itu saya berakting di Operation Wedding Series. Kemudian saya berakting di sinetron Anak Jalanan. Mulanya saya kesulitan untuk berbicara bahasa Indonesia, karena saya lahir di Jamaika, lalu pindah ke Amerika, Filipina, Bali, dan hingga akhirnya di Jakarta. Tentu memberikan saya banyak tantangan ketika akhirnya saya harus meniti karier menggunakan bahasa Indonesia. Namun, saya sangat terbantu ketika menjalani proses shooting Anak Jalanan yang mendorong saya untuk bisa lebih mengenali bahasa “gaul” yang umumnya dipakai sehari-hari.  


Bisa dikatakan, Anda tumbuh di depan kamera. Apa tantangan terbesar saat bertransformasi dari aktris remaja ke perempuan dewasa di industri hiburan?

Tantangannya adalah bagaimana cara saya tetap bisa menjadi diri sendiri, walaupun saya tumbuh di depan audience. Itu cukup sulit bagi saya, karena bagaimanapun, tentu ada komentar dari audience. Pastinya ada ekspektasi dari orang lain terhadap saya. Namun, saya tetap mencoba untuk authentic dan menjadi diri sendiri agar tidak terpaku dengan ekspektasi orang lain.


Selama belasan tahun menapaki dunia hiburan, momen apa yang paling membentuk ulang cara Anda memaknai pekerjaan ini?

Awalnya, saya menganggap akting sebagai hobi. Namun saya sadar, bahwa setiap project saya tayang, selalu ada yang komentar atau direct message di Instagram saya mengatakan terima kasih karena telah mewakili cerita mereka, atau apa yang pernah mereka lalui. Maka, yang sebelumnya saya menganggap sebagai hobi, kini saya merasa harus lebih serius menekuninya. Apa pun karakternya, tentu ada orang di luar sana yang merasa diwakili. Saya sangat berterima kasih kepada mereka, dan saya senang bisa mewakili ceritanya.

 

Anda lebih sering berakting di serial, apakah Anda memang ingin fokus di serial, atau ingin mengimbangi antara serial dan film?

Pastinya saya berharap bisa lebih banyak berperan di film, meski saat ini saya turut bersyukur mampu banyak terlibat di serial. Saya rasa keduanya memiliki proses yang berbeda. Misalnya, film yang hanya terikat waktu paling lama dua jam, saya harus benar-benar memainkan emosi. Sedangkan di serial, we have more time.  Saya berharap, ke depannya mampu mengimbangi keduanya.

 

Tentu Anda masih terus mengeksplor karakter dan genre film. Apa karakter dan genre film yang ingin Anda perankan?

Sejauh ini, saya hanya bermain di genre drama atau komedi. Saya ingin sekali berakting di genre psychological-thriller. Dan perlahan sudah mulai tercapai yaitu di film terbaru saya, Musuh Dalam Selimut yang bergenre drama-thriller. Saya berani mengambil karakter di film tersebut karena ini out of my comfort zone. Saya suka yang challenging. Probably, mentally tiring, but it’s so fun! 

 

Siapa sosok yang paling berpengaruh dalam cara Anda memandang kehidupan dan karier?

Kedua orang tua saya. Jika dilihat secara career wise, ayah saya adalah orang yang hard worker. Ibu saya pun kerap mendorong saya untuk memilih pekerjaan berdasarkan keputusan saya sendiri. Jika saya melakukan casting namun tidak mendapatkan perannya, ibu saya tetap menyemangati saya. Both of them have a very big impact on my life.

 

Dulu Anda lebih dikenal sebagai “adiknya Bryan Domani”, pernahkah Anda merasa itu sebagai beban? Bagaimana cara Anda melepas embel-embel tersebut?

Tentu dengan karya-karya saya. Saya pun tidak keberatan jika dikenal sebagai adiknya Bryan, karena memang ia kakak saya dan kami sangat dekat. Namun yang terpenting, saya mampu membuktikan kepada khalayak bahwa saya turut memiliki talenta di bidang yang saat ini saya jalani.

Cosmo tahu, pekerjaan Anda mungkin melelahkan. Di tengah kesibukan, bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara pekerjaan, waktu pribadi, dan kesehatan mental?

Saya selalu memprioritaskan waktu istirahat. Minimal istirahat selama seminggu, kemudian lanjut shooting. Saya kerap melakukan olahraga seperti gym dan pilates. Selain itu, saya juga senang membaca buku. Pastinya, saya juga catch up dengan teman-teman untuk sekadar mengobrol.

 

Wah… ternyata Anda senang membaca. Lantas, adakah rekomendasi buku yang menjadi favorit Anda?

Saya suka sekali buku bergenre psychological-thriller. Saya suka dibuat berpikir dan menebak. Anda wajib membaca The Silent Patient karya Alex Michaelides dan The Boyfriend karya Freida McFadden.

 

Jika melihat laman Instagram Anda, Anda sering traveling, which is fun! Destinasi mana yang paling berkesan untuk Anda?

Sebenarnya masih banyak yang belum saya eksplor, tapi sejauh ini destinasi yang paling berkesan ialah Amerika dan Italia. Beberapa waktu lalu, saya ke Los Angeles dan ternyata beda dengan ekspektasi saya. Indah sekali. Kalau Italia, saya sangan suka alamnya. 


Let’s talk about relationship. Sebagai seorang Gen Z, rasanya tak asing dengan berbagai istilah-istilah baru seputar relationship—seperti situationship, love bombing, dan ghosting. Apakah situasi-situasi tersebut pernah relate dengan kehidupan Anda?

Untuknya tidak pernah. Saya sudah menjalani hubungan dengan pasangan saya selama tujuh tahun, and we’re doing fine. Mungkin pengaruh dari saya melihat kakak saya, Bryan dan ayah saya—the way they treat women.  Dan saya langsung mengetahui apa yang harus saya dapat dari seorang pasangan.

 

Anda berzodiak Libra—yang dilihat dari kacamata astrologi dikenal sebagai zodiak yang sulit menentukan pilihan—apakah Anda termasuk sosok yang picky dalam memilih pasangan?

Saya adalah orang yang sangat picky. Itulah mungkin alasan saya tidak pernah menerima love bombing dan lain-lain, karena saya sangat picky. Jika ada satu hal yang kurang cocok dengan moral saya, maka saya akan mundur. Dan itu saya aplikasikan juga dalam pekerjaan. Saya sangat berhati-hati. Tapi, picky-nya Libra terkadang annoying. Saya dan pasangan saya adalah Libra. Kerap kali ketika saya dan pasangan saya ingin menentukan pilihan makanan, kami kebingungan dan berakhir bertanya dengan orang lain, hahaha. Tapi saya justru lebih mudah memutuskan hal yang besar dibanding hal yang kecil.


Lastly, apa impian besar yang belum sempat Anda tunjukkan ke publik, tapi diam-diam sedang Anda perjuangkan?

Mungkin ini mimpi semua aktor. Saya ingin bisa memenangkan nominasi di Festival Film Indonesia. And if you want to dream big, an Oscar is one of the biggest dreams ever.