Baskara Mahendra dan Menjadi Aktor di Tengah Sorotan Publik
Adrien Brody pernah mengatakan dalam pidato kemenangan Oscar 2025 untuk kategori Best Actor bahwa dunia akting adalah profesi yang rapuh. Dari luar, profesi ini mungkin terlihat glamor, tetapi kesuksesan bisa hilang kapan saja. Ucapan tersebut terdengar reflektif sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik sorotan kamera, karier seorang aktor tak pernah sepenuhnya pasti.
Passion mungkin menjadi hal yang menggerakkan determinasi seorang aktor. Namun di balik passion, ada proses lain yang tak kalah penting. Bagi Baskara Mahendra, proses itu adalah observasi. Setiap proyek yang dijalaninya menjadi kesempatan untuk memahami manusia, mulai dari cara mereka berpikir, berbicara, merespons emosi, hingga menjalani hidup.
Namanya mulai mencuri perhatian lewat film Bebas (2019) garapan Riri Riza dan Mira Lesmana. Sejak saat itu, Baskara terus memperluas spektrum perannya dengan menjajal berbagai genre dan karakter. Kemampuan observasi yang sama juga tercermin dalam cara ia memandang kariernya. Di depan kamera, ia adalah seorang aktor yang dituntut untuk memahami kehidupan orang lain. Namun di luar layar, ia juga seorang figur publik dengan banyak penggemar, di mana sorotan popularitas kerap ikut menyentuh ranah personal, sesuatu yang ia pahami sebagai bagian dari risiko profesinya.
Meski demikian, Baskara tetap berusaha menjadi sosok yang sama seperti sebelum sorotan popularitas datang. Ia masih menjadi penggemar loyal klub sepak bola Arsenal, teman yang kerap menjadi inisiator berbagai agenda berkumpul dan berlibur, serta seorang pria yang kini memasuki usia 30an dengan pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan hidupnya.
Dalam perbincangan bersama Cosmopolitan Indonesia, Baskara berbagi cerita tentang karier, cinta, persahabatan, hingga pelajaran yang ia temukan sepanjang perjalanannya.
Di usia 30an, apa hal yang paling Anda pahami tentang diri sendiri yang tidak Anda ketahui saat berusia 20an?
Yang paling berubah mungkin tujuan hidup. Saat berusia 20an, saya masih belum benar-benar tahu ingin melakukan apa. Memasuki usia 30an, saya merasa lebih memahami apa yang ingin saya lakukan ke depannya.
Langkah-langkahnya juga sudah lebih jelas. Mungkin masih berupa baby steps dan berjalan perlahan, tetapi setidaknya saya tahu arah yang ingin dituju. Kalau dulu mungkin saya belum tahu tujuan saya. Sekarang saya merasa lebih memahami ke mana saya ingin melangkah.
Apa sisi diri Anda yang biasanya paling mengejutkan orang saat mengenal Anda lebih dekat?
Kebanyakan orang yang baru mengenal saya biasanya bertemu di lokasi syuting. Karena bekerja bersama selama kurang lebih satu bulan, akhirnya kami jadi dekat.
Biasanya mereka bilang saya cukup usil dan suka bercanda. Di lokasi syuting kadang tidak banyak aktivitas dan bisa terasa membosankan.
Apa yang membuat Anda serius menekuni profesi aktor dan meninggalkan dunia pekerja kantoran?
Mungkin kembali lagi pada sifat saya yang mudah bosan dan tidak bisa diam. Sebelum bekerja kantoran, saya sempat memiliki usaha bersama ibu saya, lalu bekerja sebagai sales manager.
Saat ada kesempatan mencoba akting, saya merasa ingin mengeksplorasi sesuatu yang baru. Awalnya hanya coba-coba, tetapi ternyata profesi ini selalu menghadirkan proyek, karakter, dan cerita yang berbeda, sehingga membuat saya bertahan sampai sekarang.
Tentu ada rasa takut karena saat itu saya sudah memiliki penghasilan yang stabil. Saya memulai karier akting dari bawah sebagai talent iklan dan mengikuti casting berkali-kali setiap minggu. Bahkan saya sempat membuat target, jika dalam setahun penghasilannya tidak bisa menyamai pekerjaan sebelumnya, saya akan kembali bekerja kantoran.
Syukurnya, karier saya berkembang dan saya menemukan bahwa saya benar-benar menikmati akting. Kesadaran itu baru datang setelah saya menjalaninya di usia 23 atau 24 tahun. Menurut saya, tidak ada kata terlambat untuk menemukan passion.
Apa tantangan terbesar menjadi aktor?
Menurut saya, semakin seorang aktor dikenal, justru semakin sulit untuk melakukan observasi. Padahal observasi adalah bagian penting dari pekerjaan kami.
Saya suka mengamati orang-orang, cara mereka berjalan, berbicara, menggunakan gestur, atau berinteraksi. Semua itu bisa menjadi referensi ketika membangun karakter. Namun ketika sudah semakin dikenal publik, ruang untuk melakukan observasi secara bebas menjadi semakin terbatas.
Setiap pekerjaan punya risiko dan tanggung jawabnya masing-masing. Apa hal yang harus Anda kompromikan dalam menjalani profesi sebagai aktor?
Privasi. Saya memulai profesi ini karena mencintai proses kreatifnya. Namun konsekuensinya adalah dikenal banyak orang dan harus berbagi sebagian ruang pribadi dengan publik.
Saya sangat bersyukur atas dukungan yang diberikan banyak orang. Tetapi memang ada konsekuensi berupa berkurangnya privasi karena banyak orang ingin mengetahui kehidupan pribadi kita.
Dari sekian peran yang sudah Anda mainkan, mana yang paling mirip dengan Anda?
Ada satu film yang saya syuting tahun ini. Kebetulan masalah yang dialami karakter tersebut cukup mirip dengan apa yang terjadi dalam hidup saya.
Karena itu saya sempat berdiskusi dengan sutradara tentang bagaimana caranya agar saya tidak terlalu memasukkan diri saya ke dalam karakter tersebut. Bagaimanapun, saya harus tetap memberikan keadilan kepada karakter itu karena ia memiliki kehidupannya sendiri dan bukan saya.
Namun saya tidak bisa memungkiri bahwa ada sedikit pengalaman pribadi yang saya gunakan saat memerankannya. Sayangnya saya belum bisa bercerita lebih jauh karena filmnya belum tayang. Mungkin tahun depan.
Anda sudah memerankan berbagai macam karakter. Karakter seperti apa yang ingin Anda coba selanjutnya?
Komedi. Sebenarnya saya pernah bermain dalam film Bebas yang memiliki unsur drama komedi. Namun saya masih ingin mengeksplorasi genre itu lebih jauh. Tidak harus komedi murni, drama komedi atau romantic comedy juga menarik.
Selain itu saya juga tertarik mencoba film action. Sampai sekarang saya belum pernah bermain dalam film yang benar-benar berfokus pada action.
Siapa aktor yang menginspirasi Anda dalam karier?
Saya sangat menyukai penampilan Heath Ledger di The Dark Knight. Namun yang paling menginspirasi saya biasanya bukan hanya hasil akhirnya, melainkan proses yang mereka lakukan untuk menemukan karakter.
Saya juga mengagumi apa yang dilakukan Daniel Day-Lewis maupun Adrien Brody. Saya selalu tertarik melihat sejauh mana seorang aktor berusaha memahami dan merasakan kehidupan karakter yang mereka mainkan.
Anda masih mempertahankan profil LinkedIn. Apakah suatu hari Anda ingin membangun bisnis atau menekuni profesi lain?
Beberapa tahun setelah resign dari pekerjaan kantoran, saya sempat membuka LinkedIn lagi. Awalnya saya berpikir apakah profil saya perlu diperbarui atau tidak. Saya bahkan sempat mencari tahu apakah ada aktor di luar negeri yang menggunakan LinkedIn secara aktif. Ternyata ada beberapa, meskipun tidak banyak.
Saya sempat terpikir untuk melakukan hal yang sama, tetapi akhirnya tidak jadi karena rasanya belum terlalu relevan di Indonesia.
Kalau ditanya apakah suatu hari akan kembali ke dunia profesional di luar industri hiburan, saya tidak pernah menutup kemungkinan. Never say never. Saya berasal dari keluarga yang tidak berkecimpung di dunia seni, jadi saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Seperti apa perfect date seorang Baskara Mahendra?
Saya orang yang sangat menghargai deep connection. Jadi buat saya, perfect date adalah menikmati makanan enak sambil memiliki percakapan yang berkualitas.
Saya ingin benar-benar mengenal orang tersebut. Dari situ biasanya akan terlihat apakah hubungan ini akan berlanjut ke kencan kedua atau tidak.
Banyak riset mengatakan bahwa jatuh cinta terasa semakin sulit di usia 30an. Bagaimana pendapat Anda?
Saya rasa itu ada benarnya. Di usia 30an, setiap orang biasanya sudah memiliki tujuan hidup masing-masing. Ketika bertemu orang baru, kita tidak ingin mengubah tujuan yang sudah kita bangun. Begitu juga mereka.
Tantangannya adalah bagaimana dua orang yang sudah memiliki prioritas masing-masing bisa menemukan titik temu untuk berjalan bersama.
Menurut Anda, apakah dating app masih relevan atau Anda lebih percaya bahwa cinta bisa tumbuh di mana saja?
Menurut saya dating app hanyalah salah satu pintu untuk bertemu orang baru. Pada akhirnya yang menentukan tetap pertemuan langsungnya. Sama seperti sekarang banyak orang berkenalan lewat DM Instagram. Itu hanya media pertemuan. Yang menentukan adalah apa yang terjadi setelahnya.
Kita sering mendengar cerita hubungan parasosial antara penggemar dan artis. Dari sudut pandang seorang artis, bagaimana Anda membangun batasan hubungan yang sehat dengan penggemar?
Saya justru mencoba melihatnya dari sudut pandang sebagai penggemar. Sebagai penggemar, saya selalu berusaha memisahkan antara sosok yang saya lihat di media dengan kehidupan pribadi mereka yang sebenarnya. Saya rasa penting untuk tidak memiliki rasa memiliki atau posesif terhadap sosok yang kita idolakan.
Sebagai penggemar Arsenal yang terkenal loyal, apakah hal itu memengaruhi cara Anda memandang hubungan?
Saya sudah mendukung Arsenal selama hampir 20 tahun. Bahkan jauh sebelum menjadi aktor, saya aktif di komunitas Arsenal Indonesia. Banyak yang bercanda bahwa penggemar Arsenal itu setia karena tetap mendukung klub yang lama tidak juara. Kalau bicara soal loyalitas, menurut saya itu memang nilai yang penting dimiliki siapa pun.
Bagaimana awalnya Anda bersahabat dengan Kristo Immanuel, Lutesha, Jourdy Pranata, Agnes Naomi, dan Runny Rudiyanti?
Sebenarnya pertemanan ini terbentuk secara alami. Kami bertemu melalui proyek yang berbeda-beda, lalu lama-kelamaan menjadi dekat. Awalnya kami sering berolahraga bersama, terutama bermain padel. Setelah itu kami mulai sering berkumpul dan bermain board game di apartemen saya.
Jaket dan celana, DIBBA; cincin, Stuudio Particular
Dalam pertemanan, Anda tipe teman seperti apa?
Mungkin saya lebih sering menjadi inisiator. Biasanya saya yang mengusulkan ide perjalanan, kegiatan, atau konten yang ingin dibuat bersama.
Bagaimana Anda menyeimbangkan kehidupan sosial dan privasi?
Saya berusaha menjalani hidup senormal mungkin. Tentu ada batas privasi yang harus dijaga, tetapi saya juga tidak ingin hidup dengan terlalu banyak batasan. Kalau saya sampai kehilangan kehidupan pribadi sepenuhnya, saya rasa saya akan kehilangan rasa menjadi manusia biasa.
Apa impian yang ingin Anda wujudkan selanjutnya?
Saya masih ingin mencoba banyak genre yang belum pernah saya mainkan, seperti komedi, romantic comedy, atau action.
Selain itu, saya juga tertarik mengeksplorasi dunia di luar akting. Kalau harus memilih, mungkin saya ingin mencoba menjadi produser karena saya cukup tertarik dengan sisi bisnis industri film. Ini memberi penutup yang kuat karena mengarah ke bab berikutnya dalam perjalanan kariernya.
Fotografer: Hadi Cahyono
Fashion Stylist: Dheniel Algamar
Text: Rayoga Akbar Firdaus
Assistant Fashion Stylist: Elizabeth Alicia Terisno
Makeup Artist: Claudya Christiani
Hairstylist: Ichanaa
Lokasi: Le Cirque Jakarta