Kenapa Kita Lebih Mudah Mengingat Hal Buruk daripada Hal Baik?
Pernahkah kamu menerima banyak pujian dalam satu hari, tapi justru terus memikirkan satu komentar negatif yang dilontarkan seseorang? Atau mungkin, setelah menjalani hari yang menyenangkan, pikiranmu malah terpaku pada satu kejadian yang membuatmu kesal. Jika pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Kebiasaan ini merupakan bagian dari cara kerja otak manusia.
Meskipun terdengar tidak adil, otak memang cenderung lebih mudah menyimpan dan mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Hal ini bukan karena kamu terlalu pesimis, melainkan karena ada mekanisme biologis dan psikologis yang sudah berkembang sejak lama. Untuk memahami lebih jauh, berikut penjelasan kenapa kita lebih mudah mengingat hal buruk daripada hal baik?
1. Otak Memiliki Negativity Bias
Salah satu penyebab utamanya adalah negativity bias, yaitu kecenderungan otak memberi perhatian lebih besar pada pengalaman negatif. Menurut penelitian dalam Review of General Psychology (2001) oleh Roy F. Baumeister dan rekan-rekannya, pengalaman buruk umumnya memiliki dampak psikologis yang lebih kuat dibandingkan pengalaman baik. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan ini membantu manusia lebih waspada terhadap ancaman sehingga meningkatkan peluang untuk bertahan hidup.
2. Pengalaman Buruk Memicu Respons Emosi yang Lebih Kuat
Kejadian yang memicu rasa takut, sedih, atau marah cenderung lebih membekas di dalam ingatan. Penelitian dalam Nature Reviews Neuroscience (2018) menjelaskan bahwa bagian otak seperti amigdala berperan penting dalam memperkuat penyimpanan memori yang memiliki muatan emosional tinggi. Karena emosi negatif sering terasa lebih intens, otak pun lebih mudah menyimpannya dibandingkan momen-momen biasa yang menyenangkan.
3. Otak Menganggap Pengalaman Negatif sebagai Pelajaran Penting
Saat mengalami kegagalan atau kesalahan, otak akan terus mengulang pengalaman tersebut sebagai upaya untuk mencegah hal yang sama terjadi di masa depan. Menurut penelitian dalam Current Directions in Psychological Science (2019), manusia cenderung belajar lebih banyak dari pengalaman yang dianggap mengancam atau merugikan. Itulah sebabnya kamu bisa terus mengingat satu kesalahan kecil meskipun sudah lama berlalu.
4. Pikiran Cenderung Mengulang Pengalaman Negatif
Kebiasaan memikirkan kembali kejadian yang tidak menyenangkan atau rumination membuat ingatan negatif semakin kuat. Penelitian dalam Journal of Abnormal Psychology (2020) menunjukkan bahwa ruminasi berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, kecemasan, dan suasana hati yang buruk. Semakin sering sebuah pengalaman dipikirkan, semakin mudah pula otak memanggilnya kembali.
5. Pengalaman Positif Perlu Dinikmati dengan Sadar
Berbeda dengan pengalaman negatif yang cepat melekat, momen positif sering kali berlalu begitu saja. Menurut penelitian dalam The Journal of Positive Psychology (2021), melatih rasa syukur dan menikmati pengalaman baik secara sadar (savoring) dapat membantu memperkuat memori positif. Misalnya, meluangkan beberapa menit untuk mengingat hal-hal baik yang terjadi hari ini dapat membuat otak lebih mudah menyimpannya dalam ingatan jangka panjang.
Jadi kenapa kita lebih mudah mengingat hal buruk daripada hal baik?Jawabannya terletak pada cara kerja otak yang sejak dulu dirancang untuk melindungi manusia dari bahaya. Namun, mekanisme yang dulunya membantu manusia bertahan hidup ini kadang membuatmu lebih fokus pada kekurangan, kegagalan, atau pengalaman yang menyakitkan.
Kabar baiknya, otak juga memiliki kemampuan untuk belajar membangun kebiasaan baru. Dengan lebih sering menyadari dan menghargai pengalaman positif, perlahan-lahan kamu dapat melatih pikiran agar tidak hanya terpaku pada hal-hal buruk. Ingat, hidupmu tidak hanya berisi kesalahan dan kekecewaan. Ada banyak momen baik yang layak diingat, hanya saja sering kali otak membutuhkan sedikit bantuan agar tidak melewatkannya.