8 Bahaya Terlalu Lama Memendam Perasaan Seorang Diri
Cosmo sangat mengerti bahwa setiap orang menyikapi masalah dengan cara berbeda. Sayangnya, beberapa orang mungkin cenderung memendam perasaan seorang diri alih-alih menceritakan perasaannya kepada orang-orang terdekat.
Turns out, kebiasaan suka memendam perasaan seorang diri tidak baik, Babes. Bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, namun juga ikut memengaruhi kesehatan fisikmu.
Di sisi lain, memendam perasaan seorang diri tidak akan membantu kamu menyelesaikan masalah, dan bisa membuatmu terkurung di dalam siklus tersebut dalam waktu cukup lama. Ouch!
Simak Bahaya Terlalu Lama Memendam Perasaan Seorang Diri

Well, berikut ini Cosmo telah merangkum beberapa bahaya terlalu lama memendam perasaan seorang diri. Simak, Babes!
1. Bisa meledak-ledak sewaktu-waktu atau bertindak impulsif
Memendam masalah seorang diri dalam waktu lama bisa membuat kamu 'meledak' secara mendadak hingga bertindak impulsif, Babes.
Menahan emosi pada akhirnya akan membuat tekanan emosional menumpuk, kemudian kamu akan meledak di kala waktu yang tak bisa diprediksi. Di sisi lain, memendam emosi terlalu lama juga bisa membuatmu bertindak impulsif karena tidak bisa berpikir jernih.
Pada akhirnya, kamu akan merasa terguncang dengan apa yang telah dilakukan, dan mendorong kamu untuk kembali memendam perasaan dan siklus yang sama pun terus berulang.
2. Terlalu mengkritik diri sendiri
Well, orang yang sering memendam perasaan akan cenderung menyalahkan diri sendiri, meskipun itu sebenarnya bukan kesalahannya, Dear.
Misalnya, kamu mungkin menyalahkan diri sendiri atas kandasnya hubungan percintaan, padahal berakhirnya hubungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dan perilaku orang lain.
Di sisi lain, kamu juga akan cenderung mengkritik diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri untuk berbagai hal yang sebenarnya ada di luar kontrolmu.
3. Rentan mengalami masalah kesehatan
Turns out, memendam perasaan seorang diri terlalu lama bisa membuatmu rentan mengalami masalah kesehatan, lho.
Dokter Gabor Maté dalam bukunya When the Body Says No mendokumentasikan bagaimana internalisasi menyebabkan stres berkelanjutan yang pada gilirannya dapat memicu masalah medis umum seperti asma, kanker, radang sendi reumatoid, dan bahkan Alzheimer.
4. Memberikan tekanan pada kesehatan mental
Kebiasaan mengabaikan perasaan sendiri pada akhirnya dapat berdampak pada kepercayaan diri kita. Seiring waktu, kita mungkin merasa bahwa tidak ada yang peduli dengan kebutuhan atau keinginan kita dan bahwa pendapat atau suara kita tidak berarti.
Hal itu juga dapat menyebabkan kita merasa stres, depresi, atau cemas. Perasaan-perasaan tersebut terus memburuk dan berkembang bahkan ketika tidak diungkapkan. Dalam beberapa kasus, kamu bahkan mungkin merasa sangat marah atau murka dan mengembangkan perasaan dendam terhadap orang lain.
5. Menghambat hubungan sosial
Memelihara hubungan sosial sangat penting bagi kesejahteraan kita secara keseluruhan. Bagaimanapun, pada dasarnya kita adalah makhluk sosial. Ketika kita tidak cukup mengekspresikan diri, hubungan kita tidak dapat berkembang dengan cara yang bermakna, Dear.
6. Merasa khawatir dan cemas sepanjang waktu
Jika kamu memilih untuk tidak menghadapi perasaanmu, emosi yang terpendam ini mulai muncul secara tiba-tiba, menyebabkan kamu merasa khawatir dan cemas. Misalnya, jika kamu mengalami kesulitan keuangan tetapi tidak membicarakannya dengan pasangan, kekhawatiran kamu bisa meningkat. Beban menyimpan semuanya di dalam hati dapat menyebabkan kecemasan yang terus-menerus, Girls.
Namun, keterbukaan dapat meringankan beban ini. Ketika kamu berbagi kekhawatiran keuanganmu dengan pasangan atau teman tepercaya, kamu lebih mungkin menerima dukungan yang dibutuhkan dan membuat rencana untuk melangkah maju.
7. Sering mengalami sakit kepala
Ketika kamu kesulitan mengendalikan emosi, hal itu dapat bermanifestasi secara fisik sebagai sakit kepala atau migrain yang sering terjadi. Kamu mungkin berpikir itu murni penyakit fisik, tetapi sebenarnya, itu mungkin berasal dari beban emosi yang berlebihan.
Terlalu banyak menghabiskan waktu merenungkan pikiran negatif dapat memicu sakit kepala tegang, sehingga lebih sulit untuk berkonsentrasi di tempat kerja dan lebih sulit untuk mempertahankan suasana hati yang positif sepanjang hari.
8. Sulit mengekspresikan emosi
Jika kamu terbiasa memendam emosi, mengekspresikan diri mungkin mulai terasa tidak wajar atau bahkan mustahil. Ini tidak baik untuk kesehatan mental, emosi yang ditekan dapat menyebabkan gangguan suasana hati seperti depresi dan kecemasan.
Seiring waktu, kamu mungkin tidak lagi melihat komunikasi terbuka sebagai pilihan yang layak, yang sangat umum terjadi pada pria karena ekspektasi sosial seputar maskulinitas.