Rayakan Satu Dekade, Wilsen Willim Pertemukan Wastra dan Teknologi dalam Koleksi Terbaru
Di tengah naik-turunnya iklim ekonomi dan industri mode Tanah Air, mampu bertahan selama satu dekade merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Dalam sepuluh tahun terakhir, tren datang silih berganti, teknologi terus mengubah cara masyarakat menikmati fashion, sementara tantangan bisnis kian kompleks. Di tengah dinamika tersebut, Wilsen Willim merayakan satu dekade perjalanannya lewat koleksi haute couture bertajuk Algorithm: Universal Language, sebuah refleksi atas perjalanan kreatifnya sekaligus pernyataan tentang arah yang ingin ia bawa untuk masa depan.
Bertempat di Hotel Mulia, Jakarta, pada 8 Juli 2026, Wilsen Willim menggelar fashion show yang mengusung gagasan tentang algoritma sebagai bahasa universal. Ini tentu bukan tentang algoritma media sosial, melainkan tentang bagaimana sebuah koleksi diciptakan melalui pertemuan wastra, craftsmanship, teknologi, dan kolaborasi.
Pertemuan Tenun dan Denim

Jika algoritma adalah tentang menemukan hubungan dari berbagai elemen, Wilsen menerjemahkannya lewat perpaduan material yang tak selalu berjalan beriringan: tenun dan denim.
Ia menggunakan tenun sutra Garut, tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Putussibau, Kalimantan Barat, songket Jembrana Bali, serta songket Minang dari Halaban, yang kemudian dipadukan dengan denim daur ulang Ecotouch.
Di balik eksplorasi material tersebut ada alasan yang lebih pragmatis. “Inovasi ini tidak hanya tentang pelestarian wastra, dengan adanya penggunaan benang daur ulang yang diproduksi dalam negeri, kita turut mengurangi penumpukan sampah tekstil dan juga kelangkaan dan peningkatan harga benang yang kerap menghambat proses produksi para penenun,” jelas Wilsen dalam keterangan pers.

Wilsen mengolah perpaduan tenun dan denim ke dalam berbagai interpretasi beskap dan jaket. Tenun tak selalu menjadi material utama, tetapi juga hadir sebagai aksen yang memberi kontras sekaligus nuansa eklektik pada beberapa tampilan. Detail bordir, embellishment bermotif grafis dan flora, hingga tassel semakin memperkaya tekstur setiap look.

Tak hanya berfokus pada beskap, Wilsen juga menghadirkan deretan busana yang terasa lebih kasual. Mulai dari sweater V-neck, apron, leather jacket, hingga kemeja dengan kerah dramatis yang menyerupai rumbai tertiup angin.
There's always a sense of tension in Wilsen Willim's collections, and this season it came through the styling. Wilsen memilih pendekatan yang lebih edgy lewat tambahan harness, cuffs, dan korset aksen buckles. Rambut sejumlah model ditata menjulang dengan volume yang dramatis
Did he take a risk with the styling? Indeed. But clearly he's having fun with it. Meski tampil lebih eksperimental, semiotik khas Wilsen Willim yang merefleksikan sosok tangguh tetap terasa. Jika sebelumnya kesan powerful itu hadir dengan tenang dan elegan, kini harness dan cuffs membuatnya terasa lebih lantang.

Kolaborasi juga menjadi salah satu kekuatan koleksi ini. Seluruh aksesori kulit dikembangkan bersama Peau, sementara sepatu seperti pointy pumps beraksen zipper serta loafer pria dengan detail pinwheel merupakan hasil kolaborasi bersama Bocorocco. Sentuhan akhir hadir lewat perhiasan karya Subeng Klasik.
Daya tarik dari haute couture adalah craftsmanship. Dalam koleksi ini, elemen tersebut tak hanya terlihat pada busana, tetapi juga musik. Bersama Ican Harem, sahabat sekaligus kolaboratornya, Wilsen mencoba menciptakan algoritma dari kain tenun.
Pola dari empat jenis kain tenun yang digunakan dalam koleksi ini dipindai menggunakan kamera, lalu diterjemahkan AI menjadi algoritma angka yang kemudian diolah Ican menjadi instrumen, ketukan, dan tempo. Hasilnya adalah komposisi musik yang terdengar puitis, sebelum bertransformasi menjadi hentakan yang lebih dinamis.
Musik tersebut tak sekadar menjadi pengiring fashion show, tetapi juga secara tak langsung menarasikan proses kreatif koleksi ini. Sebuah proses kreatif yang dinamis dan penuh semangat dari Wilsen bersama para kolaboratornya.

Dalam sesi re-see bersama rekan media yang digelar sehari setelah fashion show di Rumah Heritage, Jakarta, Wilsen menjelaskan bahwa lewat koleksi ini ia ingin meredefinisi couture. Bahwa tenun juga dapat menjadi bintang utama dalam sebuah koleksi couture.
Koleksi ini pun tak hanya menjadi perayaan satu dekade perjalanan Wilsen Willim, tetapi juga kecintaannya pada kain tenun. Ia mendatangi langsung para perajin di berbagai daerah untuk mempelajari akar budaya sekaligus proses pembuatan setiap kain. Sebuah gestur yang menunjukkan bahwa wastra bisa dibuat relevan dengan perkembangan zaman, tanpa mengesampingkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

“Dengan adanya permintaan baju-baju wastra, maka permintaan produksi untuk kain-kain wastra akan terus meningkat, tak hanya mengangkat sosial ekonomi para penenun di pelosok, namun juga membangkitkan minat generasi muda untuk menenun dan meneruskan warisan budaya ini,” ujar sang desainer.

Sebuah film dokumenter berjudul Reinventing Tenun : Journey to Algorithm akan dirilis pada pada 21 Agustus 2026 di XXI Plaza Indonesia, yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Di penghujung fashion show, Wilsen mengajak ketiga asisten desainernya untuk berjalan bersamanya di atas runway. Banyak rintangan yang telah ia lalui dan pencapaian yang diraihnya selama sepuluh tahun terakhir. Dalam perayaan eksistensi sekaligus presentasi adibusana pertamanya ini, ia bisa saja menikmati riuh tepuk tangan itu seorang diri. Namun, ia memilih berbagi panggung dengan tim, kolaborator, dan juga penenun. Di tengah dunia yang semakin digerakkan teknologi, Wilsen Willim membuktikan bahwa kreativitas dan sisi humanis menjadi algoritma yang paling relevan.