Exclusive Interview: Freya JKT48 Ungkap Ambisinya di Industri Hiburan

Ellena Azisia 15 Jul 2026

Di usia 20 tahun Freya telah menjalani berbagai macam peran. Selain menjadi anggota dari JKT48, di mana ia juga memikul tanggung jawab sebagai kapten, Freya juga sedang sibuk mengembangkan bakatnya sebagai seorang aktris. 

Namun, yang paling mencuri perhatian justru bukan deretan pencapaiannya. Saat bertemu di studio pemotretan, Freya datang dengan senyum hangat yang langsung mencairkan suasana. Kepribadian yang ceria dan mudah berbaur itu terasa begitu natural, bukan persona yang hanya muncul ketika kamera menyala. Mungkin, bertahun-tahun tumbuh di industri hiburan sejak bergabung dengan JKT48 di usia belia membuatnya terbiasa menghadapi berbagai situasi tanpa kehilangan kerendahan hati.

Hari itu sebenarnya menjadi salah satu jadwal yang cukup padat bagi Freya. Begitu sesi pemotretan selesai, ia harus bergegas menuju FX Sudirman untuk tampil di Teater JKT48. Di tengah rutinitas yang padat, ia juga masih menjalani perkuliahan. Menyeimbangkan karir dan pendidikan bukan perkara mudah, tetapi bagi Freya, keduanya sama pentingnya. Simak penuturan Freya tentang transformasi karier, pendewasaan diri, dan kriteria pasangan idealnya.

 

Atasan, RINDA SALMUN; rok, STUDIO JEJE; anting, AIDAN AND ICE.

Hai Freya, apa kabar? Sedang sibuk apa belakangan ini?

Hai Cosmo! Kabar saya baik. Belakangan ini saya sedang sibuk kuliah. Selain itu, saya sedang mempersiapkan konser Request Hour bersama JKT48.

Sebagai kapten JKT48, apa pressure terbesar yang Anda rasakan?

Pressure terbesar menurut saya adalah untuk menjadi contoh. Sedangkan, saya masih harus banyak belajar. Sebenarnya, saya telah 8 tahun menjadi bagian dari JKT48, namun dengan adanya pandemi COVID-19, rasanya saya masih stuck di 5 tahun pertama. Maka, rasanya pressure untuk menjadi contoh dan harus tahu banyak hal. Terlebih, di JKT48 banyak yang usianya jauh di atas saya, sehingga saya juga menjadi kapten untuk kakak-kakak di JKT48.

Anda memulai karier di JKT48 dan sekarang Anda melebarkan sayap ke dunia seni peran. Apa yang membuat Anda yakin untuk melakukan kedua bidang tersebut dalam satu waktu?

Karena saya suka. Jadi, alasan saya masuk ke JKT48 adalah karena saya suka menonton Barbie semasa saya kecil. Saya kerap membayangkan bernyanyi dan menari seperti Barbie hingga bertanya-tanya, “Adakah pekerjaan di dunia nyata yang bernyanyi dan menari seperti Barbie?” Selain gemar menonton Barbie, saya juga suka membaca buku dan menonton film. Di situ, saya kerap berkhayal untuk menjadi pemeran utama di buku atau film tersebut. Fun fact, ketika kecil, saya pernah menulis draft novel. Saya ingin menjadi penulis pada kala itu.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam transformasi karier dari penyanyi dan juga menjadi aktris?

Bagi saya, menjadi penyanyi di JKT48 memiliki perasaan yang berbeda. Karena, JKT48 sudah ada sejak saya ada. Sebelum ada Freya JKT48 sudah ada JKT48. Jadi, rasanya saya perlu membawa nama baik JKT48 dan meneruskannya. Sedangkan untuk menjadi aktris, saya membangun karier tersebut dari awal. Saya rasa, ini adalah hal yang saya mulai sendiri, Freya versi aktris, meskipun ada Freya JKT48 juga. Tantangannya terbesarnya adalah membawa tanggung jawab baru dengan titel baru yaitu, “Freya aktris”.

Atasan, 11/10; celana, STUDIO JEJE; anting, AIDAN AND ICE.

Setelah berakting di webseries, debut akting layar lebar Anda adalah pada film Kuasa Gelap. Adakah kesulitan dalam mendalami peran, terlebih Kuasa Gelap adalah film horror?

Saya bersyukur karena bisa berkontribusi dalam film Kuasa Gelap (2024). Ini merupakan titik awal saya di dunia perfilman dan bersama orang-orang hebat di film itu seperti Jerome Kurnia dan Lukman Sardi. Kesulitan dalam menjalani proses shooting film ini adalah, saya terbiasa memberi ekspresi senang di panggung JKT48. Sedangkan di Kuasa Gelap, saya harus akting ketakutan. Ada scene di mana saya bermain boneka jelangkung di kuburan. Proses shooting memang dilakukan di kuburan dan di pukul 02.00 pagi. Namun, suasananya sama sekali tak menakutkan. Sehingga saya sempat berdoa untuk tiba-tiba ada hantu yang lewat agar saya bisa benar-benar ketakutan, hahaha! Kesulitan yang saya alami turut terbantu oleh Lea Ciarachel yang terus memberi semangat. Saya juga merasa bisa improve berkat Lea.

Karier akting Anda dilanjut dengan Satu Kakak Tujuh Ponakan. Di film Satu Kakak Tujuh Ponakan, akting Anda sangat mencuri perhatian. Dari film horror ke film drama yang notabenenya banyak adegan menyentuh hati. Bagaimana cara Anda mendalami emosi pada film tersebut?

Sebenarnya, banyak chemistry yang dibangun sejak lama. Saya adalah anak pertama di keluarga saya, jadi saya tak tahu bagaimana rasanya memiliki kakak. Tapi, di film Satu Kakak Tujuh Ponakan (2024), peran saya memiliki kakak yaitu Fatih Unru sebagai Woko. Di situ saya merasa pertama kali punya kakak. Chemistry yang dibangun sudah ada sejak lama, dari awal kami reading, kami kerap off script. Jadi, saya diberi adegan yang tak ada di script.  Maka, saya belajar dari situ dan kami sempat melakukan camp reading. Kita menginap di satu atap yang sama, kemudian reading selama satu minggu. Cara saya mendalami emosinya, mungkin dengan seringnya bertemu, saya merasa mereka memang keluarga saya. Jadi, tak ada perasaan yang dibuat-buat.

Satu Kakak Tujuh Ponakan cukup emosional dan dekat sama realita keluarga banyak orang. Adakah adegan yang menyentuh Anda secara personal? 

Pada saat itu, ada dua adegan yang bagi saya cukup emosional. Yang pertama adalah scene di Anyer ketika kami menginap di resort. Dulu semasa saya kecil, saya dan keluarga besar saya kerap berlibur bersama untuk arisan keluarga dan menginap di sebuah resort. Jadi, bagi saya ini cukup dekat dengan saya. Selain itu, yang bagi saya emosional adalah ketika saya melakukan salah satu adegan di suatu lokasi yang di mana pernah terjadi suatu hal di lokasi tersebut yang cukup membekas bagi saya.  

Wah, ternyata peran Anda di Satu Kakak Tujuh Ponakan cukup dekat dengan Anda. Usai kesuksesan film tersebut, Anda akan membintangi film Harga Teman. Bagaimana peran Anda di film Harga Teman?

Peran saya di Harga Teman (2026) sangat berbeda dengan Freya di dunia nyata. Banyak yang saya pelajari di Harga Teman. Saya menjadi seorang pekerja graphic designer di sebuah agensi. Kemudian, saya dipecat dan saya membangun creative agency bersama teman-teman saya. Kebetulan, saya sedang menjalani kuliah dan di semester ini, ada mata kuliah desain. Jadi, saya sudah memiliki basic-nya.  Selain itu, di film tersebut, saya pertama kali pergi ke club malam. Saya pun bertanya pada teman-teman yang juga memerankan film ini, bagaimana cara clubbing. Bahkan, saya sampai menonton video orang yang sedang clubbing. Ini saya lakukan karena ada scene di mana saya harus clubbing

Atasan, 11/10; rok, ATS The Label; anting, AIDAN AND ICE.

Bagi Anda, bagaimana kriteria film yang langsung Anda terima tawarannya? 

Tentu saya melihat dari semua sisi. Yang pertama kali saya baca adalah ceritanya. Kalau saya merasa bisa belajar sesuatu dari cerita di film itu, orang lain bisa belajar dari cerita di film itu, atau saya bisa menyuarakan sesuatu lewat film tersebut, akan menjadi poin utama bagi saya. Untuk peran, saya juga melihat terlebih dahulu karena saya ingin mengeksplorasi banyak peran. Contohnya, di Harga Teman, saya cukup bereksplorasi. Pada film itu, menjadi kali pertama saya melakukan banyak hal. Jika suatu saat ada tawaran untuk berperan di film action, saya akan terima. 

Anda sudah terjun ke industri hiburan sejak usia 12 tahun, privasi semakin berkurang. Bagaimana cara Anda menjaga privasi?

Saya adalah orang yang jarang upload di media sosial. Saking jarangnya, saya kerap di-complain orang. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak orang yang mencari tahu tentang saya. Bahkan, banyak orang yang mendapat foto saya dari akun keluarga saya, akun teman-teman saya, bahkan dari akun kampus saya. Jadi, saya merasa jika saya juga mengunggah banyak hal di media sosial, maka orang-orang jadi mengetahui hidup saya. Jadi, mungkin saya akan selalu menyaring apa yang bisa saya upload

Usia 20 tahun kerap dikaitkan dengan proses pencarian jati diri. Apa saja hal yang Anda pelajari tentang diri Anda dalam beberapa waktu belakangan ini? 

Apa yang saya pelajari tentang diri saya bahwa terkadang saya boleh egois. Kalau saya rasa saya perlu untuk bilang tidak, saya boleh bilang tidak. Mungkin, pertama kali masuk ke industri hiburan, saya selalu berkata “ya”. Namun, akhirnya saya sadar bahwa itu melelahkan. Jadi, rasanya di usia yang ke-20 ini, saya belajar untuk bilang tidak untuk menyelamatkan diri saya. Karena, kalau saya mengiyakan segala hal, belum tentu saya bisa melakukannya semua. Saya juga tidak suka hal yang tidak sepenuhnya selesai. Jadi, lebih baik saya tunda hingga saya sudah bisa mengerjakannya.

Jaket, RINDA SALMUN; kemeja dan rok, 11/10; anting, AIDAN AND ICE.

Siapa sosok yang berpengaruh untuk Anda dalam bidang musik dan akting?

Kalau di musik, SNSD, Tulus, Yura Yunita, Nadin Amizah, dan Bernadya. Saya suka cara Tulus dan Bernadya menulis lirik. Saya sempat ada single dengan Bernadya yaitu, Percik Kecil dan saya senang sekali. Karena, ini merupakan pertama kalinya saya menyanyikan lirik yang ditulis oleh Bernadya. Kalau akting, saya sangat terpengaruh oleh Yandy Laurens dan Chicco Kurniawan. Satu Kakak Tujuh Ponakan merupakan project pertama saya dengan Yandy Laurens, saya sangat nervous pada saat itu. Semua yang terlibat di film tersebut merupkan orang-orang yang sudah berpengalaman jauh dari saya. Dan untungnya, Yandy dan Chicco terus mengajarkan saya.

Let’s talk about relationship. Bagi Anda, dalam memilih seorang pasangan, lebih penting chemistry atau effort?

Menuru saya, effort lebih penting. Karena, chemistry bisa dibangun. Chemisty bisa dibangun sebanyak apapun waktu yang kita luangkan bersama. Ini selaras dengan saya, sebab love language saya adalah quality time. Menurut saya, effort sangat penting untuk di awal hubungan, setelah itu, barulah membangun chemistry.

Bagi Anda, lebih sulit mempertahankan hubungan atau membuka hati untuk orang baru?

Menurut saya, mempertahankan hubungan lebih sulit. Mempertahankan sesuatu yang kita punya dibanding mencapai hal yang baru akan lebih sulit, karena jika korelasinya seperti mimpi, rasanya banyak sekali hal yang bisa Anda pelajari setiap hari. Sejujurnya, saya belum pernah memiliki pengalaman tersebut, karena saya belum pernah pacaran. Jadi, disclaimer, jangan jadikan ini acuan, karena acuan saya dari novel dan komik, hahaha

Bagaimana perasaan dicintai yang ideal bagi seorang Freya?

Jika saya merasa dilibatkan, misalnya seperti pasangan saya suka sharing, misal tentang kehidupan atau apapun yang ia rasakan. Sebenarnya, saya tidak perlu dikabari setiap saat, karena saya juga jarang mengabarkan seseorang. Tapi, saya suka mengobrol atau sharing tentang hari yang saya jalani. Dan saya suka jika saya didengarkan dan dilibatkan. Saya jadi merasa spesial dan merasa saya exist di hidup pasangan saya.

Bagaimana kriteria pasangan yang ideal bagi Anda ketika memilih seorang pasangan?

Pokoknya fun. Misal, saya membaca komik, saya suka male character yang humoris. Saya suka laki-laki yang cool, tapi bisa lucu di depan saya. Selain itu, komunikatif, bisa diajak diskusi, dan tidak judgy juga menjadi pertimbangan saya dalam memilih pasangan.

Apa hal red flag dari seorang pasangan yang biasanya dianggap sepele, namun ternyata bisa berdampak besar?

Judgy! Memang saya tidak berpengalaman dalam menjalani hubungan percintaan, tapi saya memiliki teman lawan jenis yang sangat judgy. Jika ia kerap mengomentari seseorang, tak menutup kemungkinan saya juga akan dikomentari suatu saat nanti.

Di titik Freya sekarang, apa definisi bahagia bagi Anda?

Banyak sekali. Ketika saya bisa menjadi diri sendiri di tengah orang yang benar-benar sayang pada saya tanpa harus berpura-pura agar disayang. Atau, jika banyak makanan, saya akan bahagia.

Jika Anda bisa memberi pesan ke Freya 10 tahun lalu, apa pesan itu?

Dear, Freya usia 10 tahun… jika bisa, Anda lanjutkan draft novel yang sempat Anda tulis. Seharusnya Anda bisa mendapat portofolio dari situ. Tapi, at least Anda pernah mencoba untuk menulis dan itu menarik sekali. Karena, di usia Anda yang 20 tahun ini, Anda sedang kuliah dan ada mata pelajaran menulis. Maaf jika prosesnya tidak secepat dan semudah yang Anda pikir, tapi percayalah banyak hal yang bisa Anda syukuri. Anda bisa banyak belajar dari hal di sekitar Anda dan juga bersyukur karena banyak hal yang bisa Anda syukuri di setiap harinya. Bahkan, hal-hal kecil saja bisa menjadi acuan untuk tetap bernapas untuk keesokan harinya.

Lastly, menurut Anda, apa arti “menjadi dewasa” yang baru Anda pahami sekarang?

Menerima diri saya sendiri dan bisa bilang tidak. Mungkin, jika saya masih di usia remaja dan melihat anak seumuran saya memiliki pencapaian yang tinggi dibanding saya, saya akan insecure. Tapi yang baru saya pelajari sekarang adalah membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang tidak penting. Karena, mungkin orang lain juga membandingkan dirinya dengan orang lain lagi. Jadi, saya tak bisa bergantung dengan orang lain. Yang saya pelajari, saya bisa membandingkan diri saya sekarang dengan diri saya sebelumnya. Apa yang saya pelajari di hari kemarin dan tidak perlu dilakukan, maka tidak akan saya lakukan di hari esok. Untuk merawat dan menghargai diri sendiri adalah hal yang baru saya pelajari dan saya harap, saya bisa menjadi lebih dewasa dengan hal-hal itu.

 

Photographer: Agus Santoso Yang
Fashion Stylist: Dheniel Algamar
Text: Ellena Azisia Dianny Putri
Makeup: Jessica Windlis
Hair: Azwanur
Stylist Assistant: Elizabeth Alicia Terisno, Aurel Naila
Wardrobe: RINDA SALMUN, STUDIO JEJE, 11/10, ATS The Label
Accessories: AIDAN AND ICE