Sheila Dara: Passion di Dunia Akting yang Tak Pernah Padam

Ellena Azisia 20 Jul 2026

Berkarier di industri hiburan sejak kecil tak membuat Sheila Dara cepat berpuas diri. Ya, ia tetap mencoba berbagai hal hingga akhirnya menetapkan bahwa akting menjadi sesuatu yang ia tekuni. Komitmen dalam berseni peran tak mengkhianati usaha. Dibuktikan lewat film terbarunya, Sore: Istri dari Masa Depan (2025) yang begitu mencuri perhatian. Terlepas dari semua itu, dirinya masih merasa jauh dari kata sukses. Menandakan bahwa ia akan terus selalu memberikan yang terbaik.

Di balik sosoknya yang dikenal introvert, ternyata sosok seorang Sheila Dara adalah perempuan yang senang explore berbagai hal. Buktinya, ia terjun ke industri hiburan sejak dirinya masih kecil dan telah mencoba dunia tarik suara, menjadi host, hingga akting. Banyak yang mengira sosok Sheila itu pendiam, tetapi semua anggapan itu berubah ketika bertemu langsung dengan perempuan berzodiak Libra ini—ia begitu ekspresif serta berjiwa humoris. 

Setelah kami berbincang selama kurang lebih satu jam, Cosmo bisa menilai bahwa aktris berbakat ini selalu menjalani apa yang ada di depan mata. Namun, sikap tersebut justru meringankan beban pikirannya—ia sudah lebih dini untuk mengenal dirinya sendiri. Sheila selalu menjalani pekerjaan sesuai porsi, dengan hasil yang memuaskan. Dari obrolan yang meliputi karier serta percintaan, ada banyak perspektif baru yang Cosmo temui di balik peran-perannya di layar lebar.

Artikel ini sudah tayang di majalah Cosmopolitan edisi III 2025. 

Halo Sheila! Apa kabar? Sedang melakukan kesibukan apa belakangan ini?

Hai Cosmo! Kabar saya baik. Saat ini saya sedang sibuk menjalani promosi film terbaru saya, Sore: Istri dari Masa Depan.

Bicara tentang film terbaru Anda, bagaimana cara membangun karakter Sore versi Anda? Mengingat sudah ada webseries Sore: Istri dari Masa Depan yang diperankan oleh aktris lain.

Sore merupakan salah satu karakter yang cukup sulit saya pahami. Cara membangun karakter Sore, sama seperti bagaimana saya membangun karakter di film saya lainnya. Tentu hal pertama yang dilakukan adalah berdiskusi dengan sutradara dan penulisnya untuk mengetahui ke mana karakter tersebut membawa plot ceritanya. Saya memang menyukai webseries Sore: Istri dari Masa Depan ketika serialnya masih ongoing. Awalnya saya merasa beban, karena Sore yang diperankan oleh Tika Bravani memberikan impact yang besar untuk saya. Lantas, saya berpikir, apakah saya juga bisa memberi impact yang sama ketika memerankan Sore? Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata Sore di film dan webseries memiliki sejumlah perbedaan—seperti konflik batin dan pendewasaan dirinya. Rasanya, saya membangun karakter Sore yang baru.

Anda menyebut bahwa Sore merupakan karakter yang sulit dipahami. Lantas, bagaimana cara Anda memahami karakter tersebut?

Mulanya, cukup sulit untuk berempati dengan karakter Sore. Karena, saya tidak tahu karakter seperti Sore ini ada di dunia nyata atau tidak. Karakter Sore sendiri melewati sebuah perjalanan (lintas waktu) yang sulit saya bayangkan di dunia nyata. Selain perjalanan hidupnya, rasa cinta yang begitu besar, tak semua orang bisa memahaminya. Akhirnya, saya dan Yandy Laurens, sutradara film tersebut, mencari contoh kasus di mana seseorang yang mencintai pasangannya begitu dalam. Akhirnya, kami menemukan contoh seorang pria dari Jepang, Yasuo Takamatsu. Ia menyelam di lautan demi mencari istrinya yang tenggelam ketika bencana tsunami, meskipun kemungkinan kecil istrinya bisa ditemukan. Yasuo mengarungi lautan sejak dua tahun setelah tragedi, dan ia melakukannya setiap minggu selama bertahun-tahun. Dari situ, kami belajar untuk mencari layer-layer yang mendorong Sore untuk melakukan pilihan hidupnya.

Setelah mencoba berbagai hal di industri hiburan, apa yang membuat Anda memutuskan untuk memilih akting menjadi hal yang Anda tekuni dan lanjutkan?

Sejujurnya, cita-cita saya ketika masih kecil adalah menjadi penyanyi. Dan saya memang sudah menyanyi sejak kecil. Hingga akhirnya, ketika kuliah, saya masuk ke record label, namun saya tak sempat merilis apa-apa lantaran sibuk kuliah. Di record label tersebut, saya bertemu dengan manajer saya sekarang, ia menawarkan untuk menjadi manajer namun untuk di dunia akting. Awalnya ketika saya mulai akting untuk FTV dan sinetron, saya tak menjadikan akting sebagai pekerjaan inti. Hingga akhirnya, ketika saya shooting film Sabtu Bersama Bapak (2016), saya melihat Acha Septriasa membangun dunia karakter yang sebetulnya tidak ada di dalam script—ia melakukan improvisasi. Hal ini cukup krusial untuk memahami bagaimana cara karakter tersebut bekerja dan hidup. Dari situ, saya memahami bahwa proses pendalaman karakter merupakan esensi yang penting dan menarik. Menjadi awal di mana saya mulai jatuh cinta pada dunia akting, sehingga meyakinkan saya bahwa ini adalah hal yang akan saya lakukan.

Jika ada kesempatannya, apakah Anda ingin merilis lagu lagi?

Ketika masa pandemi COVID-19, saya pernah punya duo bersama Donne Maula, bisa dibilang, ini project iseng-iseng saja. Karena, ketika pandemi saya tidak ada shooting film, jadi saya membuat duo tersebut. Setelah saya kembali shooting, saya kembali ke prioritas utama saya yaitu akting. Jadi, mungkin saja saya akan kembali merilis lagu, jika ada waktunya.

Hampir semua genre film telah Anda perankan. Namun, Anda belum pernah berakting di film thriller dan action. Akankah Anda membintangi film dengan genre tersebut?

Tentu saya mau. Saya tidak pernah membatasi diri dengan genre film. Selama cerita dan karakternya menarik, saya pasti berminat. Jika ada kesempatannya dan memungkinkan saya bisa mempelajari skill set baru, saya akan senang untuk menerima tawarannya. Seperti di film Sore: Istri dari Masa Depan, saya belajar bahasa Kroasia. Saya senang mencoba hal baru.

Bagi Anda, apa arti kesuksesan dalam berkarier di industri film?

Wah, hingga saat ini, saya belum mengetahuinya. Namun, sepertinya selama tidak kehilangan “hunger” untuk mengeksplorasi, belajar, dan tidak kehilangan rasa bahagia setiap memulai project, ini sudah bisa disebut kesuksesan bagi saya.

Lantas, apakah Anda merasa sudah berada di titik tersebut?

Sejauh ini, mungkin bukan sukses, namun saya bersyukur masih punya kemampuan dalam bidang tersebut.

Siapa saja sosok yang menginspirasi Anda dalam berseni peran?

Semenjak shooting film Sabtu Bersama Bapak, saya sangat terinspirasi oleh Acha Septriasa. Melihat dia di set dan membedah karakter sangat membuat saya jatuh cinta dengan dunia akting. Selain Acha, tentu Christine Hakim. Karena, tak semua orang bisa melakukan karier di dunia seni peran dalam waktu yang panjang. Sepertinya tidak banyak aktor atau aktris yang kariernya sepanjang Christine Hakim. Dan saya rasa, Christine Hakim selalu total dalam berakting dan masih punya ambisi untuk mengeksplorasi berbagai hal.

Ketika menerima tawaran film, mana yang lebih penting bagi Anda, peran atau plot cerita? Seberapa selektif Anda dalam menerima tawaran film?

Saya cukup selektif dalam menerima tawaran film. Setelah menjalani berbagai project film, akhirnya saya mengetahui apa yang saya cari dan inginkan di sebuah project. Jika membahas lebih penting peran atau plot cerita, bagi saya, keduanya sama-sama penting. Jika saya tidak tertarik dengan ceritanya, maka dari mana saya menemukan joy ketika proses shooting?

Selain soal karier, sekarang Cosmo ingin membahas di mana Anda adalah salah satu sosok yang memprioritaskan pendidikan. Menurut pandangan Anda, seberapa penting pendidikan bagi kehidupan? 

Bagi saya, tentu sangat penting. Selain pendidikan merupakan salah satu kewajiban seorang anak untuk menyelesaikannya. Saya juga merasa di sekolah atau kampus membuat saya mampu bersosialisasi bersama teman-teman yang memperkaya pengalaman, yang akhirnya bisa menjadi bekal saya untuk shooting. Terlebih, masa-masa sekolah adalah masa pembentukan jati diri. Rasanya, melewati masa-masa sekolah dan kuliah adalah bekal yang penting untuk pekerjaan saya. Terlebih saya mengambil jurusan komunikasi ketika kuliah. Jadi, cukup bersinggungan dengan pekerjaan saya saat ini.

Ketika ada waktu senggang, apa yang biasanya Anda lakukan?

Menghabiskan waktu di rumah tentunya dengan orang-orang terdekat seperti suami, keluarga, dan sahabat. Apa pun kegiatannya, namun yang pasti bersama orang terdekat, dan yang terpenting adalah quality time-nya. 

Sebagai seseorang yang introvert, bagaimana cara Anda mengimbangi kehidupan personal dengan dunia hiburan yang seakan tak pernah tidur?

Cukup dengan dijalani saja. Namun bagi saya, penting untuk mengenali diri sendiri dan tahu bagaimana cara untuk bilang cukup. Karena, rasanya memang tak pernah ada habisnya, jadi harus kenali diri sendiri. Ketika merasa, “Sepertinya sudah cukup untuk hari ini,” maka saya bisa bilang, “Ok, sudah cukup untuk hari ini, ya.” Dan saatnya kembali me-recharge social battery, hahaha

Selama tiga tahun menjadi seorang istri, apa pelajaran terbesar dalam pernikahan yang Anda temukan?

Dalam hubungan pernikahan, saya percaya bahwa yang paling penting adalah komunikasi dan rasa percaya. Tentu dalam setiap hubungan ada naik dan turunnya, dan untuk menanggulanginya, adalah dengan mengomunikasikan apa yang dirasakan diri sendiri. Jika komunikasi kurang baik, maka bisa menjadi konflik. Saya sangat terbantu dengan suami saya yang mampu mengutarakan perasaannya, serta mendengar perasaan saya dengan baik.

Jika ada karakter dalam suatu film atau serial yang mampu merepresentasikan hubungan Anda dengan suami, siapa kira-kira sosok tersebut?

Bukan film, tapi serial. Lily dan Marshall dari How I Met Your Mother (2005-2014)!

Sebelum mencintai seseorang, tentu Anda sudah belajar mencintai diri sendiri. Apa saja tantangan yang selama ini Anda hadapi dalam proses penerimaan diri?

Sepertinya, saya cukup early dalam meng-embrace diri sendiri. Tak terlalu banyak kesulitannya. Hal pertama adalah, saya harus mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam diri saya, apa yang harus diperbaiki, serta apa yang harus direlakan. Dari situ, saya bisa set boundaries untuk diri sendiri. Sejauh mana saya bisa merasa cukup dan sejauh mana saya bisa bilang tidak terhadap suatu hal. Jadi, sepertinya dari situ saya belajar self-love. Tapi, rasa insecure akan tetap selalu ada, hingga saat ini saya masih berproses. 

Lastly, jika Anda bertemu dengan diri Anda dengan versi yang lebih muda, apa yang akan Anda katakan?

Saya percaya bahwa semua yang saya jalani pada masa lalu dapat membentuk saya yang sekarang. Saya cukup suka dengan saya yang sekarang. Maka, saya akan berkata. “You do you,” lakukan saja apa yang harus Anda lakukan. And of course, saya berterima kasih dengan diri saya karena bisa menjalani apa pun yang diberi. Saya merasa bersyukur.