Debut Koleksi Couture Maria Grazia Chiuri untuk Fendi! Rayakan Spirit Kebebasan
Dapatkah setelan jas, kemeja, celana panjang, dan kaftan disebut sebagai couture? Haute couture sering diidentikkan sebagai busana yang avant-garde, teatrikal, dan seringnya sulit dikenakan. Definisi tersebut tidak sepenuhnya salah. Beberapa desainer memang menghadirkan busana yang eksperimental.
Namun esensi utama haute couture adalah craftsmanship. Seorang perancang adibusana tak hanya bereksperimen dengan desain tapi juga dalam hal teknik pengerjaan. Selain itu busana couture yang dirancang juga bisa terlihat lebih wearable. Seperti terlihat di koleksi Fendi haute couture rancangan Maria Grazia Chiuri.
Merupakan koleksi haute couture perdana untuk Fendi, Maria Grazia Chiuri berfokus pada busana couture yang pragmatis. Tak berlebihan jika Fendi dalam keterangan pers mendeskripsikan koleksi ini sebagai “sartorial experimentation”. Di balik adibusana yang wearable ini terdapat eksperimen siluet, material, dan detail.
Inspirasi Fendi Haute Couture Fall 2026

Sebagai desainer yang kerap merefleksikan semangat feminisme dalam setiap rancangan, tentunya ada spirit kebebasan perempuan dalam koleksi ini. Chiuri terinspirasi dari film Histoire d’eau besutan Jacques de Bascher yang menceritakan perjalanan seorang perempuan Jerman ke Roma. Film ini sendiri awalnya hadir untuk merayakan presentasi koleksi ready-to-wear perdana Karl Lagerfeld untuk Fendi pada tahun 1977.
Tak hanya dalam bentuk fiksi, sosok perempuan turut menjadi bagian dari koleksi ini. Adalah Emilie Flöge, desainer legendaris Austria. Pengaruh Flöge terlihat pada kaftan motif geometris yang membuka peragaan.
Caftan Couture

Kaftan dengan siluetnya yang longgar dan bahan yang ringan menjadi refleksi dari semangat kebebasan yang ingin ditampilkan oleh Maria Grazia Chiuri. Sang desainer menegaskan, untuk koleksi ini siluet dibuat mengikuti bentuk tubuh. “Ide dasarnya adalah tubuhlah yang membentuk siluet, bukan sebaliknya,” ujar Chiuri seperti dikutip dari Vogue.
Kaftan hadir dalam bahan satin dan chiffon yang membuatnya mengikuti gerak tubuh. Chiuri juga memadukannya dengan jubah panjang dan membuat versi tunik dan dikenakan bersama celana panjang. Kaftan rancangannya terlihat effortless chic dan versatile, cocok untuk digunakan saat santai namun cukup elegan sebagai busana malam.
Kaftan tersebut tak hanya membebaskan tubuh tapi juga membuat perempuan lebih bebas untuk mengekspresikan diri dari aturan fashion yang kaku.
Tailoring

Maria Grazia Chiuri juga membuat setelan jas menjadi lebih rileks untuk koleksi Fendi haute couture musim gugur 2026. Blazer dibuat lebih longgar dan celana dikreasikan menggunakan bahan yang ringan. Namun ia juga menghadirkan setelan jas dalam gaya yang lebih formal dan structured.
Celana panjang menjadi busana yang cukup mendominasi. Chiuri menawarkan model high-waisted yang dikenakan bersama kemeja aksen serta bralette dan luaran.
Fur Effect

Sebagai rumah mode yang populer akan kreasi bahan bulu, material eksotis ini turut menjadi bintang utama. Bedanya, kali ini dibuat dari feathers (bulu unggas) dan juga bahan tulle sebagai perekat seperti pada mantel corak garis hitam putih.
Chiuri juga memilih model berbentuk cape yang memberi efek whimsical. Tak hanya pada busana perempuan, mantan creative director Dior tersebut juga menampilkan mantel bulu pada koleksi couture pria.

Sheer Gowns

Untuk desain gaun malam, Chiuri tampaknya lebih menyukai material transparan dan renda. Ia membuat gaun model slip, potongan V-neck, dan juga lengan panjang. Gaunnya mungkin terlihat sensual namun elegan. Kreasi paling eksperimental datang dari gaun berhiaskan fringe yang bergaya modern bohemian.
Tribute for Karl Lagerfeld and Fendi

Maria Grazia Chiuri memberikan penghormatan untuk Karl Lagerfeld dan juga Fendi dengan menggelar ulang pameran Steps Through Work. Fendi / Karl Lagerfeld. Pameran ini pertama kali diselenggarakan pada Oktober 1985. Tak hanya memajang kreasi ikonis, pameran ini juga berfokus pada proses pembuatan di baliknya.