8 Buku yang Wajib Dibaca Setelah Menonton The Odyssey Karya Christopher Nolan
Film The Odyssey karya Christopher Nolan tampaknya menjadi satu-satunya topik yang sedang dibicarakan semua orang saat ini. Mulai dari ulasan mendalam mengenai interpretasi Nolan terhadap epik Yunani legendaris hingga berbagai fan edit yang menampilkan momen-momen terbaik dari film tersebut, linimasa media sosial saya benar-benar dipenuhi konten tentang The Odyssey.
Tentu, sebuah film tidak mungkin menjelaskan setiap detail cerita—kalau iya, durasinya mungkin akan mencapai lima jam, dan bahkan itu pun rasanya masih belum cukup. Namun, jika Anda juga keluar dari bioskop dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban tentang karakter-karakter yang hanya mendapat satu atau dua adegan, buku-buku berikut bisa menjadi pintu masuk terbaik untuk mengenal kisah mereka lebih dalam.
1. The Penelopiad — Margaret Atwood

Sulit membantah bahwa Anne Hathaway tampil memukau sebagai Penelope. Namun, meski menjadi salah satu karakter utama dalam film, penonton tidak benar-benar diajak menyelami perjalanan hidup Penelope atau memahami apa yang sebenarnya ia alami selama dua puluh tahun menunggu Odysseus pulang. Di sinilah novel karya Margaret Atwood mengisi kekosongan tersebut.
Sebagai reinterpretasi feminis atas epik Homer, The Penelopiad menghadirkan kisah Penelope melalui sudut pandangnya sendiri, yang diceritakan dari alam baka. Ceritanya dimulai sejak masa kecil Penelope dan hubungan rumitnya dengan kedua orang tuanya, lalu berlanjut ke pernikahannya dengan Odysseus hingga kehidupan yang ia jalani selama sang suami pergi berperang dan mengembara.
Yang membuat novel pendek ini semakin menarik adalah hadirnya alur cerita kedua yang berasal dari dua belas pelayan perempuan yang dieksekusi Odysseus setelah kembali ke Ithaca. Dari alam baka, mereka terus menghantui Penelope dan Odysseus, menolak membiarkan keduanya melupakan apa yang telah terjadi pada mereka. Jika Anda ingin melihat dua puluh tahun penantian di Ithaca dari perspektif yang sama sekali berbeda, inilah buku yang layak dibaca.
2. Agamemnon — Aeschylus

Film The Odyssey hanya menyinggung secara singkat nasib Agamemnon setelah berhasil kembali dari Perang Troya, padahal kisahnya merupakan salah satu akhir paling tragis dalam mitologi Yunani. Faktanya, tidak banyak karya selain epik Homer yang mengulas cerita Agamemnon secara mendalam. Salah satu sumber paling penting adalah drama karya Aeschylus ini.
Agamemnon mengikuti kepulangan sang raja sebagai pahlawan perang yang baru saja menaklukkan Troya. Namun, kepulangannya tidak berlangsung lama. Ia dibunuh oleh istrinya sendiri, Clytemnestra, yang telah menghabiskan sepuluh tahun menyusun balas dendam atas pengorbanan putri mereka, Iphigenia, yang dilakukan Agamemnon sebelum perang dimulai.
Perlu diketahui, drama ini sebenarnya tidak hanya berfokus pada sosok Agamemnon, melainkan juga pada konsekuensi dari keputusan-keputusan yang ia ambil. Justru itulah alasan buku ini layak masuk dalam daftar bacaan. Dalam The Odyssey, kematian Agamemnon berkali-kali disebut sebagai peringatan bagi Odysseus—sebuah gambaran tentang apa yang bisa terjadi jika ia tidak berhati-hati saat akhirnya pulang ke rumah. Drama karya Aeschylus inilah yang menjadi sumber dari kisah peringatan tersebut.
Agamemnon juga merupakan bagian pertama dari trilogi Oresteia. Jadi, jika Anda ingin mengikuti keseluruhan siklus balas dendam yang menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam mitologi Yunani, perjalanan itu dimulai dari buku ini.
3. Circe — Madeline Miller

Salah satu karakter yang paling membuat saya penasaran adalah Circe. Saya ingin tahu lebih banyak tentang kekuatannya, bagaimana ia bisa berakhir di pulau terpencil itu, hingga seperti apa sebenarnya posisi Odysseus dalam kisah hidupnya—sesuatu yang hanya disinggung sekilas di film. Melalui novel karya Madeline Miller, pembaca akhirnya diajak mengikuti perjalanan hidup Circe secara utuh. Mulai dari masa kecilnya yang canggung dan kerap diabaikan sebagai anak dewa matahari Helios yang dianggap paling tidak istimewa, pengasingannya ke Pulau Aeaea setelah kisah cintanya yang tragis dengan manusia bernama Glaucus membuatnya dihukum, hingga transformasinya menjadi penyihir legendaris yang mengubah para prajurit Odysseus menjadi babi.
Miller juga mengeksplorasi banyak bagian cerita yang sama sekali tidak muncul dalam film. Mulai dari persahabatan Circe dengan Daedalus, hubungan eratnya dengan sang putra, Telegonus, hingga serangkaian kisah cintanya yang berakhir tragis jauh sebelum Odysseus tiba di Aeaea. Ketika akhirnya bertemu Odysseus, Circe sebenarnya telah melalui begitu banyak kehilangan sekaligus menemukan kekuatannya sendiri—lapisan cerita yang tak sempat diangkat dalam film. Novel ini bahkan mengisahkan hubungan mereka yang berlangsung selama satu tahun penuh, sesuatu yang sama sekali tidak disinggung dalam adaptasi Nolan.
4. Helen of Troy — Margaret George

Helen mungkin merupakan salah satu perempuan paling terkenal dalam mitologi Yunani. Namun, di film The Odyssey, ia nyaris tidak diberi kesempatan untuk menyuarakan kisahnya sendiri. Dalam versi Nolan, Helen lebih berfungsi sebagai pemicu pecahnya perang ketimbang karakter dengan sudut pandang yang utuh.
Novel karya Margaret George menghadirkan perspektif yang berbeda. Kisahnya dimulai sejak masa kecil Helen di Sparta sebagai putri Zeus, pernikahannya dengan Menelaus, hingga keputusan—entah atas kehendaknya sendiri atau karena paksaan, tergantung versi mitologi yang dipercaya—untuk pergi bersama Paris, sebuah peristiwa yang masih menjadi perdebatan hingga kini. Cerita ini juga tidak berhenti ketika perang dimulai. George turut mengisahkan pengepungan Troya yang berlangsung selama sepuluh tahun hingga kepulangan Helen ke Sparta setelah perang usai.
Alih-alih sekadar menjadikan Helen simbol kecantikan atau kambing hitam atas pecahnya perang, George menggambarkannya sebagai seorang perempuan yang harus mengambil keputusan-keputusan mustahil di bawah sorotan dunia. Nuansa inilah yang tidak sempat dieksplorasi dalam film. Jadi, jika Anda ingin mengenal Helen sebagai sosok yang jauh lebih kompleks daripada sekadar "wajah yang meluncurkan seribu kapal", buku ini adalah pilihan yang tepat.
5. Ithaca — Claire North

Bagi Anda yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Ithaca selama Odysseus bertarung melawan monster dan menghadapi murka para dewa, Ithaca merupakan bacaan yang sangat menarik—terutama jika dipadukan dengan The Penelopiad. Sebab, ketika Odysseus pergi, tetap ada seseorang yang harus menjaga kerajaan agar tidak runtuh. Dan justru bagian inilah yang sebagian besar dilewatkan oleh film Nolan.
Dinarasikan oleh dewi Hera, novel ini mengikuti perjuangan Penelope mempertahankan Ithaca ketika para pelamar mulai mengepung istana, bajak laut mengancam pesisir, dan hampir semua orang meyakini bahwa Odysseus telah tewas. Di tengah tekanan tersebut, Penelope harus memainkan peran sebagai janda yang berduka, sembari diam-diam mengalahkan manuver politik para pria yang berusaha merebut takhtanya. Semua dilakukan tanpa pernah membiarkan mereka menyadari bahwa Penelope selalu selangkah lebih maju.
Novel ini juga memberikan ruang yang lebih besar bagi Telemachus. Masih sangat muda, ia harus menyaksikan orang-orang asing menguasai rumah ayahnya sementara dirinya terus dianggap belum cukup dewasa untuk didengar. Alih-alih hanya menjadi pendamping Penelope, Claire North menghadirkan perjalanan pendewasaan Telemachus dengan begitu kuat—menggambarkan rasa frustasi, keraguan diri, hingga tekadnya untuk mencari tahu pemimpin seperti apa yang ingin ia menjadi tanpa bimbingan sang ayah.
Bersama Penelope, Telemachus menjadi alasan mengapa Ithaca mampu bertahan hingga Odysseus akhirnya pulang. Itulah yang menjadikan Ithaca sebagai salah satu reinterpretasi The Odyssey yang paling memuaskan, terutama bagi pembaca yang ingin melihat kisah di balik perjalanan sang pahlawan.
6. A Thousand Ships — Natalie Haynes

Kisah Perang Troya selama ini lebih sering diceritakan dari sudut pandang para pria yang bertempur di medan perang, bukan mereka yang ditinggalkan—terlebih lagi para perempuan yang sebenarnya memiliki peran penting dalam sejarah tersebut. Melalui A Thousand Ships, Natalie Haynes membalik perspektif itu.
Novel ini menghadirkan kisah dari berbagai perempuan yang hidup di tengah Perang Troya, mulai dari Helen, Clytemnestra, dan Penelope, hingga Cassandra sang peramal yang bernasib tragis, serta Penthesilea, ratu Amazon yang jarang sekali mendapat sorotan dalam kisah-kisah lain. Haynes juga memberi ruang bagi para perempuan Troya yang diperbudak, sosok-sosok yang hidupnya hancur akibat perang yang sama sekali tidak mereka pilih.
Tak hanya itu, pembaca juga akan bertemu Briseis dan sang Muse, Calliope, yang menjadi salah satu narator novel ini. Dengan nada yang jenaka, Calliope bahkan beberapa kali menunjukkan kekesalannya karena kembali diminta menyanyikan kisah tentang para pria. Dan, sejujurnya, siapa yang bisa menyalahkannya?
Dalam The Odyssey maupun The Iliad, banyak perempuan hanya muncul sebagai nama yang disebut sepintas, istri yang menunggu di rumah, atau korban perang akibat keputusan orang lain. Melalui novel ini, Haynes memberikan kedalaman karakter dan kehidupan kepada masing-masing dari mereka—sesuatu yang nyaris tidak ditemukan dalam epik aslinya. Itulah yang membuat A Thousand Ships terasa begitu memuaskan untuk dibaca.
Meski demikian, novel ini tidak sepenuhnya mengabaikan tokoh laki-laki. Menelaus juga mendapat alur ceritanya sendiri, mengikuti perjalanannya sejak Helen pergi bersama Paris hingga perjalanan panjangnya pulang ke Sparta. Di sini, Menelaus digambarkan sebagai sosok yang lebih didorong oleh harga diri yang terluka daripada patah hati—perspektif yang jauh lebih kompleks dibanding citra suami yang terzalimi seperti yang sekilas ditampilkan dalam film.
7. Waiting for Odysseus — Clemence McLaren

Novel ini kembali menempatkan para perempuan dalam kehidupan Odysseus sebagai pusat cerita. Yang membuat Waiting for Odysseus menarik adalah cara Clemence McLaren membagi kisahnya ke dalam empat bagian, masing-masing diceritakan oleh perempuan yang berbeda.
Pertama adalah Athena, dewi yang diam-diam terus mengarahkan takdir Odysseus. Lalu Circe, dengan versi singkat perjalanan hidupnya dari penyihir menjadi kekasih Odysseus. Selanjutnya Penelope yang berjuang mempertahankan Ithaca selama sang suami pergi. Terakhir adalah Eurycleia, pengasuh setia Odysseus yang justru hampir tidak pernah mendapat sorotan dalam banyak adaptasi, padahal dialah salah satu orang pertama yang langsung mengenali Odysseus ketika ia akhirnya pulang hanya dari bekas luka di tubuhnya (tentu saja, bukan dalam versi film Nolan).
Salah satu kelebihan buku ini adalah formatnya yang termasuk kategori young adult (YA), sehingga alurnya terasa cepat dan tidak dipenuhi penjelasan panjang mengenai asal-usul setiap dewa atau mitos Yunani. Jika Anda ingin memahami bagaimana perempuan-perempuan ini mengalami kisah yang sama dari sudut pandang berbeda tanpa harus membaca beberapa novel tebal sekaligus, Waiting for Odysseus adalah pilihan yang tepat.
Bagian Eurycleia sendiri sudah menjadi alasan yang cukup untuk membaca buku ini. Kehadirannya mengingatkan bahwa beberapa karakter paling setia dan penting dalam The Odyssey justru nyaris tidak mendapat ruang dalam adaptasi film.
8. Mythology — Edith Hamilton

The Odyssey menyuguhkan begitu banyak karakter, dewa, monster, dan referensi mitologi tanpa selalu menjelaskan latar belakangnya. Tidak heran jika banyak penonton merasa masih ada potongan cerita yang belum mereka pahami setelah keluar dari bioskop.
Di sinilah Mythology karya Edith Hamilton menjadi bacaan yang sangat berguna. Berbeda dengan buku-buku lain dalam daftar ini, karya Hamilton bukanlah sebuah reinterpretasi atau novel, melainkan semacam panduan lengkap mengenai mitologi Yunani. Bahkan, bisa dibilang inilah buku paling informatif bagi siapa saja yang ingin memahami dunia The Odyssey lebih jauh.
Pertama kali diterbitkan pada 1942, buku ini mengulas hampir seluruh aspek penting dalam mitologi Yunani, mulai dari para dewa Olympus, para pahlawan legendaris, kisah Perang Troya, berbagai monster terkenal, hingga mitos-mitos yang sering kali tidak muncul dalam adaptasi modern.
Jika setelah menonton film Nolan Anda masih penasaran dengan Scylla, Charybdis, Cyclops, Siren, atau makhluk-makhluk lain yang ditemui Odysseus selama perjalanannya, Mythology merupakan satu-satunya buku dalam daftar ini yang benar-benar membahas asal-usul dan kisah mereka secara mendalam.
Setiap bab disusun dengan ringkas sehingga mudah dibaca sedikit demi sedikit tanpa terasa melelahkan. Tak heran jika selama puluhan tahun buku ini tetap menjadi salah satu referensi utama dalam mempelajari mitologi Yunani.
Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Cosmopolitan India. Alih bahasa dan isi telah disesuaikan oleh penulis dan editor.