5 Tanda Kamu Terlalu Lama Mengabaikan Kebutuhan Diri Sendiri
Ada kalanya kamu begitu sibuk mengurus pekerjaan, keluarga, pasangan, atau berbagai urusan lain sampai lupa bertanya kepada diri sendiri, “sebenarnya aku butuh apa?” Hari tetap berjalan seperti biasa. Semua tanggung jawab mungkin masih bisa diselesaikan, tapi ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Kamu bahkan bisa terbiasa mengatakan “tidak apa-apa” ketika sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Mengabaikan kebutuhan diri sendiri biasanya tidak terjadi dalam satu malam. Bisa jadi kamu sudah terlalu terbiasa mendahulukan orang lain, merasa harus selalu kuat, atau menganggap istirahat sebagai sesuatu yang baru boleh dilakukan setelah semua urusan selesai. Lama-kelamaan, tubuh dan pikiran bisa mulai memberikan sinyal.
Berikut 5 tanda kamu terlalu lama mengabaikan kebutuhan diri sendiri yang mungkin perlu kamu perhatikan.
1. Kamu Selalu Merasa Harus Mendahulukan Orang Lain
Membantu orang lain tentu bukan sesuatu yang buruk. Namun, jika hampir setiap keputusan selalu dibuat berdasarkan kebutuhan orang lain sementara kebutuhanmu sendiri terus ditunda, mungkin sudah waktunya berhenti sebentar. Cobalah sesekali bertanya pada diri sendiri, “kalau aku tidak perlu memikirkan kebutuhan orang lain dulu, sebenarnya aku ingin apa?” Memberikan ruang untuk diri sendiri bukan berarti egois. Justru, kamu sedang belajar mengenali batas dan kebutuhanmu sebelum semuanya terasa terlalu berat.
2. Ketika Istirahat Justru Membuatmu Merasa Bersalah
Apakah kamu merasa harus menyelesaikan semua pekerjaan terlebih dahulu sebelum boleh beristirahat? Jika iya, mungkin kamu sudah terlalu lama menganggap istirahat sebagai hadiah, bukan kebutuhan. Padahal, tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda untuk memulihkan energi. Kamu tidak harus menunggu sampai benar-benar kelelahan untuk berhenti. Bahkan, istirahat singkat di tengah aktivitas dapat membantu mengurangi rasa lelah dan membuatmu lebih siap melanjutkan pekerjaan.
3. Kamu Sulit Mengetahui Apa yang Sebenarnya Kamu Rasakan
Ketika terlalu terbiasa mengesampingkan emosi, kamu mungkin baru menyadari sedang sedih, kecewa, atau marah ketika perasaan tersebut sudah menumpuk. Sebelumnya, semuanya mungkin hanya dijawab dengan, “aku baik-baik saja”. Padahal, mengenali emosi dapat membantumu memahami apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan. Cobalah meluangkan beberapa menit untuk bertanya kepada diri sendiri, “apa yang sedang aku rasakan?” Tidak perlu langsung mencari solusi. Kadang, menyadarinya saja sudah menjadi langkah awal untuk lebih memperhatikan diri.
4. Kamu Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Kesalahan kecil bisa terasa seperti kegagalan besar ketika kamu terbiasa menuntut diri untuk selalu kuat dan sempurna. Kamu mungkin lebih mudah memaafkan orang lain daripada dirimu sendiri. Padahal, sebuah studi yang diterbitkan dalam Applied Psychology: Health and Well-Being pada 2015 menemukan bahwa hubungan positif antara self-compassion dan kesejahteraan. Studi tersebut menggabungkan 79 sampel dengan total 16.416 partisipan. Jadi, memperlakukan diri dengan lebih lembut bukan berarti kamu berhenti berkembang. Kamu hanya memberi dirimu ruang untuk belajar tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
5. Hal yang Dulu Kamu Sukai Mulai Tidak Lagi Kamu Nikmati
Kamu mungkin masih menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi perlahan kehilangan minat pada hal-hal yang dulu membuatmu senang. Hobi mulai ditinggalkan, bertemu teman terasa melelahkan, bahkan waktu luang pun tidak lagi terasa menyenangkan. Ini bisa menjadi tanda bahwa kebutuhanmu untuk beristirahat, bersenang-senang, atau melakukan sesuatu hanya untuk diri sendiri sudah terlalu lama berada di urutan terakhir. Cobalah mengambil kembali satu aktivitas kecil yang kamu sukai tanpa harus menjadikannya produktif. Tidak semua hal dalam hidup harus menghasilkan sesuatu.
Jika 5 tanda terlalu lama mengabaikan kebutuhan diri sendiri ini relate dengan kamu bukan berarti kamu harus tiba-tiba mengubah seluruh hidup atau berhenti memedulikan orang lain. Kadang, yang kamu perlukan justru hal sederhana, seperti tidur sedikit lebih cukup, mengatakan tidak ketika memang tidak sanggup, menikmati makanan tanpa terburu-buru, atau menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu yang benar-benar kamu sukai.
Kamu juga tidak harus menunggu sampai benar-benar kehabisan energi untuk mulai memperhatikan diri sendiri. Sesekali, berhentilah dari semua tuntutan dan tanyakan kepada dirimu, apa yang kamu butuhkan hari ini. Mungkin jawabannya sederhana. Dan mungkin, mendengarkan jawaban itu adalah bentuk perhatian yang selama ini begitu mudah kamu berikan kepada orang lain, tetapi lupa kamu berikan kepada diri sendiri.