Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo Rilis Koleksi Kolaborasi! Hadir Kebaya dan Beskap Modern
Sepertinya memang tidak ada kata ‘kebetulan’ dalam pertemuan antara dua kolaborator. Yang dibutuhkan hanyalah waktu yang tepat. Seperti Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo. Setelah cukup lama saling mengenal, awalnya dalam relasi antara desainer dan selebriti yang mengenakan karyanya, hubungan keduanya kini berkembang menjadi kolaborasi untuk mengembangkan sebuah koleksi bersama.
Kolaborasi Wilsen Willim x Dian Sastrowardoyo

Bertempat di ASHTA District 8, Jakarta, pada 6 Agustus 2026, keduanya resmi merilis koleksi kolaborasi yang berangkat dari kecintaan mereka terhadap budaya Indonesia. Sebanyak 13 pakaian dihadirkan dengan mengambil inspirasi dari sejumlah busana tradisional Indonesia, mulai dari Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, atasan Janggan, Beskap, Sikepan Hussar khas prajurit Keraton Surakarta, hingga Surjan. Seluruhnya dikemas dalam pendekatan yang lebih modern melalui pilihan warna hitam, putih, dan merah.
Membuat busana bergaya tradisional yang dapat diadopsi sebagai pakaian sehari-hari sekaligus mudah dipadu-padankan menjadi salah satu tujuan utama Dian bersama Wilsen dalam menciptakan koleksi ini.

“Saya ingin kebaya bisa menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang sejuk, namun tetap menjaga nilai dan identitas budayanya,” papar Dian Sastrowardoyo saat acara private viewing luncheon bersama teman-teman terdekat di Plataran Dharmawangsa, 29 Juli 2026 lalu.
Ketika hadir di acara perilisan, pemeran Dasiyah dalam Gadis Kretek (2023) tersebut pun menunjukkan bagaimana busana tradisional dapat dikenakan dalam konteks yang lebih santai. Dian tampil dalam beskap merah yang dipadukan dengan jeans. Sebuah ide styling sederhana yang membuktikan bahwa busana seformal beskap pun dapat dikenakan secara kasual tanpa kehilangan nuansa elegannya. Gaya karakter Dasiyah sendiri turut menjadi salah satu inspirasi dari koleksi ini.

Dalam proses kreatifnya, Wilsen dan Dian saling menuangkan ide serta memberikan masukan, dengan bantuan Hagai Pakan selaku stylist. Peran Dian dalam kolaborasi ini pun tidak hanya sebagai wajah koleksi, tetapi turut terlibat dalam proses kreatif hingga kurasi rancangan.
“Pada koleksi kali ini, Kak Dian tidak hanya tampil sebagai wajah kolaborator, namun Kak Dian dan tim turut menuangkan ide dan melakukan kurasi terhadap rancangan karyaku dan tim,” jelas Wilsen Willim.

Kolaborasi keduanya rupanya belum berakhir di sini. Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo berencana merilis koleksi kolaborasi berikutnya pada Oktober 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Batik Nasional. Oh, can’t wait to see what’s next.
Heritage Reimagined

Selain merilis koleksi kolaborasi, momen ini juga menandai pembukaan pameran Heritage Reimagined, yang turut menampilkan koleksi satu dekade Wilsen Willim, Algorithm: Universal Language, yang dipamerkan pada Juli 2026 lalu.
Koleksi tersebut menampilkan interpretasi Wilsen terhadap wastra Indonesia, termasuk batik tulis Cirebon, yang diterjemahkan menjadi deretan busana dengan karakter feminin dan fierce. Menariknya, koleksi ini juga melibatkan sejumlah kolaborator lintas disiplin, seperti Peau yang menggarap aksesori kulit, Subeng Klasik mengkreasikan perhiasan, dan Boccoroco yang merancang sepatu.

Menelusuri pameran ini terasa seperti mengikuti perjalanan sebuah dialog kreatif lintas disiplin. Di mana kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi titik temu bagi insan kreatif dan menciptakan ruang bagaimana warisan budaya dapat terus dirayakan melalui karya-karya kontemporer dan kolaborasi. Pameran ini sendiri terbuka untuk umum hingga 30 Agustus 2026.