Ketika Yosafat Dwi Kurniawan Menerjemahkan Spirit Revolusi ke Dalam Mode

Rayoga Akbar 21 Aug 2026

Sejarah membuktikan bahwa ketika situasi politik memengaruhi geliat sosial masyarakat, dampaknya juga dapat terasa hingga ke dunia mode. Revolusi Prancis pada 1789, misalnya, tidak hanya mengubah tatanan pemerintahan dari monarki menjadi republik, tetapi juga mengubah gaya berpakaian dan cara masyarakat memandang mode. Dari semula para bangsawan tampil ekspresif dan glamor, gaya berpakaian perlahan bergeser menjadi lebih “simpel”.

Valerie Steele, kurator dan akademisi, dalam bukunya Paris Fashion, mencatat bagaimana para pria Prancis yang sebelumnya identik dengan wig dan busana penuh warna mulai mengadopsi gaya pria Inggris, termasuk jaket bergaya militer. Celana yang sebelumnya hanya mencapai lutut juga berubah menjadi lebih panjang dan longgar. Sementara itu, perempuan mengenakan gaun dengan potongan dada yang lebih tinggi, siluet ramping, lengan yang terekspos, serta material transparan. Mereka yang mengadopsi gaya tersebut kemudian dijuluki Incroyables untuk pria dan Merveilleuses untuk perempuan.

Mode, dengan demikian, tidak lagi sekadar menjadi simbol kemewahan, tetapi juga medium untuk menunjukkan sikap terhadap aturan dan nilai-nilai yang sebelumnya mengikat masyarakat di era monarki.

Yosafat Dwi Kurniawan

Pergerakan fashion pasca-Revolusi Prancis tersebut turut menjadi inspirasi utama koleksi terbaru Yosafat Dwi Kurniawan. Bertempat di The Langham Jakarta pada 13 Agustus 2026, Yosafat mempresentasikan koleksinya yang bertajuk Après la Révolution, yang berarti “setelah revolusi”.

Revolusi Estetika Yosafat Dwi Kurniawan

Revolusi adalah tentang keberanian melawan otoritas dan mempertanyakan tatanan yang sudah ada. Yosafat menerjemahkan spirit tersebut melalui deretan jaket dengan potongan bahu tegas. Salah satunya hadir dalam warna perak dan disebut terinspirasi dari baju zirah. Jaket-jaket tersebut dipadukan dengan celana panjang berpotongan flare maupun cropped, menciptakan permainan proporsi yang terasa lebih modern.

Yosafat Dwi Kurniawan

Di sisi lain, Yosafat menghadirkan dress berpotongan asimetris yang memberikan sisi feminin sekaligus dinamis. Meski berangkat dari referensi sejarah yang kuat, koleksi ini tidak terasa seperti kostum. Berbagai elemen tersebut justru diolah menjadi busana dengan pendekatan yang lebih modern dan relevan.

Eksperimentasi yang paling mencuri perhatian hadir lewat celana jodhpur dengan aksen slit pada bagian depan. Potongan yang biasanya diasosiasikan dengan busana berkuda tersebut tampil lebih flirty dan glamor.

Yosafat Dwi Kurniawan

Berbicara mengenai gaun, Yosafat menutup presentasi dengan deretan siluet ringan yang memberikan kesan ethereal. Di balik material dan potongan yang ringan, tetap terasa karakter fierce yang menjadi benang merah koleksi. 

Palet warna yang digunakan pun bergerak lebih lembut dari karakter Yosafat yang biasanya berani, mulai dari putih tulang, krem, biru pirus, hijau sage, biru denim, merah, hitam, hingga perak dan emas. Perubahan ini menjadi bagian dari eksplorasi baru sang desainer.

"Biasanya saat saya berkarya saya menggunakan warna mencolok dan tegas, kali ini saya mencoba sesuatu yang baru, kali ini pun saya mencoba teknik baru seperti drapery yang jarang sekali saya gunakan," jelas Yosafat.

Yosafat Dwi Kurniawan

Eksplorasi tersebut tidak berhenti pada Revolusi Prancis. Yosafat juga mengambil referensi dari Perang Vietnam, sekaligus merespons keresahan personalnya terhadap berbagai perubahan sosial dan kemanusiaan yang terjadi di sekitarnya.

"Karena perubahan sedang terjadi, tidak hanya untuk diri saya namun juga dunia," ujarnya dalam keterangan pers.

Yosafat Dwi Kurniawan

Koleksi ini juga menjadi ruang bagi Yosafat untuk keluar dari pakem estetikanya sendiri. Ia tidak sekadar menerjemahkan gagasan tentang revolusi ke dalam busana, tetapi menggunakan koleksi ini untuk mengeksplorasi pendekatan baru dalam berkarya.

"Untuk saya, ini adalah revolusi," ujar Yosafat ketika ditanya perihal pemilihan konsep dan garis rancang koleksi terbarunya. "Evolusi itu pelan, ini revolusi, saya harus beradaptasi dan berubah dengan cepat." lanjutnya.

Revolusi, bagi Yosafat, bukan sekadar soal mendobrak sesuatu yang lama. Ia juga tentang keberanian untuk berubah dan memberi ruang bagi perempuan untuk menentukan sendiri bagaimana ia ingin tampil dan mengekspresikan kebebasannya melalui mode.