SEBASTIANred Hadirkan Koleksi Terbaru Terinspirasi Novel Klasik Era 1920-an

Rayoga Akbar 24 Aug 2026

Mungkin hanya fashion yang bisa menginterpretasikan kisah fiksi romansa yang penuh drama menjadi sebuah karya yang memiliki napas baru. Seperti dibuktikan oleh duo desainer Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese dalam koleksi terbarunya untuk label SEBASTIANred.


Bertempat di The Langham Jakarta pada 12 Agustus 2026, keduanya mengaku terinspirasi dari novel La Garçonne (1922) karya Victor Margueritte. Cerita novel ini berpusat pada kisah seorang perempuan yang memulai hidup baru setelah menghadapi pengkhianatan tunangannya. Dari alur cerita yang dramatis tersebut, lahir sebuah koleksi busana yang glamor dan fierce.


Sentuhan Era 1920-an

SEBASTIANred
Era 1920-an yang menjadi latar cerita tampak terlihat pada deretan flapper dress yang elegan. Jukstaposisi gaya feminin dan maskulin ditampilkan lewat kreasi tailoring dalam siluet modern yang dipadukan bersama rok dengan aksen high slit.

Permainan tekstur dan detail juga menjadi elemen yang menarik atensi. Corak bunga memberi nuansa feminin dan lembut pada deretan midi dress. Sementara detail scarf yang menjuntai pada gaun malam menjadi aksen yang eklektik. Material lace berpadu dengan bordir dan proporsi bervolume.

SEBASTIANred

Variasi desain selalu menjadi focal point dari karya Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese, baik itu lini Sebastian Gunawan Signature maupun SEBASTIANred. Dalam koleksi ini, kamu akan menemukan gaun model flapper, blazer, gaun pendek, dan gaun malam dalam berbagai permainan detail.

Di atas kertas, keberagaman desain ini tentu punya landasan bisnis yang kuat. Namun, di satu sisi, juga menunjukkan sensibilitas keduanya dalam memahami selera konsumen.

Sebastian dan Cristina paham bahwa dalam hal berbusana, perempuan tak hanya dipengaruhi oleh tren, personal style, ataupun suasana hati, tetapi juga ada unsur psikologis yang mencerminkan aspirasi hidup mereka.

Aspirasinya mungkin beragam, namun punya benang merah yang sama, yakni kebebasan. Ketika suatu waktu perempuan memakai flapper dress dan di masa berikutnya ia memakai tailoring yang fierce, bukan hanya soal estetika, tapi juga keberaniannya dan kebebasannya untuk mendefinisikan hidupnya.