Jerawat Di Telinga, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Jerawat biasanya muncul di area yang sudah familiar, seperti dahi, pipi, atau dagu. Tapi pernahkah Babes, menemukan benjolan kecil yang tiba-tiba muncul di telinga? Meski terlihat sepele, jerawat di telinga bisa terasa jauh lebih mengganggu, bahkan menyakitkan, terutama ketika tersentuh atau tertekan oleh earbuds dan headphone.
Kabar baiknya, kondisi ini bukan sesuatu yang aneh. Jerawat di telinga cukup umum terjadi, tetapi letaknya yang sensitif dan sulit dijangkau bisa membuatnya lebih sulit untuk ditangani. Mulai dari benjolan di daun telinga hingga jerawat yang terasa nyeri di sekitar lubang telinga, mengenali penyebabnya bisa membantu kamu menentukan cara yang tepat untuk mengatasinya.
Berikut ini, Cosmo bagikan fakta mengenai jerawat di telinga. Simak ya, Babes!
1. Apa Penyebab Jerawat di Telinga?
Pernah mengira jerawat hanya muncul di wajah? Faktanya, jerawat bisa muncul hampir di seluruh bagian tubuh, termasuk telinga bagian luar dan saluran telinga. Pasalnya, area tersebut juga memiliki sel kulit, folikel rambut, dan kelenjar yang memproduksi minyak, sama seperti bagian kulit lainnya.
Jerawat muncul ketika pori-pori tersumbat oleh sel kulit mati dan sebum, yang merupakan minyak alami yang membantu menjaga kulit tetap lembap dan terlindungi. Bakteri juga dapat berperan dalam munculnya jerawat, terutama ketika kotoran dan bakteri masuk atau menempel di area telinga.
Beberapa kebiasaan dan kondisi sehari-hari yang dapat memicu pori-pori tersumbat dan jerawat antara lain:
- Paparan debu dan kotoran: Beraktivitas di lingkungan yang berdebu atau kotor dapat membuat telinga lebih sering terpapar kotoran dan bakteri.
- Produksi minyak berlebih: Kelenjar minyak di area telinga juga dapat memproduksi sebum. Jika jumlahnya berlebih, minyak dapat menumpuk dan menyumbat pori-pori.
- Earbud atau headphone yang kotor: Perangkat yang sering digunakan ini dapat menjadi tempat menumpuknya minyak, keringat, dan bakteri, yang kemudian berpindah ke kulit telinga.
- Berbagi earbud: Menggunakan earbud milik orang lain dapat meningkatkan paparan terhadap bakteri.
- Sering menyentuh telinga: Kebiasaan menyentuh atau memasukkan jari dan benda lain ke dalam telinga dapat membawa kotoran dan bakteri ke area tersebut.
- Air yang tidak bersih: Air yang mengandung bakteri dapat mengiritasi telinga dan meningkatkan risiko kondisi seperti swimmer’s ear, atau otitis eksterna.
- Stres: Tingkat stres yang tinggi dapat memengaruhi produksi minyak dan membuat kulit lebih rentan mengalami jerawat.
- Perubahan hormon: Fluktuasi hormon, termasuk yang terjadi saat pubertas, dapat meningkatkan produksi minyak dan memicu munculnya jerawat.
- Tindik telinga: Tindik yang tidak dijaga kebersihannya dapat mengalami iritasi atau infeksi sehingga menimbulkan benjolan di sekitarnya.
- Penggunaan topi dan helm: Memakainya dalam waktu lama dapat membuat panas, keringat, dan minyak terperangkap di sekitar telinga sehingga berpotensi menyumbat pori-pori.
- Produk rambut dan kecantikan: Produk tertentu dapat mengiritasi kulit atau memicu reaksi alergi jika terkena area telinga atau masuk ke saluran telinga.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua benjolan di dalam atau sekitar telinga merupakan jerawat.
Beberapa kondisi kulit lainnya dapat menimbulkan gejala yang serupa. Jika benjolan terasa sakit, terus muncul, membengkak, atau menunjukkan tanda-tanda infeksi, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.
2. Apakah Earbud dan Kotoran Telinga Bisa Memicu Jerawat?
Pernah menemukan benjolan kecil yang mengganggu di telinga setelah seharian memakai earbuds? Sebelum menyalahkan produk skincare atau bahkan kotoran telinga, ada sedikit hal yang perlu diketahui.
Meski earbuds dan kotoran telinga tidak secara langsung menyebabkan jerawat, keduanya dapat menciptakan kondisi yang membuat kulit lebih rentan mengalami iritasi dan munculnya benjolan yang menyerupai jerawat. Coba perhatikan apa yang terjadi saat earbuds dipakai selama berjam-jam.
Perangkat ini menempel cukup dekat dengan kulit sehingga dapat memerangkap keringat, minyak dan kelembapan, sementara kontak yang terus-menerus juga dapat menimbulkan gesekan dan tekanan. Jika tidak rutin dibersihkan, earbuds juga dapat menjadi tempat menumpuknya kotoran, bakteri dan kotoran telinga yang kemudian berpotensi mengiritasi kulit. Menurut Cleveland Clinic, penumpukan tersebut dapat meningkatkan risiko iritasi dan infeksi.
Lalu, bagaimana dengan kotoran telinga? Earbuds jenis in-ear dapat mengganggu proses alami telinga dalam mengeluarkan kotoran dan bahkan mendorongnya semakin jauh ke dalam saluran telinga. Namun, jangan buru-buru mengambil cotton bud, karena kotoran telinga itu sendiri bukan penyebab jerawat. Justru, kotoran telinga memiliki peran penting dalam melindungi dan menjaga kelembapan saluran telinga.
Lantas, bagaimana dengan “jerawat” yang muncul di telinga? Bisa jadi, itu sebenarnya bukan jerawat. Benjolan di dalam atau sekitar telinga terkadang merupakan folikulitis, yaitu peradangan pada folikel rambut yang dapat terlihat seperti jerawat kecil berwarna merah atau berisi nanah. Gesekan atau iritasi ringan akibat penggunaan earbuds dapat membuat kulit lebih rentan mengalami kondisi ini.
3. Cara Mengatasi Jerawat di Telinga dengan Aman
Kabar baiknya, jerawat di area telinga bisa ditangani dengan beberapa cara yang cukup lembut, terutama karena kulit di sekitar telinga cenderung lebih sensitif. Salah satu cara sederhana yang bisa dicoba adalah kompres hangat. Suhu hangat dapat membantu mengurangi peradangan dan iritasi, sekaligus melunakkan jerawat sehingga nanah lebih mudah muncul ke permukaan dan mengering dengan sendirinya.
Jika jerawat akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan, pastikan area tersebut segera dibersihkan dengan lembut menggunakan sabun yang ringan. Hindari memencet atau mengorek jerawat karena dapat menyebabkan iritasi dan berisiko memperparah infeksi.
Untuk membantu mengatasi jerawat, beberapa kandungan yang umum digunakan dalam produk perawatan kulit antara lain benzoyl peroxide, retinoid topikal, asam azelaic, asam salisilat, serta krim antibiotik tertentu. Namun, karena area telinga cukup sensitif, sebaiknya gunakan produk jerawat dengan hati-hati dan ikuti petunjuk pemakaian.
Jika jerawat tergolong parah atau tidak kunjung membaik, dokter kulit dapat merekomendasikan obat berbasis vitamin A, seperti tretinoin. Pada kasus yang sangat berat, isotretinoin juga dapat dipertimbangkan. Dokter mungkin turut meresepkan antibiotik seperti doxycycline atau minocycline, meski penggunaannya kini semakin selektif karena meningkatnya kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik.
Sementara itu, tea tree oil juga sempat diteliti sebagai bahan yang berpotensi membantu mengurangi keparahan jerawat. Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan keamanannya sebagai perawatan jerawat.
Pada akhirnya, pilihan perawatan sebaiknya disesuaikan dengan tingkat keparahan jerawat. Jika kamu sering mengalami jerawat di telinga, terasa sangat sakit, atau muncul berulang, konsultasikan dengan dokter kulit agar bisa mendapatkan rekomendasi produk maupun perawatan yang paling sesuai.
4. Kebiasaan yang Harus Dihindari saat Ada Jerawat di Telinga
Meskipun jerawat terkadang muncul tanpa bisa ditebak, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegahnya. Mulailah dengan menjaga area wajah, leher, dan telinga tetap bersih dari minyak berlebih, keringat, dan kotoran yang dapat menumpuk serta menyumbat pori-pori.
Saat membersihkan wajah, pilih pembersih dengan pH seimbang daripada sabun biasa yang bisa terlalu keras untuk kulit. Cuci wajah dengan lembut – tanpa menggosok terlalu keras – lalu tepuk-tepuk kulit hingga kering, bukan menggosok atau menariknya.
Jangan lupa juga membersihkan earbuds dan headphone secara rutin. Bersihkan secara berkala untuk menghilangkan minyak, kotoran, dan bakteri yang menumpuk dan dapat bersentuhan dengan kulit. Telinga dan kulitmu pun akan berterima kasih.
5. Kapan Jerawat di Telinga Perlu Diperiksa Dokter?
Sebagian besar jerawat di telinga sebenarnya lebih mengganggu daripada mengkhawatirkan dan biasanya bisa membaik dengan sendirinya. Namun, jika jerawat tidak kunjung membaik setelah sekitar satu minggu, terasa semakin sakit atau bengkak, hingga mengeluarkan nanah, ini saatnya kamu berkonsultasi dengan dokter.
Dalam beberapa kasus, dokter kulit atau dokter THT mungkin perlu melakukan penanganan lebih lanjut, seperti mengeluarkan cairan dari kista atau meresepkan obat bila diperlukan. Selain itu, jangan abaikan jika muncul perubahan pada pendengaran bersamaan dengan jerawat di dalam saluran telinga.
Tenaga profesional di bidang kesehatan pendengaran dapat membantu memeriksa apakah penumpukan kotoran telinga atau peradangan pada saluran telinga turut memengaruhi pendengaranmu.